Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 2981 tentang Bekal perang dan tata cara shalat safar

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa ketika Nabi ﷺ dan para sahabat dalam perjalanan menuju Khaibar. Mereka singgah di As-Sahba', lalu shalat Ashar. Setelah itu, Nabi ﷺ meminta makanan, dan hanya ada sawiq (makanan dari gandum/jelai yang disangrai lalu digiling). Mereka memakannya dan minum air, kemudian Nabi ﷺ berkumur dan shalat (sunnah/rawatib). Hadits ini menunjukkan bahwa berkumur setelah makan sawiq dilakukan untuk membersihkan sisa makanan yang dapat mengganggu shalat, dan ini adalah bentuk perhatian Nabi ﷺ terhadap kebersihan dan kesempurnaan ibadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Perang, Bab Membawa Bekal dalam Perang, nomor 2981. Perawinya adalah Suwaid bin An-Nu'man radhiyallahu 'anhu.

Dalil dari Al-Qur'an yang relevan dengan semangat hadits ini adalah perintah untuk menjaga kebersihan dan kesempurnaan ibadah, sebagaimana firman Allah ﷻ:

QS. Al-Ma'idah [5]: 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai ke kedua mata kaki."

Ayat ini menunjukkan perhatian syariat terhadap kebersihan lahiriah dalam ibadah shalat, sejalan dengan tindakan Nabi ﷺ yang berkumur sebelum shalat setelah makan sawiq.

Penjelasan ulama tentang hadits ini:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sawiq adalah makanan yang terbuat dari gandum atau jelai yang disangrai lalu digiling. Beliau menyebutkan bahwa berkumur setelah memakannya adalah untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang mungkin tersisa di mulut, agar tidak mengganggu shalat. Ini adalah bentuk kesempurnaan dalam beribadah.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa berkumur setelah makan sawiq atau makanan yang memiliki sisa di mulut adalah perkara yang dianjurkan, karena kebersihan mulut adalah bagian dari kesempurnaan shalat.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya membawa bekal makanan dalam perang, dan juga menunjukkan perhatian Nabi ﷺ terhadap kebersihan mulut sebelum shalat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

  1. Kebolehan membawa bekal dalam perang: Nabi ﷺ dan para sahabat membawa sawiq sebagai bekal perjalanan menuju Khaibar. Ini menunjukkan bahwa mempersiapkan bekal untuk jihad dan perjalanan adalah perkara yang dianjurkan, selama bekal tersebut halal dan bermanfaat.
  2. Kebersihan mulut sebelum shalat: Setelah makan sawiq yang memiliki tekstur halus dan dapat meninggalkan sisa di mulut, Nabi ﷺ berkumur terlebih dahulu sebelum shalat. Ini menunjukkan bahwa kebersihan mulut adalah bagian dari kesempurnaan shalat. Para ulama menjelaskan bahwa berkumur di sini bukanlah bagian dari wudhu (karena mereka sudah berwudhu untuk shalat Ashar), tetapi dilakukan secara khusus untuk membersihkan sisa makanan.
  3. Urutan ibadah yang benar: Dalam hadits ini, mereka shalat Ashar terlebih dahulu, kemudian makan, lalu shalat sunnah (rawatib ba'diyah Ashar). Ini menunjukkan bahwa shalat wajib didahulukan, kemudian setelah itu boleh melakukan aktivitas lain, lalu shalat sunnah.
  4. Kemudahan dalam beribadah: Hadits ini juga menunjukkan bahwa Islam tidak memberatkan. Mereka makan sawiq yang sederhana, minum air, lalu shalat. Ini mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dalam makan dan minum, serta tetap menjaga ibadah dalam kondisi apapun.

Pandangan ulama tentang berkumur setelah makan:

  • Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ sangat memperhatikan kebersihan mulut, dan berkumur setelah makan adalah bagian dari sunnah beliau, terutama jika makanan tersebut meninggalkan sisa di mulut.
  • Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm menyebutkan bahwa berkumur setelah makan adalah perkara yang dianjurkan, karena dapat membersihkan mulut dan menjaga kesempurnaan shalat.

Story Telling

Dari hadits ini, kita bisa mengambil hikmah dari kesederhanaan hidup Nabi ﷺ dan para sahabat. Mereka berangkat menuju Khaibar dengan bekal yang sangat sederhana, hanya sawiq — makanan yang terbuat dari gandum atau jelai yang disangrai dan digiling. Tidak ada makanan mewah, tidak ada perbekalan berlebihan. Namun, dengan bekal yang sederhana itu, mereka tetap semangat berjihad di jalan Allah.

Yang lebih mengagumkan, meskipun dalam kondisi perjalanan dan perang, Nabi ﷺ tetap menjaga kebersihan dan kesempurnaan ibadah. Beliau tidak langsung shalat setelah makan, tetapi berkumur terlebih dahulu untuk membersihkan mulutnya. Ini menunjukkan bahwa ibadah bukan sekadar gerakan dan bacaan, tetapi juga melibatkan kebersihan lahir dan batin.

Imam Al-Hasan al-Bashri pernah berkata, "Sesungguhnya seorang mukmin itu menggabungkan antara keindahan ibadah dan kebersihan diri, karena Allah itu indah dan mencintai keindahan." (Diriwayatkan secara maknawi dalam berbagai sumber atsar).

Kesimpulan Praktis

Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Mempersiapkan bekal untuk perjalanan, baik perjalanan ibadah, kerja, atau aktivitas lainnya, adalah perkara yang dianjurkan selama bekal tersebut halal dan bermanfaat.
  2. Menjaga kebersihan mulut sebelum shalat, terutama setelah makan makanan yang meninggalkan sisa seperti sawiq, kopi, atau makanan lainnya. Berkumur atau menggosok gigi adalah bagian dari kesempurnaan shalat.
  3. Mendahulukan shalat wajib dari aktivitas lainnya, dan tidak menunda-nunda shalat karena alasan makan atau aktivitas duniawi.
  4. Hidup sederhana dan tidak berlebihan dalam makan dan minum, sebagaimana Nabi ﷺ dan para sahabat yang hanya membawa bekal seadanya namun tetap semangat beribadah.
  5. Menjaga kesempurnaan ibadah dengan memperhatikan kebersihan lahir dan batin, karena shalat adalah tiang agama dan momen menghadap Allah ﷻ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.