Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan kedermawanan beliau memuncak di bulan Ramadan, terutama saat bertemu Jibril untuk saling menyimak dan mengulang Al-Qur'an. Jadi Ramadan adalah bulan Al-Qur'an, bulan kedermawanan, dan bulan kebersamaan dengan wahyu. Semakin dekat seseorang dengan Al-Qur'an, semakin terbuka hatinya untuk berbagi kebaikan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Permulaan Penciptaan, Bab Menyebutkan Para Malaikat, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dengan sanad: Muhammad bin Muqatil → Abdullah (bin al-Mubarak) → Yunus → Az-Zuhri → Ubaidullah bin Abdullah → Ibnu Abbas. Imam Al-Bukhari juga menyebut riwayat serupa dari Abu Hurairah dan Fathimah radhiyallahu 'anhuma bahwa Jibril "yu'aridhuhu Al-Qur'an" (menyimak/mengulang Al-Qur'an bersama Nabi ﷺ).
Ayat yang sangat berkaitan dengan keutamaan membaca dan menyimak Al-Qur'an di bulan Ramadan:
QS. Al-Baqarah [2]: 185
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Terjemahan ringkas: "Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)."
Ayat tentang kedermawanan dan berbagi:
QS. Al-Baqarah [2]: 261
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Terjemahan ringkas: "Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui."
Kaitan dengan ulama daftar:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang, di antaranya: kedermawanan Nabi ﷺ bertambah di Ramadan karena kemuliaan waktu, karena Al-Qur'an dibaca dan disimak, dan karena Jibril hadir.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (pada hadits serupa) menyebutkan anjuran memperbanyak tadarus Al-Qur'an dan sedekah di bulan Ramadan.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menegaskan Ramadan adalah musimnya Al-Qur'an dan sedekah, dan bahwa kedermawanan Nabi ﷺ di bulan itu melebihi angin yang berhembus membawa hujan dan kebaikan.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya sering mengaitkan ayat-ayat infak dengan keutamaan sedekah di waktu-waktu mulia, termasuk Ramadan.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menekankan bahwa Nabi ﷺ paling banyak berbuat baik di Ramadan, dan bahwa tadarus Al-Qur'an bersama Jibril adalah bentuk tarbiyah rabbaniyah.
Penjelasan Rinci
1) Makna "ajwad an-nas" (manusia paling dermawan).
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa "jūd" (kedermawanan) Nabi ﷺ mencakup: memberi harta, memberi ilmu, memberi nasihat, memberi maaf, dan memberi manfaat dengan tenaga serta doa. Jadi kedermawanan beliau bukan hanya soal uang, tetapi seluruh kebaikan. Beliau tidak pernah menolak permintaan yang halal, dan beliau lebih senang memberi daripada menerima.
2) Mengapa Ramadan menjadi puncak kedermawanan?
Ibnu Rajab menyebutkan beberapa sebab:
- Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 185), dan Al-Qur'an adalah sumber hidayah dan rahmat. Orang yang dekat dengan Al-Qur'an akan dekat dengan kasih sayang kepada makhluk.
- Jibril turun setiap malam menemani Nabi ﷺ bertadarus. Kehadiran malaikat mulia ini menambah keberkahan dan semangat berbuat baik.
- Ramadan adalah bulan di mana pahala dilipatgandakan, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu neraka ditutup (sebagaimana hadits-hadits shahih lain). Maka orang beriman berlomba dalam kebaikan.
3) Makna "yudarisuhu Al-Qur'an" (saling menyimak Al-Qur'an).
Az-Zuhri dan Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Jibril "yudarisuhu" dan "yu'aridhuhu" Al-Qur'an. Para ulama menjelaskan:
- Nabi ﷺ membaca, Jibril menyimak; atau sebaliknya. Ini menunjukkan pentingnya tadarus (membaca dan menyimak Al-Qur'an bersama).
- Imam an-Nawawi menyimpulkan: dianjurkan berkumpul untuk membaca dan menyimak Al-Qur'an, terutama di Ramadan, karena itu sunnah Nabi ﷺ dan para salaf.
