Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa ketaatan kepada perintah pemimpin dalam hal yang benar adalah kunci kemenangan, sedangkan perselisihan dan tamak terhadap harta rampasan dapat menghancurkan pasukan. Pada Perang Uhud, sebagian pasukan meninggalkan pos karena tergiur ghanimah, sehingga musuh berbalik menyerang. Nabi ﷺ juga mengajarkan kalimat tauhid untuk membalas kesombongan orang musyrik.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3039) dari sahabat Al-Bara bin Azib رضي الله عنهما, dalam Kitab Jihad dan Perang, bab larangan berselisih dan berbeda pendapat dalam perang.
Allah ﷻ berfirman:
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۚ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
QS. Al-Anfal [8]: 46 — "Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang. Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."
Juga firman Allah:
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
QS. Ali 'Imran [3]: 152 — "Dan sungguh Allah telah menepati janji-Nya kepadamu ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya, sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu, tetapi Dia telah memaafkanmu. Dan Allah mempunyai karunia atas orang-orang mukmin."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini berkaitan dengan peristiwa Uhud: pasukan pemanah meninggalkan pos karena menginginkan ghanimah, padahal Nabi ﷺ telah memerintahkan mereka tetap di tempat. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas hadits ini pada bab larangan perselisihan dalam perang, dan menegaskan bahwa sebab kekalahan adalah meninggalkan perintah komandan karena tamak harta.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menceritakan peristiwa Perang Uhud. Nabi ﷺ menempatkan lima puluh pemanah di atas bukit di bawah komando Abdullah bin Jubair رضي الله عنه, dengan perintah yang sangat tegas: jangan tinggalkan posisi ini sampai beliau mengirim utusan, baik dalam keadaan menang maupun kalah. Perintah ini adalah ujian ketaatan.
Ketika kaum musyrik terdesak dan melarikan diri, sebagian pemanah melihat peluang mendapatkan ghanimah. Mereka berdebat dengan komandan mereka. Abdullah bin Jubair mengingatkan perintah Rasulullah ﷺ, tetapi mereka beralasan bahwa kemenangan sudah jelas dan mereka ingin ikut mengambil bagian. Mereka meninggalkan posisi. Akibatnya, pasukan berkuda musyrik yang dipimpin Khalid bin Walid (saat itu belum masuk Islam) memanfaatkan celah itu, menyerang dari belakang, dan keadaan berbalik. Pasukan Islam terpecah, banyak yang gugur, dan Nabi ﷺ terluka.
Al-Bara bin Azib رضي الله عنهما menyebutkan bahwa setelah kekacauan itu, hanya dua belas orang yang tetap bersama Nabi ﷺ. Ini menunjukkan betapa besar dampak meninggalkan perintah pemimpin karena tamak.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa hikmah peristiwa ini adalah agar kaum mukmin belajar bahwa kemenangan datang dari ketaatan dan kesabaran, bukan dari banyaknya harta atau kekuatan. Allah menguji mereka dengan ghanimah untuk membedakan siapa yang menginginkan dunia dan siapa yang menginginkan akhirat, sebagaimana isyarat QS. Ali 'Imran [3]: 152.
Bagian akhir hadits menampilkan dialog Abu Sufyan (saat itu masih musyrik) yang menyombongkan berhala Hubal dan Al-'Uzza. Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat menjawab dengan kalimat tauhid: "Allah lebih tinggi dan lebih mulia" serta "Allah adalah Penolong kami, dan kalian tidak memiliki penolong." Ini menunjukkan bahwa aqidah tauhid adalah senjata utama menghadapi kesombongan dan syirik. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (ketika membahas riwayat serupa) menegaskan bahwa menjawab syi'ar orang musyrik dengan kalimat tauhid adalah bentuk menampakkan keagungan Allah dan melemahkan kebatilan.
Adapun perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang hukum meninggalkan posisi dalam perang: jumhur seperti Ibnu Hajar dan Ibnu Katsir menegaskan bahwa itu dosa besar yang menyebabkan kekalahan, tetapi Allah memaafkan mereka sebagaimana disebut dalam QS. Ali 'Imran [3]: 152. Yang paling kuat adalah bahwa ketaatan kepada komandan dalam batas syariat wajib, dan pelanggarannya berdampak pada umat, bukan hanya individu.
Story Telling
Al-Bara bin Azib رضي الله عنهما, seorang sahabat muda dari kaum Anshar, menuturkan kisah ini dengan mata kepalanya sendiri. Ia melihat bagaimana para pemanah yang tadinya teguh mulai goyah ketika melihat wanita-wanita musyrik melarikan diri dan harta rampasan terhampar. Salah seorang dari mereka berseru, "Harta rampasan! Harta rampasan!" Abdullah bin Jubair mengingatkan, "Apakah kalian lupa apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ?" Namun mereka menjawab, "Demi Allah, kami akan pergi dan mengambil bagian kami." Mereka pun pergi, dan akibatnya pedang musuh berbalik menebas mereka.
Kisah ini dicatat oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dan menjadi pelajaran abadi bagi umat: tamak terhadap dunia dapat merusak ketaatan, dan perselisihan dalam pasukan adalah pintu kekalahan. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif mengingatkan bahwa hati yang terikat pada dunia akan sulit taat ketika ujian datang.
Kesimpulan Praktis
- Taatlah kepada pemimpin dalam hal yang benar, terutama dalam urusan bersama, karena ketaatan adalah sebab kemenangan.
- Jangan biarkan tamak harta merusak amanah dan tanggung jawab.
- Perselisihan dalam barisan umat melemahkan kekuatan; bersabarlah dan kembalilah kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.
- Hadapi kesombongan dengan kalimat tauhid: Allah Mahatinggi, Allah Penolong kita.
- Bila tergelincir, bertaubatlah; Allah memaafkan hamba-Nya yang kembali, sebagaimana Dia memaafkan pasukan Uhud.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.