Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab berdzikir, yaitu agar kita tidak berlebihan dalam mengeraskan suara saat berdzikir dan berdoa. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat, sehingga tidak perlu berteriak-teriak. Inti dari dzikir adalah kehadiran hati dan kekhusyukan, bukan kerasnya suara.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jihad was-Siyar (Perang dan Perjalanan), Bab "Ma Yukrahu min Raf'il-Shaut bit-Takbir" (Bab Apa yang Dilarang dari Menaikkan Suara dalam Takbir), no. 2992, dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah [2]: 186)
Ayat ini menegaskan kedekatan Allah dengan hamba-Nya, yang menjadi dasar larangan mengeraskan suara secara berlebihan dalam doa dan dzikir.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran adab yang sangat agung dalam beribadah, khususnya dalam hal dzikir dan doa.
1. Makna "ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ" (Arbi'u 'ala anfusikum)
Imam Ibn Hajar Al-'Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna kalimat ini adalah "rendahkanlah suara kalian dan kasihanilah diri kalian sendiri" agar tidak kelelahan karena berteriak. Ada juga yang menafsirkan dengan "tahanlah diri kalian dari mengeraskan suara". Ini adalah nasihat Nabi ﷺ yang penuh kasih sayang kepada para sahabatnya.
2. Larangan Mengeraskan Suara dalam Dzikir
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin menjelaskan bahwa dzikir yang disyariatkan adalah yang dilakukan dengan suara pertengahan, tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan. Yang terpenting adalah hati hadir dan khusyuk. Beliau juga menegaskan bahwa mengeraskan suara dalam dzikir secara berjamaah dengan suara yang nyaring bukanlah petunjuk Nabi ﷺ.
3. Hikmah Larangan Tersebut
Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan hikmah larangan ini, yaitu agar orang yang berdzikir tidak mengganggu orang lain yang sedang shalat atau berdzikir, dan agar ia tidak terjerumus pada sikap riya' (ingin dilihat atau didengar orang lain). Beliau juga menukil kesepakatan ulama tentang disunnahkannya merendahkan suara dalam dzikir, kecuali jika ada maslahat tertentu seperti untuk mengajarkan orang lain.
4. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah Ta'ala mendengar semua suara, baik yang keras maupun yang lembut, bahkan yang masih terlintas dalam hati. Kedekatan Allah dengan hamba-Nya adalah kedekatan yang sempurna, di mana Dia mengetahui segala keadaan hamba dan mengabulkan doa mereka. Maka tidak perlu berteriak-teriak dalam berdoa, karena Allah lebih mendengar suara yang pelan daripada suara yang keras.
5. Pelajaran dari Kisah Ini
Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal-Hikam menyebutkan bahwa para sahabat ketika dalam perjalanan dan melewati lembah atau tempat yang tinggi, mereka mengeraskan suara takbir dan tahlil karena semangat ibadah. Namun Nabi ﷺ meluruskan mereka dengan mengajarkan bahwa dzikir yang baik adalah yang disertai ketenangan dan kesadaran hati, bukan sekadar suara yang keras.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa para sahabat radhiyallahu 'anhum dalam perjalanan bersama Rasulullah ﷺ, ketika mereka mendaki atau menuruni lembah, mereka mengeraskan suara dengan ucapan "Allahu Akbar" dan "La ilaha illallah". Suara mereka meninggi hingga hampir seperti teriakan.
Maka Rasulullah ﷺ dengan penuh kelembutan menasihati mereka: "Wahai manusia, tahanlah diri kalian (dari mengeraskan suara). Sesungguhnya kalian tidak sedang memanggil Dzat yang tuli atau yang tidak ada di tempat. Sesungguhnya Dia bersama kalian, Dia Maha Mendengar dan Maha Dekat."
Para sahabat yang mulia ini adalah orang-orang yang paling semangat dalam beribadah, namun mereka tetap membutuhkan bimbingan Nabi ﷺ dalam hal adab. Ini menunjukkan bahwa ilmu tentang adab beribadah sama pentingnya dengan semangat beribadah itu sendiri. Semangat tanpa adab bisa membawa seseorang pada sikap yang keliru, sebagaimana adab tanpa semangat bisa membuat ibadah menjadi kering.
Kesimpulan Praktis
- Rendahkan suara saat berdzikir dan berdoa - tidak perlu berteriak-teriak karena Allah Maha Mendengar.
- Fokus pada kehadiran hati - inti dzikir adalah kekhusyukan dan kesadaran bahwa kita sedang bermunajat kepada Allah.
- Jangan mengganggu orang lain - mengeraskan suara dzikir dapat mengganggu orang yang sedang shalat atau beribadah lainnya.
- Teladani Nabi ﷺ - beliau mengajarkan dzikir dengan suara pertengahan, tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan.
- Jauhi sikap riya' - salah satu bahaya mengeraskan suara dalam ibadah adalah munculnya keinginan untuk didengar orang lain.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.