Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 3038 tentang Perintah mempermudah dan larangan berselisih dalam dakwah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah wasiat agung dari Nabi ﷺ kepada dua sahabatnya yang diutus ke Yaman, yaitu Mu'adz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asy'ari. Pesan intinya ada tiga: pertama, dalam menyampaikan agama, hendaknya mempermudah dan tidak mempersulit; kedua, memberi kabar gembira dan tidak membuat orang lari (merasa terbebani); ketiga, saling bersatu dan tidak berselisih. Ini adalah prinsip dasar dalam berdakwah, memimpin, dan bermuamalah yang harus kita pegang hingga hari ini.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Imam Al-Bukhari meriwayatkannya dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Perang, Bab "Apa yang Dilarang dari Perselisihan dan Perbedaan dalam Perang" (no. 3038). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali 'Imran [3]: 159)

Ayat ini menunjukkan bahwa kelembutan dan kemudahan adalah kunci diterimanya dakwah, sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ dalam hadits di atas.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung perintah untuk menggunakan metode yang lembut dalam dakwah dan pemerintahan, serta larangan bersikap keras dan mempersulit.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menukil perkataan para ulama bahwa pesan ini adalah wasiat umum bagi setiap pemimpin, dai, dan hakim agar senantiasa mengedepankan kemudahan dan persatuan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah bagian dari wasiat Nabi ﷺ ketika mengutus Mu'adz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asy'ari ke negeri Yaman untuk mengajarkan Islam. Ada beberapa poin penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. "يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا" (Permudahlah dan jangan mempersulit)

Ini adalah prinsip dasar dalam syariat. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa syariat Islam dibangun di atas kemudahan. Allah ﷻ berfirman:

يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Maka dalam berdakwah, mengajar, atau memimpin, seorang muslim hendaknya memilih cara yang paling mudah bagi orang lain, selama tidak melanggar syariat. Misalnya, tidak memaksakan amalan sunnah yang berat kepada orang yang baru belajar, atau tidak memperbanyak larangan tanpa memberi solusi.

2. "وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا" (Berilah kabar gembira dan jangan membuat lari)

Para ulama menjelaskan bahwa memberi kabar gembira di sini maksudnya adalah menyampaikan kabar tentang pahala, rahmat Allah, dan kemudahan beribadah. Jangan membuat orang lari dari agama karena sikap yang terlalu keras atau menakut-nakuti dengan hal-hal yang belum tentu benar. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dakwah yang baik adalah yang menarik hati, bukan yang membuat orang menjauh.

3. "وَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا" (Bersatu padulah dan jangan berselisih)

Ini adalah perintah untuk menjaga persatuan di antara para dai dan pemimpin. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perselisihan di antara para dai akan melemahkan dakwah dan membingungkan umat. Maka hendaknya mereka saling mendukung, tidak saling menjatuhkan, dan mengutamakan tujuan bersama di atas perbedaan pendapat yang bersifat furu' (cabang).

Para ulama dari kalangan salaf sangat memperhatikan pesan ini. Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Sesungguhnya ilmu itu tidak didapat dengan mempersulit diri, tetapi dengan kelembutan dan kemudahan." Ini menunjukkan bahwa prinsip ini telah dipraktikkan oleh generasi terbaik umat.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang bagaimana Mu'adz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asy'ari mempraktikkan wasiat ini. Ketika keduanya tiba di Yaman, mereka berdakwah dengan lembut. Suatu ketika, Mu'adz mengajarkan tentang kewajiban zakat dan puasa, namun beliau menyampaikannya dengan cara yang bertahap dan penuh kasih sayang, sehingga penduduk Yaman menerima Islam dengan hati terbuka.

Dalam riwayat lain, ketika Mu'adz kembali dari Yaman dan bertemu dengan Nabi ﷺ, beliau bersujud syukur. Nabi ﷺ bertanya mengapa ia bersujud, dan Mu'adz menjawab bahwa ia bersyukur karena Nabi ﷺ telah mengutusnya ke negeri yang penduduknya menerima dakwah dengan baik. Ini menunjukkan bahwa metode yang lembut dan penuh kemudahan membuahkan hasil yang baik.

Hikmah dari kisah ini: dakwah yang disampaikan dengan kasih sayang dan tanpa paksaan akan lebih mudah diterima, sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat.

Kesimpulan Praktis

  1. Dalam berdakwah dan mengajar: gunakan bahasa yang mudah, berikan contoh yang dekat dengan kehidupan, dan jangan memaksakan hal-hal yang berat bagi pemula.
  2. Dalam memimpin dan berorganisasi: utamakan persatuan, jangan mudah berselisih dalam hal-hal yang bersifat teknis, dan fokus pada tujuan bersama.
  3. Dalam bermuamalah sehari-hari: biasakan memberi kabar gembira kepada orang lain, mendoakan kebaikan, dan menghindari sikap yang membuat orang merasa terbebani.
  4. Jadikan hadits ini sebagai pedoman: setiap kali kita berinteraksi dengan orang lain, ingatlah tiga pesan ini: memudahkan, memberi kabar gembira, dan menjaga persatuan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.