Penjelasan Hadits Bukhari No. 3232 tentang Nabi melihat Jibril dengan enam ratus sayap

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang peristiwa agung ketika Nabi ﷺ melihat Malaikat Jibril dalam wujud aslinya dengan 600 sayap, yang berkaitan dengan ayat tentang jarak "dua busur panah atau lebih dekat" dalam Surah An-Najm. Hadits ini menegaskan kebesaran makhluk Allah berupa malaikat dan kebenaran wahyu yang disampaikan melalui Jibril. Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menyampaikan hal ini sebagai penjelasan langsung tentang penglihatan Nabi ﷺ terhadap Jibril.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ

"Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) pada waktu yang lain." (QS. An-Najm [53]: 13)

فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ

"Maka jaraknya (Jibril dengan Muhammad) adalah dua busur panah atau lebih dekat lagi." (QS. An-Najm [53]: 9)

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Bad'ul Khalq (Permulaan Penciptaan), dari jalur Abu Ishaq Asy-Syaibani dari Zir bin Hubaish dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil kuat bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dalam wujud aslinya, dan bahwa Jibril memiliki 600 sayap. Ini juga dikuatkan oleh riwayat lain dalam Shahih Muslim.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini berisi penjelasan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu tentang makna ayat-ayat awal Surah An-Najm, khususnya tentang peristiwa Isra' Mi'raj atau penglihatan Nabi ﷺ terhadap Jibril. Ketika Zir bin Hubaish bertanya tentang makna "فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ", Ibnu Mas'ud menjawab bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dengan 600 sayap.

Pemahaman ulama:

  1. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab tentang penglihatan Nabi ﷺ terhadap Jibril, menunjukkan bahwa ini adalah bagian dari aqidah tentang kebenaran wahyu dan kemuliaan malaikat.
  2. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang dilihat Nabi ﷺ pada peristiwa itu. Jumhur ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menyatakan bahwa yang dilihat adalah Jibril dalam wujud aslinya, dan ini terjadi dua kali: sekali di awal kenabian (di gua Hira) dan sekali lagi pada malam Isra' Mi'raj.
  3. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits tentang 600 sayap Jibril adalah shahih dan tidak boleh ditakwil secara berlebihan. Ini termasuk perkara ghaib yang wajib kita imani.
  4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat "قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ" menggambarkan kedekatan luar biasa antara Jibril dan Nabi ﷺ saat menyampaikan wahyu, menunjukkan betapa agungnya proses turunnya wahyu.
  5. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling mengetahui tentang peristiwa ini karena kedekatannya dengan Nabi ﷺ dan keilmuannya yang tinggi.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dilihat Nabi ﷺ adalah Allah, namun jumhur ulama Ahlus Sunnah menolak ini karena Allah tidak dapat dilihat di dunia (berdasarkan QS. Al-An'am [6]: 103). Pendapat yang paling kuat adalah yang dilihat adalah Jibril, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Mas'ud, Aisyah, dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang mulia dan ahli tafsir Al-Qur'an, pernah ditanya oleh Zir bin Hubaish tentang makna ayat "فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ". Ibnu Mas'ud menjawab dengan tegas bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dengan 600 sayap.

Ibnu Mas'ud adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan termasuk qurra' (ahli baca Al-Qur'an) yang utama. Nabi ﷺ sendiri pernah memuji bacaan Ibnu Mas'ud. Karena itu, penjelasannya tentang ayat ini memiliki bobot ilmiah yang sangat tinggi.

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda bahwa Jibril pernah datang kepadanya dalam wujud aslinya dan memenuhi ufuk langit dengan 600 sayapnya. Ini menunjukkan betapa agungnya malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu.

Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita untuk menerima perkara ghaib dengan iman, tanpa menolak atau menakwil secara berlebihan. Kita juga belajar dari keilmuan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu yang berani menjawab dengan dalil yang jelas.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada malaikat adalah bagian dari rukun iman. Kita wajib meyakini keberadaan Jibril dan kemuliaannya sebagai pembawa wahyu.
  2. Perkara ghaib seperti wujud asli malaikat dan jumlah sayapnya adalah hal yang tidak dapat dijangkau akal, namun wajib diimani berdasarkan dalil shahih.
  3. Mengikuti pemahaman salaf seperti Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an, tanpa menakwil secara berlebihan atau menolak hadits shahih.
  4. Mempelajari tafsir dari ulama terpercaya seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan As-Sa'di untuk memahami ayat-ayat yang berkaitan dengan perkara ghaib.
  5. Menjauhi perdebatan yang tidak bermanfaat tentang perkara ghaib, dan fokus pada amal shaleh serta taat kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?