Penjelasan Hadits Bukhari No. 3064 tentang Pengkhianatan dan pembunuhan tujuh puluh qari di Bi'r Ma'unah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa Bi'r Ma'unah, di mana 70 orang sahabat Ansar yang dikenal sebagai Al-Qurra' (ahli ibadah dan Al-Qur'an) dikirim Nabi ﷺ untuk membantu sekelompok orang yang mengaku masuk Islam, namun justru dikhianati dan dibunuh. Nabi ﷺ kemudian mendoakan keburukan (qunut) selama sebulan atas suku-suku pengkhianat. Peristiwa ini mengajarkan tentang keutamaan syahid, larangan berkhianat, dan bolehnya mendoakan keburukan atas orang zalim dalam qunut.

Rujukan Ulama & Dalil

Al-Qur'an yang relevan:

Firman Allah tentang orang-orang yang berkhianat dan berbuat kerusakan:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

QS. Ibrahim [14]: 42

Terjemahan: "Dan janganlah engkau mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata mereka terbelalak (karena ketakutan)."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Jihad dan Perang, Bab Pertolongan dengan Pasukan (no. 3064), dari jalur Anas bin Malik رضي الله عنه melalui Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang Tabi'in yang termasuk dalam daftar rujukan).

Penjelasan ulama terkait:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa peristiwa Bi'r Ma'unah terjadi pada tahun ke-4 Hijriah, dan para sahabat yang dikirim adalah para penghafal Al-Qur'an yang zuhud.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas riwayat serupa) menyebutkan bahwa qunut nazilah (mendoakan keburukan atas musuh) disyariatkan ketika ada musibah menimpa kaum Muslimin.
  • Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah mencatat detail peristiwa ini dan menyebutkan bahwa ayat yang dihapus (mansukh tilawah) menunjukkan keutamaan para syuhada.

Penjelasan Rinci

Konteks peristiwa:

Sekelompok orang dari suku Ri'l, Dhakwan, 'Ushayyah, dan Bani Lihyan datang kepada Nabi ﷺ mengaku telah masuk Islam, lalu meminta bantuan pasukan untuk menghadapi kaum mereka sendiri. Nabi ﷺ mengirimkan 70 orang Ansar yang dikenal sebagai Al-Qurra' — sebutan bagi mereka yang tekun membaca Al-Qur'an, beribadah di malam hari, dan bekerja mencari kayu di siang hari untuk nafkah. Di tengah perjalanan, tepatnya di sumur Bi'r Ma'unah, mereka dikhianati dan dibunuh secara zalim.

Makna dan pelajaran menurut ulama:

  1. Keutamaan para syuhada — Ibnu Katsir menjelaskan bahwa para sahabat yang terbunuh di Bi'r Ma'unah mencapai derajat syahid. Hal ini dikuatkan oleh riwayat Anas bahwa turun ayat (yang kemudian dihapus bacaannya): "Sampaikan kepada kaum kami bahwa kami telah berjumpa dengan Rabb kami, Dia ridha kepada kami dan kami pun ridha kepada-Nya." Menurut Ibnu Hajar, penghapusan ayat ini menunjukkan bahwa ia pernah dibaca sebagai wahyu, lalu diangkat bacaannya, namun maknanya tetap benar dan menjadi kabar gembira bagi para syuhada.
  2. Bolehnya qunut nazilah — Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa Nabi ﷺ melakukan qunut selama sebulan untuk mendoakan keburukan atas suku-suku pengkhianat. Ini menjadi dalil disyariatkannya qunut nazilah ketika kaum Muslimin tertimpa musibah dari musuh. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa qunut nazilah dilakukan sesuai kebutuhan dan tidak terus-menerus.
  3. Larangan berkhianat — Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menekankan bahwa ghaddar (pengkhianatan) adalah sifat tercela yang dilarang dalam Islam, bahkan terhadap orang yang berbeda agama. Peristiwa ini menunjukkan betapa besar dosa pengkhianatan terhadap amanah dan janji.
  4. Keutamaan Al-Qurra' — Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah (perawi hadits ini) menyebutkan bahwa para sahabat tersebut dinamakan Al-Qurra' karena mereka menghidupkan malam dengan shalat dan siang dengan kerja halal. Ini menunjukkan keseimbangan antara ibadah dan usaha.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah qunut nazilah masih disyariatkan setelah Nabi ﷺ. Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut nazilah disyariatkan ketika ada musibah besar. Imam Abu Hanifah berpendapat qunut hanya pada shalat Subuh secara rutin. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim — adalah bahwa qunut nazilah disyariatkan saat ada hajat (kebutuhan mendesak), lalu ditinggalkan ketika hajat itu hilang, sesuai perbuatan Nabi ﷺ.

Story Telling

Anas bin Malik رضي الله عنه — yang menjadi perawi hadits ini dan termasuk salah satu sahabat yang mulia — menceritakan dengan penuh kesedihan tentang peristiwa Bi'r Ma'unah. Beliau mengatakan: "Kami biasa menyebut mereka Al-Qurra'." Mereka adalah orang-orang yang siangnya bekerja mencari kayu, dan malamnya berdiri shalat. Ketika mereka dibunuh secara zalim, Nabi ﷺ sangat bersedih hingga berqunut sebulan lamanya.

Qatadah bin Di'amah as-Sadusi — seorang Tabi'in yang meriwayatkan hadits ini dari Anas — menambahkan bahwa para syuhada tersebut pernah membaca ayat yang kemudian dihapus: "Sampaikan kepada kaum kami bahwa kami telah berjumpa dengan Rabb kami, Dia ridha kepada kami dan kami pun ridha kepada-Nya." Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan mereka di sisi Allah.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa peristiwa ini menjadi salah satu musibah besar yang menimpa kaum Muslimin di masa awal, namun Allah menggantinya dengan derajat syahid bagi para korban.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga amanah dan janji — pengkhianatan adalah dosa besar, bahkan terhadap orang yang mengaku berbuat baik kepada kita.
  2. Keutamaan syahid — orang yang mati di jalan Allah dalam keadaan dizalimi mendapat kedudukan mulia dan keridhaan Allah.
  3. Qunut nazilah disyariatkan saat kaum Muslimin tertimpa musibah dari musuh, dan ditinggalkan ketika musibah berlalu.
  4. Seimbangkan ibadah dan usaha — para Al-Qurra' bekerja di siang hari dan beribadah di malam hari, menunjukkan Islam menghargai kerja keras dan ibadah sekaligus.
  5. Bersabar atas musibah — Nabi ﷺ tidak membalas dengan kekerasan sewenang-wenang, tetapi berdoa kepada Allah, menunjukkan tawakal dan adab dalam menghadapi kezaliman.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?