Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan perintah Rasulullah ﷺ kepada sahabat Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu 'anhu untuk menghancurkan berhala besar bernama Dzul-Khalashah, yang disembah oleh sebagian kabilah Arab. Peristiwa ini menunjukkan betapa seriusnya Islam dalam memberantas segala bentuk kesyirikan, sekaligus memperlihatkan kelembutan Nabi ﷺ dalam menyiapkan mental para sahabatnya, hingga beliau mendoakan keteguhan hati untuk Jarir. Kisah ini juga mengajarkan bahwa jihad dan dakwah membutuhkan keberanian, keikhlasan, dan doa dari pemimpin.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Perang, Bab Pembakaran Rumah dan Pohon Kurma, no. 3020. Berikut teks haditsnya:
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ إِسْمَاعِيلَ، قَالَ حَدَّثَنِي قَيْسُ بْنُ أَبِي حَازِمٍ، قَالَ قَالَ لِي جَرِيرٌ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " أَلاَ تُرِيحُنِي مِنْ ذِي الْخَلَصَةِ " وَكَانَ بَيْتًا فِي خَثْعَمَ يُسَمَّى كَعْبَةَ الْيَمَانِيَةَ قَالَ فَانْطَلَقْتُ فِي خَمْسِينَ وَمِائَةِ فَارِسٍ مِنْ أَحْمَسَ، وَكَانُوا أَصْحَابَ خَيْلٍ ـ قَالَ ـ وَكُنْتُ لاَ أَثْبُتُ عَلَى الْخَيْلِ، فَضَرَبَ فِي صَدْرِي حَتَّى رَأَيْتُ أَثَرَ أَصَابِعِهِ فِي صَدْرِي وَقَالَ " اللَّهُمَّ ثَبِّتْهُ وَاجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا " فَانْطَلَقَ إِلَيْهَا فَكَسَرَهَا وَحَرَّقَهَا، ثُمَّ بَعَثَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يُخْبِرُهُ فَقَالَ رَسُولُ جَرِيرٍ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ، مَا جِئْتُكَ حَتَّى تَرَكْتُهَا كَأَنَّهَا جَمَلٌ أَجْوَفُ أَوْ أَجْرَبُ. قَالَ فَبَارَكَ فِي خَيْلِ أَحْمَسَ وَرِجَالِهَا خَمْسَ مَرَّاتٍ.
Makna ringkas: Rasulullah ﷺ meminta Jarir untuk menghancurkan Dzul-Khalashah, sebuah bangunan berhala milik suku Khats'am. Jarir berangkat dengan 150 pasukan berkuda dari suku Ahmas. Karena Jarir kurang mahir berkuda, Nabi ﷺ memukul dadanya sambil mendoakan keteguhan dan petunjuk untuknya. Jarir berhasil menghancurkan dan membakar berhala itu, lalu mengabarkan kepada Nabi ﷺ. Nabi ﷺ pun memberkahi kuda dan pasukan Ahmas sebanyak lima kali.
Ayat yang relevan dengan peristiwa penghancuran berhala ini adalah firman Allah ﷻ:
فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ
QS. Al-Hajj [22]: 30
Artinya: "Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta."
Imam Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan untuk menjauhi segala bentuk kesyirikan dan berhala, karena itu adalah kekotoran dan kebatilan. Perintah Nabi ﷺ kepada Jarir untuk menghancurkan Dzul-Khalashah adalah penerapan langsung dari perintah Al-Qur'an ini.
Penjelasan Rinci
1. Latar Belakang Dzul-Khalashah
Dzul-Khalashah adalah sebuah bangunan suci (berhala) yang terletak di daerah Tabalah, milik suku Khats'am, Bajilah, dan kabilah-kabilah di sekitarnya. Bangunan ini oleh orang-orang Arab disebut al-Ka'bah al-Yamaniyah (Ka'bah Yaman), sebagai tandingan dari Ka'bah di Makkah. Mereka menyembah dan mengagungkannya, melakukan thawaf di sekelilingnya, dan menyembelih hewan di dekatnya.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa setelah Fathu Makkah (pembebasan Makkah), Rasulullah ﷺ mengutus para sahabat untuk menghancurkan berhala-berhala besar di sekitar Jazirah Arab. Di antara mereka adalah Khalid bin al-Walid untuk menghancurkan 'Uzza, Sa'd bin Zaid al-Asyhali untuk Manat, 'Amr bin al-'Ash untuk Suwa', dan Jarir bin Abdullah untuk Dzul-Khalashah.
2. Keutamaan Jarir bin Abdullah dan Doa Nabi ﷺ
Jarir bin Abdullah al-Bajali adalah sahabat yang masuk Islam di akhir hayat Nabi ﷺ, sekitar tahun 10 H. Beliau adalah pemimpin suku Bajilah yang dihormati. Dalam hadits ini, ketika Jarir mengaku kurang mahir berkuda, Nabi ﷺ tidak mencela atau merendahkannya, tetapi justru memukul dadanya dengan lembut sambil mendoakan:
اللَّهُمَّ ثَبِّتْهُ وَاجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا
"Ya Allah, teguhkanlah dia dan jadikanlah dia seorang yang memberi petunjuk dan yang mendapat petunjuk."
Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa doa Nabi ﷺ ini adalah keutamaan besar bagi Jarir. Kata hadiyan mahdiyyan (pemberi petunjuk dan yang mendapat petunjuk) menunjukkan bahwa Jarir akan menjadi orang yang mengajak kepada kebaikan dan juga istiqamah di dalamnya. Dan memang terbukti, Jarir menjadi salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dan aktif dalam penaklukan-penaklukan Islam setelah wafatnya Nabi ﷺ.
3. Penghancuran Berhala dan Makna "Jamlun Ajwafu au Ajrabu"
Jarir berangkat dengan 150 pasukan berkuda dari suku Ahmas (bagian dari Bajilah). Mereka berhasil menghancurkan Dzul-Khalashah dan membakarnya hingga rata. Utusan Jarir kemudian melapor kepada Nabi ﷺ dengan ungkapan:
مَا جِئْتُكَ حَتَّى تَرَكْتُهَا كَأَنَّهَا جَمَلٌ أَجْوَفُ أَوْ أَجْرَبُ
"Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak datang kepadamu hingga aku meninggalkannya seperti unta yang berongga (tulangnya) atau unta yang berkurap."
Ungkapan ini adalah kiasan Arab yang berarti bangunan itu telah hancur total, tidak tersisa kecuali seperti bangkai unta yang ditinggalkan—tidak berharga dan tidak dianggap. Ini menunjukkan keberhasilan total misi tersebut.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa penghancuran berhala ini adalah bagian dari jihad untuk membersihkan bumi dari kesyirikan. Ini juga menunjukkan bahwa menghancurkan simbol-simbol kesyirikan adalah perkara yang diperintahkan, karena keberadaannya bisa menjadi fitnah bagi manusia.
4. Doa Keberkahan untuk Ahmas
Setelah mendengar kabar keberhasilan tersebut, Nabi ﷺ mendoakan keberkahan untuk kuda dan pasukan Ahmas sebanyak lima kali. Ini menunjukkan penghargaan Nabi ﷺ terhadap usaha dan pengorbanan mereka. Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa setelah itu, pasukan Ahmas menjadi pasukan yang selalu mendapat keberkahan dalam setiap peperangan.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa doa Nabi ﷺ ini adalah mukjizat, karena keberkahan yang diminta benar-benar terwujud. Ini juga mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus menghargai dan mendoakan bawahannya yang berjuang dengan ikhlas.
5. Pelajaran tentang Jihad dan Adab
Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam berbagai ceramahnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa hal:
- Jihad melawan kesyirikan adalah prioritas utama, karena tauhid adalah fondasi Islam.
- Menghancurkan tempat-tempat ibadah orang musyrik yang dijadikan simbol kesyirikan adalah bagian dari syariat, sebagaimana Nabi ﷺ memerintahkan penghancuran berhala-berhala besar.
- Doa pemimpin untuk pasukannya adalah faktor penting dalam keberhasilan sebuah misi.
- Keberanian dan kesiapan fisik diperlukan dalam jihad, namun yang lebih utama adalah keteguhan hati yang bersumber dari iman dan doa.
Story Telling
Ada kisah menarik tentang keteguhan Jarir bin Abdullah setelah peristiwa ini. Diriwayatkan bahwa setelah Nabi ﷺ wafat, sebagian kabilah Arab murtad dan ada yang kembali menyembah berhala. Namun Jarir tetap teguh di atas Islam. Beliau aktif dalam pasukan muslimin untuk memerangi kaum murtad di masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq.
Dalam riwayat lain, ketika terjadi fitnah besar antara Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah radhiyallahu 'anhuma, Jarir justru memilih untuk tidak terlibat dalam peperangan antar sesama muslim. Beliau lebih memilih menjaga persatuan dan tidak memecah belah umat. Ini menunjukkan bahwa doa Nabi ﷺ agar Jarir menjadi hadiyan mahdiyyan (pemberi petunjuk dan mendapat petunjuk) benar-benar terwujud dalam sikapnya yang bijaksana.
Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala menyebutkan bahwa Jarir bin Abdullah adalah sahabat yang mulia, banyak meriwayatkan hadits, dan wafat di Kufah sekitar tahun 51 H. Beliau adalah salah satu sahabat yang doa Nabi ﷺ untuknya menjadi kenyataan.
Kesimpulan Praktis
- Bersungguh-sungguhlah dalam memberantas kemungkaran, terutama syirik dan segala bentuknya, sesuai kemampuan dan dengan cara yang dibenarkan syariat.
- Jangan meremehkan doa pemimpin atau orang tua, karena doa mereka adalah senjata yang mustajab. Nabi ﷺ mendoakan Jarir dengan doa yang singkat namun membawa keberkahan seumur hidup.
- Siapkan mental dan fisik untuk ketaatan, namun ingatlah bahwa keteguhan hati datangnya dari Allah. Mintalah selalu keteguhan dalam beragama.
- Hargai setiap perjuangan orang lain, sebagaimana Nabi ﷺ memberkahi pasukan Ahmas. Ucapan terima kasih dan doa adalah bentuk penghargaan yang paling mulia.
- Jadilah pribadi yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk, yaitu dengan mempelajari ilmu, mengamalkannya, dan mengajarkannya kepada orang lain dengan ikhlas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.