Penjelasan Hadits Bukhari No. 3198 tentang Larangan mengambil tanah secara zalim dan ancamannya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang larangan mengambil hak orang lain berupa tanah, meskipun hanya sejengkal. Orang yang berbuat zalim dengan mengambil tanah milik orang lain secara tidak benar akan dihukum pada hari kiamat dengan cara dikalungkan (diikatkan) di lehernya tanah dari tujuh lapis bumi yang ia zalimi. Ini menunjukkan betapa besarnya dosa memakan hak orang lain, terutama dalam urusan tanah dan harta.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

حَدَّثَنِي عُبَيْدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ، أَنَّهُ خَاصَمَتْهُ أَرْوَى فِي حَقٍّ زَعَمَتْ أَنَّهُ انْتَقَصَهُ لَهَا إِلَى مَرْوَانَ، فَقَالَ سَعِيدٌ أَنَا أَنْتَقِصُ مِنْ حَقِّهَا شَيْئًا، أَشْهَدُ لَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ " مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنَ الأَرْضِ ظُلْمًا، فَإِنَّهُ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ "

Terjemahan: Dari Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail radhiyallahu 'anhu: Arwa mengadukannya di hadapan Marwan untuk hak yang dia klaim telah dia ambil darinya. Sa'id berkata: "Bagaimana aku bisa mengambil haknya? Aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Jika seseorang mengambil seukuran tanah secara zalim, lehernya akan dikalungkan dengan tanah itu dari tujuh bumi pada Hari Kebangkitan.'"

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan redaksi yang serupa.

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. An-Nisa' [4]: 29

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil."

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung ancaman yang sangat berat bagi orang yang mengambil tanah orang lain secara zalim. Mari kita pahami beberapa poin penting:

1. Konteks Hadits

Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail adalah salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga. Beliau dituduh oleh seorang wanita bernama Arwa telah mengurangi haknya atas sebidang tanah. Ketika diadukan kepada Marwan bin Al-Hakam yang saat itu menjadi gubernur Madinah, Sa'id justru bersumpah bahwa ia tidak mungkin berbuat zalim, karena ia sendiri mendengar langsung sabda Nabi ﷺ tentang ancaman berat bagi pengambil tanah secara zalim.

2. Makna "Dikalungkan dari Tujuh Bumi"

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah Allah akan menghukum orang yang zalim tersebut dengan menjadikan tanah yang ia zalimi sebagai beban yang dikalungkan di lehernya pada hari kiamat, sebagai bentuk penghinaan dan balasan yang setimpal. Ini menunjukkan bahwa dosa tersebut tidak akan diampuni kecuali dengan mengembalikan hak kepada pemiliknya atau meminta maaf kepadanya.

3. Tafsir "Tujuh Bumi"

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah menciptakan tujuh lapis bumi sebagaimana tujuh lapis langit. Ini berdasarkan firman Allah dalam QS. Ath-Thalaq [65]: 12:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ

"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan dari bumi seperti itu pula."

Maka ketika seseorang mengambil tanah meskipun hanya sejengkal secara zalim, ia seakan-akan telah menzalimi seluruh lapisan bumi tersebut, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruhnya.

4. Pelajaran dari Sikap Sa'id bin Zaid

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa sikap Sa'id bin Zaid yang tegas menolak tuduhan tersebut menunjukkan betapa seorang mukmin yang benar-benar memahami ajaran Nabi ﷺ akan sangat berhati-hati dalam urusan hak orang lain. Beliau tidak marah karena tuduhan itu, tetapi justru menjelaskan dengan tenang bahwa ia tidak mungkin melakukan hal tersebut karena takut akan ancaman Allah.

5. Hukum Mengambil Hak Orang Lain

Para ulama sepakat bahwa mengambil harta atau hak orang lain tanpa izin adalah dosa besar. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa kezaliman dalam bentuk apapun, terutama yang berkaitan dengan harta dan tanah, termasuk perkara yang paling berat hisabnya di akhirat. Karena itu, seorang muslim harus sangat berhati-hati dalam urusan muamalah dan tidak meremehkan hak orang lain meskipun kecil.

Story Telling

Ada kisah yang sangat terkenal dari Salafus Shalih tentang kehati-hatian mereka dalam urusan hak orang lain. Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah sangat berhati-hati dalam urusan harta. Beliau pernah berkata: "Aku lebih suka kehilangan seluruh hartaku daripada memakan satu dirham dari harta orang lain secara tidak benar." Beliau juga sering menangis ketika mengingat hadits tentang orang yang dikalungkan dengan tanah yang ia zalimi pada hari kiamat.

Kisah lain datang dari Sa'id bin Al-Musayyib rahimahullah, seorang ulama besar tabi'in. Beliau sangat terkenal dengan kehati-hatiannya dalam urusan harta dan hak orang lain. Beliau pernah berkata: "Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat di timbangan seorang hamba pada hari kiamat selain menjaga diri dari memakan harta orang lain secara zalim."

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memahami betapa besarnya dosa mengambil hak orang lain, dan mereka menjadikan hadits-hadits Nabi ﷺ sebagai pedoman hidup yang benar-benar mereka amalkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah meremehkan hak orang lain, meskipun hanya sejengkal tanah atau sekecil apapun bentuknya.
  2. Jika kita pernah mengambil hak orang lain, segeralah mengembalikannya atau meminta maaf sebelum datang hari kiamat, karena di akhirat tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki.
  3. Berhati-hatilah dalam urusan muamalah, terutama yang berkaitan dengan tanah, warisan, batas lahan, dan hak-hak tetangga.
  4. Jadikan sikap Sa'id bin Zaid sebagai teladan — seorang mukmin yang benar-benar memahami ajaran agamanya akan sangat menjaga diri dari perbuatan zalim.
  5. Perbanyak istighfar dan taubat jika kita pernah melakukan kezaliman, karena Allah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang mau kembali kepada-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?