Penjelasan Hadits Bukhari No. 3235 tentang Malaikat Jibril datang dalam wujud aslinya

Tentu, saya akan menjelaskan hadits ini sesuai dengan format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang kedudukan tinggi Malaikat Jibril dan bagaimana ia menyampaikan wahyu kepada Nabi ﷺ. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha menegaskan bahwa ayat tentang "mendekat dan bertambah dekat" (QS. An-Najm [53]: 8-9) merujuk pada Jibril, bukan Allah. Jibril biasanya datang dalam wujud manusia, tetapi pada peristiwa itu ia datang dalam wujud aslinya yang sangat besar hingga menutupi cakrawala.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Firman Allah yang menjadi topik pertanyaan Masruq kepada Aisyah radhiyallahu 'anha:

ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ ﴿٨﴾ فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ ﴿٩﴾

"Kemudian ia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah ia dekat (kepada Nabi) kira-kira dua busur panah atau lebih dekat lagi." (QS. An-Najm [53]: 8-9)

Hadits Terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Awal Penciptaan, Bab Jika Salah Satu Dari Kalian Mengatakan Amin... (No. 3235), dari jalur Masruq dari Aisyah radhiyallahu 'anha.

Kaitan dengan Ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan Jibril memiliki wujud asli yang berbeda dengan wujud manusia, dan bahwa Nabi ﷺ melihatnya dalam wujud aslinya dua kali, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Najm [53]: 13-14.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa para ulama sepakat bahwa yang dimaksud "mendekat dan bertambah dekat" adalah Jibril, bukan Allah, karena Allah Maha Suci dari sifat berpindah tempat dan jarak.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini adalah dalil bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dalam wujud aslinya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Kedudukan Aisyah radhiyallahu 'anha sebagai rujukan ilmu.

Masruq bin al-Ajda' (seorang tabi'in besar) bertanya langsung kepada Aisyah tentang makna ayat yang sulit dipahami. Ini menunjukkan bahwa para tabi'in merujuk kepada Ummul Mukminin dalam hal tafsir dan hadits. Al-Hasan al-Bashri dan Asy-Sya'bi (guru Masruq dalam riwayat ini) juga dikenal sebagai ulama yang mengambil ilmu dari para sahabat.

Kedua: Penjelasan tentang QS. An-Najm [53]: 8-9.

Aisyah menegaskan bahwa ayat ini berbicara tentang Jibril, bukan Allah. Ini penting karena sebagian orang mungkin salah memahami ayat ini. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Jibril mendekat kepada Nabi ﷺ lalu bertambah dekat, sehingga jaraknya seperti dua busur panah atau lebih dekat.

Ketiga: Jibril memiliki wujud asli yang agung.

Aisyah menjelaskan bahwa Jibril biasa datang kepada Nabi ﷺ dalam wujud seorang laki-laki (yaitu wujud Dihyah al-Kalbi, seorang sahabat yang tampan). Namun pada peristiwa itu, Jibril datang dalam wujud aslinya yang sangat besar hingga menutupi seluruh cakrawala. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini terjadi di gua Hira atau di tempat lain, dan bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dalam wujud aslinya dua kali: sekali di awal wahyu dan sekali lagi saat Isra' Mi'raj.

Keempat: Perbedaan pendapat ulama.

Sebagian ulama seperti Ibnu Abbas (dalam riwayat lain) memahami ayat ini sebagai kedekatan Allah dengan Nabi ﷺ. Namun Aisyah radhiyallahu 'anha mengoreksi pemahaman ini dan menegaskan bahwa itu adalah Jibril. Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menguatkan pendapat Aisyah karena beliau adalah orang yang paling tahu tentang Nabi ﷺ dan peristiwa wahyu.

Kelima: Kaitan dengan judul bab.

Judul bab yang disebutkan Imam Al-Bukhari ("Bab Jika Salah Satu Dari Kalian Mengatakan Amin...") tampaknya tidak langsung terkait dengan isi hadits ini. Ini adalah metode Al-Bukhari yang kadang menyebut bab dengan hadits lain yang relevan, atau mungkin ada kesalahan dalam penomoran. Yang jelas, hadits ini berdiri sendiri sebagai penjelasan tafsir ayat.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Masruq bin al-Ajda' (wafat 63 H), seorang tabi'in mulia dari Kufah, melakukan perjalanan jauh untuk bertanya kepada Aisyah radhiyallahu 'anha. Ia adalah murid dari Abdullah bin Mas'ud dan dikenal sebagai ulama yang teliti.

Suatu hari, Masruq bertanya kepada Aisyah tentang ayat yang membingungkan banyak orang: "Kemudian ia mendekat dan bertambah dekat." Aisyah menjawab dengan tegas: "Itu adalah Jibril. Ia biasa datang kepada Nabi ﷺ dalam wujud seorang laki-laki. Tetapi pada kesempatan itu, ia datang dalam wujud aslinya, dan ia sangat besar hingga menutupi seluruh cakrawala."

Aisyah radhiyallahu 'anha adalah orang yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling memahami peristiwa-peristiwa wahyu. Jawabannya ini menjadi rujukan utama para ulama seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan an-Nawawi dalam menafsirkan ayat tersebut. Kisah ini mengajarkan kita pentingnya merujuk kepada ahlinya dalam memahami Al-Qur'an, dan bahwa para istri Nabi ﷺ adalah sumber ilmu yang agung.

Kesimpulan Praktis

  1. Pahami ayat dengan rujukan yang benar. QS. An-Najm [53]: 8-9 berbicara tentang Jibril, bukan Allah. Ini adalah pemahaman yang ditegaskan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha dan diikuti oleh ulama seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan an-Nawawi.
  2. Hormati kedudukan malaikat. Jibril adalah malaikat yang agung, yang menyampaikan wahyu kepada para nabi. Wujud aslinya sangat besar dan menakjubkan.
  3. Belajarlah dari para ulama. Para tabi'in seperti Masruq dan Asy-Sya'bi menempuh perjalanan jauh untuk belajar. Kita pun hendaknya bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
  4. Berhati-hati dalam menafsirkan Al-Qur'an. Jangan menafsirkan ayat hanya berdasarkan akal atau pemahaman sendiri, tetapi rujuklah kepada tafsir para ulama yang mu'tabar.
  5. Doa: Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?