Penjelasan Hadits Bukhari No. 3084 tentang Doa dan takbir saat kembali dari perang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan doa dan dzikir yang dibaca Nabi ﷺ ketika kembali dari perjalanan jihad atau safar, yaitu takbir tiga kali lalu membaca doa "Āyibūna in syā'allāhu tā'ibūna 'ābidūna hāmidūna li rabbinā sājidūn..." Doa ini berisi pengakuan bahwa kepulangan, taubat, ibadah, pujian, dan sujud semuanya untuk Allah, serta pengakuan bahwa kemenangan datang dari Allah semata. Ini adalah adab syukur seorang hamba saat kembali dari medan perjuangan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Perang, Bab Apa yang Dikatakan Ketika Kembali dari Perang, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, melalui jalur Nafi'.

Teks hadits (sesuai riwayat):

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا جُوَيْرِيَةُ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا قَفَلَ كَبَّرَ ثَلَاثًا قَالَ: آيِبُونَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَائِبُونَ عَابِدُونَ حَامِدُونَ لِرَبِّنَا سَاجِدُونَ، صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Terjemahan: Dari Abdullah (Ibnu Umar), bahwa Nabi ﷺ apabila kembali (dari perang) beliau bertakbir tiga kali lalu bersabda: "Kami kembali, jika Allah menghendaki, dengan bertaubat, beribadah, memuji Rabb kami, dan bersujud. Allah telah membenarkan janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan (musuh) sendirian."

Ayat yang berkaitan — tentang pertolongan Allah kepada hamba-Nya:

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ ۞ إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنصُورُونَ ۞ وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ

QS. Ash-Shaffat [37]: 171–173

"Dan sungguh telah tetap kalimat Kami untuk hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) bahwa sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang akan mendapat pertolongan, dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang."

Kaitan dengan ulama: Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bab ini sebagai anjuran berdzikir dan bersyukur saat kembali dari safar, dan bahwa takbir tiga kali menunjukkan pengagungan kepada Allah. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (pada hadits serupa dari Ibnu Umar) menyebutkan bahwa doa ini dibaca saat kembali dari safar secara umum, dan mencakup makna tawakal serta pengakuan bahwa kemenangan hanya dari Allah.

Penjelasan Rinci

Pertama: makna "idzā qafala" (apabila kembali). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kata "qafala" berarti kembali dari safar, khususnya safar jihad. Jadi dzikir ini bukan hanya untuk pulang perang, tetapi para ulama seperti Imam an-Nawawi menyebutkan keumumannya untuk setiap safar yang mubah, karena di dalamnya ada rasa syukur telah dikembalikan dengan selamat.

Kedua: takbir tiga kali. Takbir (Allāhu Akbar) menunjukkan pengagungan kepada Allah. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa mengulang takbir tiga kali adalah sunnah dalam dzikir tertentu, dan ini menunjukkan bahwa kemenangan bukan karena kekuatan manusia, melainkan karena keagungan Allah.

Ketiga: makna kalimat doa.

  • آيِبُونَ (Āyibūna) — "kami kembali", yaitu kembali ke kampung halaman dengan keadaan yang baik.
  • إِنْ شَاءَ اللَّهُ (in syā'allāhu) — menyandarkan kehendak kepada Allah, sebagai adab tawadhu, karena tidak ada yang pasti terjadi kecuali dengan izin Allah. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa menyebut "insya Allah" dalam ucapan yang akan datang adalah perintah Al-Qur'an (QS. Al-Kahfi [18]: 23–24).
  • تَائِبُونَ ('Ābidūna...) — kami bertaubat, beribadah, memuji, dan bersujud kepada Rabb kami. Ibnul Qayyim dalam Madārij as-Sālikīn menjelaskan bahwa taubat, ibadah, pujian, dan sujud adalah empat pilar penghambaan yang saling melengkapi: taubat membersihkan, ibadah mengarahkan, pujian mengungkapkan syukur, dan sujud menunjukkan ketundukan tertinggi.
  • صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ — Allah membenarkan janji-Nya, yaitu janji pertolongan bagi orang beriman (lihat QS. Ash-Shaffat [37]: 171–173).
  • وَنَصَرَ عَبْدَهُ — menolong hamba-Nya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.
  • وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ — mengalahkan golongan-golongan musuh sendirian, tanpa bantuan manusia. Ini menegaskan tauhid dalam pertolongan: hanya Allah yang memberi kemenangan.

Keempat: pemahaman ulama tentang tauhid dalam kemenangan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisīr al-Karīm ar-Rahmān menegaskan bahwa ayat-ayat tentang pertolongan Allah mengajarkan bahwa kemenangan adalah karunia Allah, bukan hasil kekuatan fisik semata. Karena itu seorang mujahid dilarang ujub (bangga diri) dan wajib bersyukur.

Kelima: apakah doa ini khusus setelah perang atau setiap safar? Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa doa ini dibaca Nabi ﷺ ketika kembali dari safar secara umum, dan sebagian ulama seperti Ibnu Hajar menyebutkan bahwa bab ini menunjukkan keumuman dzikir safar. Yang paling kuat menurut dalil adalah doa ini dibaca saat kembali dari safar, baik safar jihad maupun safar lainnya, karena lafaznya umum dan tidak ada pembatas khusus.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, perawi hadits ini, adalah seorang sahabat yang sangat teliti dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fathul Bari bahwa Ibnu Umar dikenal sangat bersemangat menghidupkan sunnah-sunnah yang ditinggalkan orang, termasuk dzikir-dzikir safar. Ketika beliau kembali dari perjalanan, beliau membaca doa ini persis seperti yang beliau dengar dari Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa sunnah Nabi ﷺ dalam dzikir adalah warisan yang dijaga oleh para sahabat, lalu diwariskan kepada tabi'in seperti Nafi' (guru Imam Malik), kemudian kepada para imam seperti Al-Bukhari.

Hikmahnya: seorang hamba hendaknya tidak melupakan dzikir saat kembali dari perjalanan, karena kepulangan dengan selamat adalah nikmat yang wajib disyukuri.

Kesimpulan Praktis

  1. Saat kembali dari safar (termasuk perjalanan jauh), disunnahkan bertakbir tiga kali lalu membaca doa ini.
  2. Doa ini mengajarkan tauhid: kemenangan, pertolongan, dan kepulangan semua dari Allah.
  3. Hendaknya seorang hamba menyebut "insya Allah" dalam ucapan tentang masa depan, sebagai adab kepada Allah.
  4. Isi doa mencakup taubat, ibadah, pujian, dan sujud — empat pilar penghambaan yang sebaiknya dihadirkan dalam hati.
  5. Jangan ujub dengan keberhasilan; sadari bahwa Allah-lah yang menolong dan mengalahkan musuh.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?