- Ibn Qayyim menyebut bahwa tadarus ini adalah "mudarasah" antara guru dan murid, antara penyampai dan penerima wahyu, yang menguatkan hafalan, pemahaman, dan amal.
4) Makna "ajwadu bil-khairi min ar-rih al-mursalah" (lebih dermawan daripada angin yang berhembus).
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa angin yang berhembus (ar-rih al-mursalah) membawa hujan, menyebarkan benih, dan memberi manfaat luas tanpa pilih kasih. Demikian pula kedermawanan Nabi ﷺ: cepat, luas, menyeluruh, dan membawa kehidupan. Ibn Rajab menambahkan: angin yang berhembus tidak pernah berhenti memberi manfaat, begitu pula sedekah Nabi ﷺ tidak pernah berhenti mengalir.
5) Perbedaan pendapat ulama daftar.
Tidak ada perbedaan pokok di antara ulama daftar tentang keutamaan hadits ini. Yang ada hanya perbedaan penekanan:
- Ibnu Hajar menekankan sisi kemuliaan waktu Ramadan dan tadarus.
- Ibn Rajab menekankan sisi sedekah dan infak di Ramadan.
- An-Nawawi menekankan sisi adab membaca dan menyimak Al-Qur'an.
- Ibn Qayyim menekankan sisi tarbiyah Nabi ﷺ dengan wahyu.
Semuanya sepakat: Ramadan adalah bulan Al-Qur'an, bulan sedekah, dan bulan meneladani Nabi ﷺ.
6) Faedah lain dari hadits.
- Anjuran memperbanyak sedekah di Ramadan, meski sedikit, karena Nabi ﷺ mencontohkan.
- Anjuran tadarus Al-Qur'an bersama keluarga atau teman, bukan hanya membaca sendiri.
- Anjuran menyimak Al-Qur'an, bukan hanya membaca. Menyimak adalah ibadah yang sering dilupakan.
- Anjuran memuliakan waktu dan memuliakan orang shalih (seperti Jibril yang menemani Nabi ﷺ).
Story Telling
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bercerita: "Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau paling dermawan ketika Ramadan, saat Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadan, lalu keduanya saling menyimak Al-Qur'an. Sungguh, Rasulullah ﷺ ketika bertemu Jibril lebih dermawan daripada angin yang berhembus."
Bayangkan suasana itu: malam-malam Ramadan di kota Makkah atau Madinah, Nabi ﷺ duduk bersama Jibril, malaikat mulia yang menyampaikan wahyu. Mereka membaca dan menyimak Al-Qur'an. Setelah itu, Nabi ﷺ keluar dan membagikan kebaikan kepada manusia. Beliau memberi makan orang lapar, menolong yang lemah, memaafkan yang bersalah, dan mengajarkan ilmu. Itulah teladan Ramadan.
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa sebagian salaf, seperti Abdullah bin al-Mubarak (yang juga ada dalam sanad hadits ini), dikenal sangat dermawan di Ramadan. Beliau membagikan harta, makanan, dan ilmu kepada banyak orang. Demikian pula Al-Awza'i dan Al-Layts bin Sa'd dikenal sebagai ulama yang pemurah, terutama di bulan Ramadan.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak sedekah di Ramadan, sekecil apa pun, karena Nabi ﷺ mencontohkannya.
- Hidupkan tadarus Al-Qur'an: membaca, menyimak, dan mengulang bersama keluarga atau teman.
- Jadikan Ramadan bulan berbagi ilmu, nasihat, dan manfaat, bukan hanya berbagi harta.
- Teladani akhlak Nabi ﷺ: cepat memberi, luas manfaatnya, dan tidak menunda kebaikan.
- Muliakan waktu-waktu mulia dengan ibadah dan kebaikan, karena pahala dilipatgandakan.
- Jauhi sifat kikir dan menunda kebaikan, karena kedermawanan adalah ciri orang beriman.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.