Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ sangat menjaga kehormatan diri dan keluarga, serta betapa beliau peduli terhadap hati para sahabatnya. Ketika dua sahabat Ansar melihat beliau berjalan bersama Shafiyyah رضي الله عنها di malam hari, beliau segera menjelaskan bahwa itu adalah istrinya, agar tidak ada prasangka buruk. Beliau juga mengajarkan bahwa setan bisa menyusup ke dalam hati manusia seperti darah yang mengalir, sehingga kita harus berhati-hati menjaga hati dan prasangka.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Kewajiban Khums, Bab Apa yang Dikatakan Tentang Rumah-Rumah Istri Nabi ﷺ. Perawi sahabat: Shafiyyah binti Huyay رضي الله عنها, istri Nabi ﷺ.
Teks hadits lengkap telah disebutkan di atas. Bagian penting sabda Nabi ﷺ:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَبْلُغُ مِنَ الإِنْسَانِ مَبْلَغَ الدَّمِ، وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَيْئًا
"Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia seperti aliran darah, dan aku khawatir setan akan melempar sesuatu (pikiran buruk) ke dalam hati kalian."
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan larangan berprasangka buruk:
QS. Al-Hujurat [49]: 12
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain..."
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini melarang prasangka buruk terhadap orang lain tanpa bukti, karena prasangka buruk dapat menjerumuskan seseorang ke dalam dosa.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: I'tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya i'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan, dan bahwa Nabi ﷺ melakukannya secara rutin. Ini juga menunjukkan bahwa istri boleh mengunjungi suami yang sedang i'tikaf, dengan adab tertentu.
Kedua: Menjaga kehormatan dan menolak prasangka.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa Nabi ﷺ segera menjelaskan situasi kepada dua sahabat Ansar tersebut karena beliau khawatir mereka berprasangka buruk. Ini adalah bentuk kasih sayang beliau kepada umatnya, agar hati mereka tetap bersih dari su'uzhan (prasangka buruk).
Ketiga: Setan mengalir seperti darah.
Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ungkapan "setan mengalir seperti darah" adalah kinayah (kiasan) yang menunjukkan betapa dekatnya setan dengan manusia, dan betapa mudahnya setan memasukkan bisikan ke dalam hati. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa setan berusaha masuk ke dalam hati manusia melalui celah-celah syahwat dan syubhat, maka seorang hamba harus senantiasa berdzikir dan menjaga hatinya.
Keempat: Adab ketika berjalan dengan mahram.
Imam Al-Bukhari sengaja meletakkan hadits ini dalam bab tentang rumah-rumah istri Nabi ﷺ untuk menunjukkan bahwa rumah-rumah tersebut memiliki kehormatan khusus, dan bahwa Nabi ﷺ sangat menjaga batasan-batasan syariat.
Kelima: Perkataan sahabat "Subhanallah".
Ucapan dua sahabat Ansar "Subhanallah" menunjukkan bahwa mereka terkejut dan merasa tidak pantas jika Nabi ﷺ menjelaskan hal seperti itu kepada mereka. Mereka sangat memuliakan Nabi ﷺ dan tidak pernah terlintas dalam hati mereka prasangka buruk. Ini menunjukkan adab para sahabat yang sangat tinggi.
Story Telling
Dikisahkan bahwa pada suatu malam di sepuluh hari terakhir Ramadan, Shafiyyah binti Huyay رضي الله عنها, istri Nabi ﷺ, datang mengunjungi beliau yang sedang i'tikaf di masjid. Setelah berbincang sejenak, Shafiyyah berdiri untuk pulang. Nabi ﷺ pun berdiri dan mengantarnya pulang.
Di tengah perjalanan, dekat pintu rumah Ummu Salamah رضي الله عنها, dua orang sahabat Ansar melintas. Mereka memberi salam kepada Nabi ﷺ dan segera berlalu. Namun Nabi ﷺ memanggil mereka: "Jangan terburu-buru!" Beliau lalu menjelaskan: "Ini adalah Shafiyyah, istriku."
Dua sahabat itu terkejut dan berkata: "Subhanallah, wahai Rasulullah! Kami tidak pernah berprasangka buruk kepadamu." Mereka merasa berat jika Nabi ﷺ sampai harus menjelaskan hal seperti itu kepada mereka.
Nabi ﷺ kemudian bersabda dengan lembut: "Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia seperti aliran darah. Aku khawatir setan akan melempar sesuatu ke dalam hati kalian."
Kisah ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ sangat menjaga perasaan umatnya, dan betapa beliau mengajarkan kepada kita untuk selalu berhati-hati terhadap bisikan setan, bahkan dalam hal-hal yang tampak kecil.
Kesimpulan Praktis
- Jaga prasangka buruk. Jangan mudah berburuk sangka terhadap orang lain, terutama terhadap orang-orang shalih dan keluarganya.
- Jelaskan dengan baik. Jika ada situasi yang berpotensi menimbulkan prasangka, jelaskan dengan cara yang baik dan lembut, seperti yang dicontohkan Nabi ﷺ.
- Waspadai bisikan setan. Setan selalu berusaha memasukkan keraguan dan prasangka buruk ke dalam hati. Perbanyak dzikir dan istighfar untuk menjaga hati.
- Muliakan istri Nabi ﷺ. Para istri Nabi ﷺ memiliki kedudukan khusus dalam Islam, dan kita wajib memuliakan mereka.
- I'tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan. Hadits ini juga mengingatkan kita tentang sunnah i'tikaf yang dilakukan Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.