Penjelasan Hadits Bukhari No. 3160 tentang Strategi penaklukan dengan perumpamaan kepala dan sayap

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kisah yang sangat agung tentang strategi perluasan dakwah Islam di masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu. Hadits ini mengajarkan beberapa hal penting: kebijaksanaan pemimpin dalam menyusun strategi, keutamaan jihad dan keikhlasan para sahabat, serta adab-adab perang yang diajarkan Nabi ﷺ seperti tidak tergesa-gesa menyerang dan menunggu waktu yang tepat. Kisah ini juga menggambarkan bagaimana para sahabat berdakwah dengan penuh keyakinan dan keberanian, menjelaskan tujuan mulia kaum muslimin dalam berperang, yaitu untuk menegakkan kalimat Allah dan membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan kepada Allah semata.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jizyah dan Perjanjian, Bab Jizyah dan Perjanjian dengan Ahli Perang, no. 3160, dari Jubair bin Haiyah radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ ۚ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

"Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Anfal [8]: 39)

Ayat ini menjelaskan tujuan utama kaum muslimin dalam berperang, sebagaimana yang disampaikan Al-Mughirah bin Syu'bah dalam hadits ini, yaitu agar manusia beribadah hanya kepada Allah semata atau membayar jizyah dalam keadaan tunduk.

Hadits Terkait Lainnya:

Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا

"Sesungguhnya di hadapan hari Kiamat ada fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap. Seseorang di pagi hari dalam keadaan mukmin dan di sore hari menjadi kafir." (HR. Abu Dawud no. 4242, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Hadits ini menunjukkan pentingnya persatuan dan kewaspadaan terhadap perpecahan, sebagaimana perumpamaan burung yang disampaikan Al-Hurmuzan kepada Umar.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Kebijaksanaan Umar bin Khaththab dalam Memimpin

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu adalah khalifah yang sangat memperhatikan urusan umat. Beliau tidak segan berkonsultasi dengan para ahli, bahkan dengan Al-Hurmuzan yang baru saja memeluk Islam, karena beliau mengetahui keahliannya dalam urusan militer dan politik. Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin boleh meminta nasihat dari siapa saja yang memiliki keahlian, meskipun orang tersebut baru masuk Islam.

2. Perumpamaan Kekuatan Musuh

Al-Hurmuzan menggambarkan kekuatan musuh-musuh Islam seperti burung yang memiliki kepala dan dua sayap. Kepala adalah Kisra (raja Persia), satu sayap adalah Qaishar (Kaisar Romawi), dan sayap lainnya adalah Faris (bangsa Persia). Strategi yang disarankan adalah mematahkan kepala terlebih dahulu, yaitu memfokuskan serangan kepada Kisra. Ini menunjukkan pentingnya analisis strategis dalam peperangan.

3. Keutamaan Jihad dan Keikhlasan Sahabat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa perkataan Al-Mughirah bin Syu'bah kepada utusan Kisra menunjukkan keyakinan yang kokoh para sahabat. Mereka menggambarkan kehidupan mereka sebelum Islam sebagai kehidupan yang sangat sengsara—menghisap kulit dan biji kurma karena lapar, memakai pakaian dari bulu unta dan rambut kambing, serta menyembah pohon dan batu. Kemudian Allah mengutus Nabi ﷺ dari kalangan mereka sendiri, yang nasabnya mereka kenal, untuk membawa mereka dari kegelapan menuju cahaya.

4. Adab Perang yang Diajarkan Nabi ﷺ

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa kebiasaan Nabi ﷺ jika tidak berperang di awal hari adalah menunggu hingga angin bertiup dan waktu salat tiba. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan umatnya untuk tidak tergesa-gesa dalam peperangan, memilih waktu yang tepat, dan tetap menjaga ibadah salat di tengah medan perang.

5. Tujuan Jihad dalam Islam

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa tujuan jihad dalam Islam bukanlah untuk memaksa orang masuk Islam, tetapi untuk menghilangkan fitnah (syirik dan kekufuran yang menghalangi dakwah), membebaskan manusia untuk memilih kebenaran, dan menegakkan agama Allah di muka bumi. Jika mereka menolak Islam, maka mereka diperbolehkan membayar jizyah sebagai tanda tunduk kepada pemerintahan Islam.

Story Telling

Dari Jubair bin Haiyah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Umar mengirim kami dan mengangkat An-Nu'man bin Muqarrin sebagai pemimpin kami. Ketika kami sampai di tanah musuh, utusan Kisra keluar dengan empat puluh ribu prajurit. Seorang penerjemah berdiri dan berkata, 'Biarkan salah satu dari kalian berbicara dengan saya!'

Maka Al-Mughirah bin Syu'bah maju dan berkata, 'Tanyalah apa saja yang engkau inginkan.'

Utusan Kisra bertanya, 'Siapa kalian?'

Al-Mughirah menjawab dengan penuh keyakinan: 'Kami adalah sekelompok orang dari Arab. Kami dahulu menjalani kehidupan yang sangat sengsara—menghisap kulit dan biji kurma karena lapar, memakai pakaian dari bulu unta dan rambut kambing, serta menyembah pohon dan batu. Ketika kami dalam keadaan seperti itu, Tuhan langit dan bumi mengutus kepada kami seorang Nabi dari kalangan kami sendiri, yang ayah dan ibunya kami kenal. Nabi kami memerintahkan kami untuk memerangi kalian sampai kalian menyembah Allah saja atau membayar jizyah. Dan Nabi kami mengabarkan bahwa siapa yang terbunuh di antara kami akan masuk surga dalam kenikmatan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, dan siapa yang hidup di antara kami akan menguasai kalian.'"

Kemudian An-Nu'man bin Muqarrin berkata kepada Al-Mughirah, "Mudah-mudahan Allah mempertemukanmu dengan yang semisal ini bersama Nabi ﷺ, dan tidak membuatmu menyesal dan tidak menghinakanmu. Tetapi aku pernah menyaksikan peperangan bersama Rasulullah ﷺ. Jika beliau tidak berperang di awal hari, beliau menunggu hingga angin bertiup dan waktu salat tiba."

Kisah ini menunjukkan keberanian dan keyakinan para sahabat dalam menyampaikan dakwah, serta adab perang yang diajarkan Nabi ﷺ. Mereka tidak gentar menghadapi pasukan yang jumlahnya jauh lebih besar, karena mereka yakin bahwa kemenangan datang dari Allah, bukan dari banyaknya jumlah dan perlengkapan.

Kesimpulan Praktis

  1. Kebijaksanaan pemimpin: Seorang pemimpin hendaknya mau berkonsultasi dengan ahlinya dalam mengambil keputusan strategis, sebagaimana Umar bin Khaththab berkonsultasi dengan Al-Hurmuzan.
  2. Keikhlasan dalam berjuang: Para sahabat berjuang bukan karena kepentingan dunia, tetapi karena ingin menegakkan kalimat Allah dan membebaskan manusia dari kesyirikan.
  3. Adab dalam berperang: Jangan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan penting. Pilih waktu yang tepat dan jangan tinggalkan ibadah meskipun dalam keadaan sulit.
  4. Tujuan dakwah: Dakwah dan jihad dalam Islam bertujuan menghilangkan fitnah dan memastikan agama hanya bagi Allah, bukan untuk memaksa atau merendahkan manusia.
  5. Keyakinan akan pertolongan Allah: Jangan takut kepada jumlah musuh yang banyak. Pertolongan Allah datang kepada hamba-Nya yang ikhlas dan bersabar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?