Penjelasan Hadits Bukhari No. 3190 tentang Kabar gembira bagi yang menerima, kisah penciptaan dan Arsy

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab menerima kabar gembira dengan syukur, bukan dengan menuntut lebih, serta menunjukkan betapa pentingnya ilmu tentang permulaan penciptaan dan Arsy Allah. Nabi ﷺ mengalihkan perhatian kepada orang-orang Yaman yang menerima kabar gembira dengan baik, lalu mulai mengajarkan ilmu tauhid yang agung. Imran bin Husain رضي الله عنه sangat menyesal karena meninggalkan majelis ilmu tersebut hanya karena urusan untanya lepas.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

Allah Ta'ala berfirman:

هُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ ۚ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya (kembali), dan itu sangat mudah bagi-Nya. Dan milik-Nyalah sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Ar-Rum [30]: 27)

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Permulaan Penciptaan, Bab Apa yang Dikatakan dalam Firman Allah: "Dialah yang Memulai Penciptaan Kemudian Mengulanginya," nomor 3190. Perawi sahabat: Imran bin Husain رضي الله عنه.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk adab Nabi ﷺ dan pentingnya majelis ilmu.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menekankan keutamaan menerima kabar gembira dan adab bermajelis.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna "memulai penciptaan dan mengulanginya" sebagai penetapan kebangkitan setelah kematian.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Adab menerima kabar gembira.

Nabi ﷺ menyampaikan kabar gembira kepada Bani Tamim — yaitu kabar tentang Islam, iman, dan pahala Allah. Namun mereka menjawab dengan nada menuntut: "Engkau telah memberi kami kabar gembira, sekarang berikanlah sesuatu kepada kami." Ini menunjukkan kurangnya adab mereka. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perubahan wajah Nabi ﷺ menunjukkan ketidaksenangan beliau terhadap sikap mereka yang tidak menghargai kabar gembira yang jauh lebih berharga daripada harta dunia.

Kedua: Keutamaan orang-orang Yaman.

Ketika Nabi ﷺ menawarkan kabar gembira kepada orang-orang Yaman, mereka langsung menerimanya dengan penuh kerendahan hati. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini menunjukkan keutamaan menerima kebenaran dengan segera tanpa menunda atau menuntut imbalan duniawi.

Ketiga: Ilmu tentang permulaan penciptaan dan Arsy.

Nabi ﷺ mulai menceritakan tentang bad'ul khalq (permulaan penciptaan) dan Arsy Allah. Ini adalah ilmu tauhid yang paling agung, karena mengenal Allah melalui ciptaan-Nya dan mengetahui keagungan Arsy-Nya. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan tafsirnya menegaskan bahwa membahas permulaan penciptaan adalah bagian dari iman kepada Allah dan hari akhir, karena Allah yang mampu menciptakan pertama kali pasti mampu mengulanginya (kebangkitan).

Keempat: Penyesalan Imran bin Husain.

Imran رضي الله عنه bangkit dari majelis karena untanya lepas, tetapi kemudian menyesal dan berharap tidak meninggalkan majelis Nabi ﷺ. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini menunjukkan betapa besar keutamaan majelis ilmu Nabi ﷺ, sampai-sampai urusan duniawi yang mendesak pun tidak sebanding dengan kehilangan ilmu darinya.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama yang tercantum mengenai makna hadits ini. Mereka sepakat bahwa hadits ini mengajarkan adab, keutamaan ilmu, dan penetapan tauhid.

Story Telling

Kisah Imran bin Husain رضي الله عنه:

Imran bin Husain adalah seorang sahabat yang dikenal zuhud dan wara'. Suatu ketika, ia duduk di majelis Nabi ﷺ bersama orang-orang Yaman. Nabi ﷺ sedang menceritakan tentang permulaan penciptaan dan Arsy Allah — ilmu yang sangat agung yang jarang beliau sampaikan secara terbuka. Di tengah penjelasan yang penuh berkah itu, seseorang datang dan berkata, "Wahai Imran! Untamu telah lepas!"

Imran رضي الله عنه bangkit dan pergi meninggalkan majelis. Namun setelah itu, ia sangat menyesal dan berkata, "Aku berharap aku tidak berdiri (tidak meninggalkan majelis itu)."

Hikmah: Betapa banyak ilmu yang hilang karena kita sibuk dengan urusan dunia yang sebenarnya bisa ditunda. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif sering mengingatkan bahwa majelis ilmu adalah taman surga di dunia, dan meninggalkannya tanpa alasan syar'i adalah kerugian besar.

Kesimpulan Praktis

  1. Terimalah kabar gembira dari Allah dan Rasul-Nya dengan syukur, bukan dengan menuntut imbalan duniawi.
  2. Bersemangatlah menghadiri majelis ilmu, terutama yang membahas tauhid dan aqidah, karena itu adalah warisan para Nabi.
  3. Jangan meninggalkan majelis ilmu karena urusan duniawi yang bisa ditunda atau diwakilkan kepada orang lain.
  4. Pelajarilah ilmu tentang permulaan penciptaan dan Arsy sebagai bagian dari iman kepada Allah dan hari akhir.
  5. Bertaubatlah jika pernah menyia-nyiakan majelis ilmu, sebagaimana penyesalan Imran bin Husain رضي الله عنه.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?