Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 30 tentang Larangan mencela dan perintah adil pada budak

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa mencela seseorang dengan menyebut kekurangan ibunya adalah perbuatan yang masih mengandung sifat jahiliyah, meskipun pelakunya sudah masuk Islam. Hadits ini juga menekankan kewajiban seorang majikan untuk memperlakukan pembantu atau budaknya dengan baik, memberi makan dan pakaian seperti yang ia konsumsi sendiri, serta tidak membebani mereka di luar kemampuan. Jika terpaksa membebani pekerjaan berat, maka majikan wajib membantu mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. An-Nisa' [4]: 36

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-Iman, Bab Dzanbu al-Jahiliyyah, no. 30. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Ayman, Bab It'ami al-Mamluk, no. 1661.

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (1/115) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa sifat jahiliyah bisa saja masih ada pada diri seorang Muslim, meskipun ia telah beriman. Sifat itu bukan berarti ia kafir, tetapi ia harus segera bertaubat dan meninggalkannya.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (11/129) menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil tentang kewajiban berbuat adil dan ihsan kepada budak atau pembantu. Beliau juga menyebut bahwa para ulama sepakat (ijma') tentang keutamaan memberi makan dan pakaian yang sama kepada budak seperti yang dimakan dan dipakai oleh tuannya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dari daftar rujukan:

1. Sifat Jahiliyah yang Tersisa pada Seorang Muslim

Ketika Abu Dzar radhiyallahu 'anhu mencela seseorang dengan menyebut ibunya, Nabi ﷺ menegur dengan keras: "Sesungguhnya kamu adalah seorang yang masih memiliki sifat jahiliyah." Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "sifat jahiliyah" di sini bukanlah kekafiran, melainkan akhlak buruk yang biasa dilakukan orang-orang jahiliyah, seperti mencela keturunan dan membanggakan nasab. Sifat ini bisa saja masih ada pada seorang Muslim karena kebiasaan lama atau kurangnya ilmu, dan ia harus segera meninggalkannya.

Imam al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam bab "Dosa-Dosa dari Urusan Jahiliyah" untuk menunjukkan bahwa perbuatan seperti mencela ibu seseorang termasuk dosa yang berasal dari kebiasaan jahiliyah, dan seorang Muslim wajib menjauhinya.

2. Larangan Mencela dan Menghina Nasab

Nabi ﷺ bersabda: "Apakah kamu mencela dia dengan menyebutkan ibunya?" Ini menunjukkan bahwa mencela seseorang dengan menyebut kekurangan orang tuanya, terutama ibunya, adalah perbuatan yang sangat tercela. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengatakan bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar karena mengandung unsur penghinaan dan ghibah (menggunjing). Bahkan, dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya di antara sebesar-besar dosa adalah seseorang mencela kedua orang tuanya." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

3. Kewajiban Memperlakukan Pembantu dan Budak dengan Baik

Setelah menegur Abu Dzar, Nabi ﷺ memberikan petunjuk tentang bagaimana seharusnya seorang Muslim memperlakukan pembantu atau budaknya. Beliau bersabda: "Saudara-saudaramu adalah pelayanmu, Allah telah menjadikan mereka di bawah kekuasaanmu. Maka barangsiapa yang saudaranya berada di bawah kekuasaannya, hendaklah ia memberi makan dari apa yang ia makan dan memberi pakaian dari apa yang ia pakai."

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (1/344) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa hubungan antara majikan dan pembantu bukanlah hubungan tuan dan hamba yang semena-mena, melainkan hubungan persaudaraan dalam Islam. Oleh karena itu, seorang majikan wajib memperlakukan pembantunya dengan penuh kasih sayang dan keadilan.

4. Larangan Membebani Pekerjaan di Luar Kemampuan

Nabi ﷺ melanjutkan: "Dan janganlah kamu membebani mereka dengan apa yang tidak mampu mereka lakukan. Jika kamu membebani mereka, maka bantulah mereka." Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 2545) meriwayatkan hadits serupa dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang berat. Jika kamu membebani mereka, maka bantulah mereka."

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (5/177) mengatakan bahwa perintah membantu ini bersifat wajib jika pekerjaan itu memang di luar kemampuan mereka. Jika tidak, maka hukumnya sunnah. Ini menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan hak-hak para pembantu dan budak.

Story Telling

Kisah Abu Dzar radhiyallahu 'anhu ini sangat terkenal. Beliau adalah seorang sahabat yang terkenal zuhud dan jujur. Namun, suatu hari beliau terpancing emosi dan mencela seseorang dengan menyebut ibunya. Setelah ditegur oleh Nabi ﷺ, Abu Dzar langsung sadar dan menyesali perbuatannya.

Al-Ma'rur, perawi hadits ini, menceritakan bahwa ketika ia bertemu Abu Dzar di Ar-Rabadha (sebuah tempat di luar Madinah), ia melihat Abu Dzar dan budaknya sama-sama mengenakan jubah yang bagus. Ketika ditanya, Abu Dzar menjelaskan bahwa ia melakukan itu sebagai bentuk taubat dan pengamalan dari hadits Nabi ﷺ yang memerintahkan untuk memberi makan dan pakaian yang sama kepada budak.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (1/116) menyebutkan bahwa kisah ini menunjukkan betapa cepatnya para sahabat kembali kepada kebenaran setelah ditegur oleh Nabi ﷺ. Mereka tidak merasa gengsi atau marah, tetapi justru bersemangat untuk mengamalkan nasihat beliau.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi sifat jahiliyah seperti mencela, menghina, atau membanggakan nasib. Jika terlanjur melakukannya, segera bertaubat dan perbaiki akhlak.
  2. Perlakukan pembantu atau siapa pun yang di bawah kekuasaanmu dengan baik. Beri mereka makan dan pakaian yang layak, sebagaimana engkau memberi untuk dirimu sendiri.
  3. Jangan membebani mereka dengan pekerjaan di luar kemampuan. Jika terpaksa, bantulah mereka.
  4. Jadilah teladan dalam akhlak mulia, sebagaimana para sahabat yang langsung mengamalkan nasihat Nabi ﷺ tanpa ragu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.