Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan tentang perjalanan matahari setelah terbenam, yaitu ia bersujud di bawah ‘Arsy Allah dan meminta izin untuk terbit kembali. Ini adalah salah satu tanda kekuasaan Allah yang agung. Hadits ini juga mengabarkan bahwa kelak di akhir zaman, matahari akan diperintahkan untuk terbit dari barat sebagai salah satu tanda besar hari kiamat, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah tentang perjalanan matahari menuju waktu yang telah ditetapkan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
"Dan matahari berjalan pada jalur tetap untuk suatu waktu yang ditentukan. Itulah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui." (QS. Ya-Sin [36]: 38)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Permulaan Penciptaan, Bab Sifat Matahari dan Bulan, no. 3199, dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan bahwa makna limustaqarrin laha adalah matahari berjalan menuju waktu yang telah ditetapkan, yaitu berakhirnya perjalanan ini dengan terbit dari barat sebagai tanda kiamat. Beliau mengutip hadits ini sebagai penjelasan langsung dari Nabi ﷺ tentang makna ayat tersebut.
- Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim (bab sifat matahari) menegaskan bahwa sujudnya matahari adalah sujud yang hakiki sesuai dengan keagungan Allah, dan ini termasuk perkara gaib yang wajib diimani tanpa menanyakan bagaimana caranya.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari (syarah Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa matahari adalah makhluk yang berakal dan tunduk kepada perintah Allah, dan peristiwa terbit dari barat adalah salah satu tanda kiamat yang pasti terjadi.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
- Sujudnya Matahari di Bawah ‘Arsy:
Para ulama seperti Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa sujud di sini adalah sujud yang hakiki, yaitu bentuk ketundukan dan peribadatan makhluk kepada Allah. Matahari, seperti seluruh makhluk, memiliki kesadaran untuk taat kepada Penciptanya. Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Fath al-Bari juga menegaskan bahwa ini adalah salah satu bentuk ibadah makhluk yang tidak kita ketahui hakikatnya, tetapi kita wajib mengimaninya.
- Izin untuk Terbit Kembali:
Setiap hari matahari meminta izin kepada Allah untuk terbit. Ini menunjukkan bahwa alam semesta berjalan dengan izin dan pengaturan Allah setiap saat. Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) dalam riwayat yang dinukil oleh Ibnu Katsir berkata, "Matahari adalah salah satu ayat Allah yang berjalan dengan perintah-Nya, dan ia akan terus berjalan hingga hari kiamat."
- Tanda Kiamat: Terbit dari Barat:
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna limustaqarrin laha adalah waktu yang telah ditentukan bagi matahari untuk berhenti berjalan dari timur dan mulai terbit dari barat. Ini adalah salah satu tanda besar kiamat yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih lainnya. Imam al-Bukhari sendiri meriwayatkan hadits ini dalam bab yang menunjukkan bahwa peristiwa ini adalah bagian dari takdir Allah yang pasti terjadi.
- Tafsir Ayat 38 Surah Ya-Sin:
Ibnu Katsir mengutip pendapat Mujahid (w. 104 H) dan Qatadah (w. 117 H) bahwa mustaqarr di sini berarti waktu yang telah ditetapkan, yaitu ketika matahari akan terbit dari barat. Ibnu ‘Abbas (yang meskipun tidak dalam daftar, namun pendapatnya sering dinukil oleh ulama daftar) juga mengatakan bahwa mustaqarr adalah tempat perjalanan matahari di bawah ‘Arsy.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, suatu hari beliau bersama Nabi ﷺ saat matahari terbenam. Nabi ﷺ bertanya, "Wahai Abu Dzar, tahukah kamu ke mana perginya matahari?" Abu Dzar menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya ia pergi hingga bersujud di bawah ‘Arsy, lalu meminta izin, dan diizinkan (untuk terbit kembali). Dan hampir tiba waktunya ia bersujud tetapi tidak diterima, dan meminta izin tetapi tidak diizinkan. Dikatakan kepadanya, 'Kembalilah dari mana engkau datang.' Maka ia terbit dari barat. Itulah makna firman Allah: 'Dan matahari berjalan pada jalur tetap untuk suatu waktu yang ditentukan.'" (HR. Bukhari, no. 3199)
Hikmah:
Kisah ini mengajarkan kita untuk merenungkan kebesaran Allah dalam mengatur alam semesta. Matahari yang kita lihat setiap hari adalah makhluk yang tunduk dan patuh kepada perintah-Nya. Ia tidak pernah membangkang, tidak pernah terlambat, dan tidak pernah berhenti beribadah kepada Allah dengan caranya sendiri. Ini menjadi pelajaran bagi kita manusia, yang seharusnya lebih taat dan bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kita akal dan petunjuk.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada yang gaib: Kita wajib mengimani bahwa matahari adalah makhluk yang beribadah kepada Allah dengan cara bersujud di bawah ‘Arsy, meskipun kita tidak melihatnya.
- Tanda kiamat: Terbitnya matahari dari barat adalah salah satu tanda besar hari kiamat yang pasti terjadi. Ini mengingatkan kita untuk selalu bertaubat dan mempersiapkan diri.
- Tadabbur ayat: Ayat tentang perjalanan matahari (QS. Ya-Sin: 38) bukan hanya sekadar informasi ilmiah, tetapi juga mengandung pesan keimanan tentang kekuasaan Allah dan kepastian hari akhir.
- Ketaatan makhluk: Matahari yang selalu patuh kepada Allah menjadi contoh bagi kita untuk senantiasa taat kepada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.