Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 2964 tentang Ketaatan kepada pemimpin hanya dalam hal yang mampu dilakukan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi nasihat berharga dari sahabat Nabi ﷺ, yaitu Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, tentang sikap seorang mukmin dalam menghadapi ujian zaman. Intinya ada tiga: pertama, teladan para sahabat dalam ketaatan kepada pemimpin selama tidak bertentangan dengan syariat; kedua, pentingnya bertanya kepada ulama ketika ragu dalam urusan agama; dan ketiga, gambaran bahwa dunia ini semakin keruh dan berkurang kebaikannya, sehingga kita harus semakin berhati-hati dan bertakwa.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Perang, Bab "Ketegasan Imam Terhadap Apa yang Mampu Dilakukan Rakyat", no. 2964, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Dalil-dalil lain yang relevan:

1. QS. At-Taghabun [64]: 11

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

2. QS. Al-Anbiya' [21]: 7

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu (ahli dzikir), jika kamu tidak mengetahui."

3. Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ، وَمَنْ يُطِعِ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي

"Barang siapa menaatiku, maka ia telah menaati Allah. Barang siapa bermaksiat kepadaku, maka ia telah bermaksiat kepada Allah. Barang siapa menaati pemimpin (amir), maka ia telah menaatiku. Dan barang siapa bermaksiat kepada pemimpin, maka ia telah bermaksiat kepadaku." (HR. Muslim no. 1835)

Kaitan dengan ulama dalam daftar:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin adalah wajib dalam hal yang ma'ruf (baik), dan tidak ada ketaatan dalam maksiat.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bab ini dengan menukil perkataan para ulama bahwa seorang pemimpin hendaknya tidak membebani rakyat di luar kemampuan mereka, sebagaimana dipraktikkan Nabi ﷺ.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menekankan bahwa bertanya kepada ulama adalah jalan keselamatan ketika terjadi keraguan, sebagaimana diperintahkan dalam QS. Al-Anbiya' [21]: 7.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah percakapan antara Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu dengan seorang laki-laki yang datang bertanya. Laki-laki itu menceritakan tentang seorang yang "mu'din" (kaya dan mampu) dan "nasyith" (aktif, bersemangat) yang ikut berperang bersama para pemimpin, tetapi ia sering memerintahkan hal-hal yang memberatkan dan sulit dilakukan oleh pasukan.

Abdullah bin Mas'ud menjawab dengan jujur bahwa ia tidak tahu jawaban pasti, lalu ia memberikan tiga pelajaran penting:

Pertama: Teladan Nabi ﷺ dalam memimpin.

Ibnu Mas'ud berkata: "Kami bersama Nabi ﷺ, dan beliau tidak pernah memerintahkan kami suatu perkara kecuali sekali saja, lalu kami langsung melaksanakannya." Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Nabi ﷺ penuh kasih sayang, tidak memberatkan, dan memperhatikan kemampuan umatnya. Beliau ﷺ tidak memerintahkan sesuatu berulang-ulang atau memaksa di luar batas kemampuan. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Kedua: Kunci kebaikan adalah takwa dan bertanya kepada ulama.

Ibnu Mas'ud berkata: "Salah seorang dari kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan selama ia bertakwa kepada Allah. Jika ia ragu dalam hatinya tentang sesuatu, hendaknya ia bertanya kepada seseorang yang bisa menghilangkan keraguannya." Ini adalah isyarat penting bahwa di tengah kebingungan dan fitnah, seorang mukmin harus kembali kepada Allah dengan takwa, dan bertanya kepada ulama yang benar. Namun Ibnu Mas'ud juga mengingatkan: "Sebentar lagi kalian tidak akan menemukan orang seperti itu." Ini adalah kabar tentang semakin langkanya ulama di akhir zaman, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Al-Bukhari dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, bahwa Allah tidak mencabut ilmu dengan sekali cabut, tetapi dengan mewafatkan para ulama, sehingga manusia mengangkat pemimpin yang bodoh, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu dan sesat serta menyesatkan.

Ketiga: Hakikat dunia yang semakin keruh.

Ibnu Mas'ud mengumpamakan dunia yang telah berlalu seperti kolam (tsa'ghb) yang air jernihnya telah habis diminum, dan yang tersisa hanyalah air keruh. Ini adalah peringatan bahwa zaman semakin buruk, kebaikan semakin berkurang, dan fitnah semakin banyak. Maka seorang mukmin hendaknya tidak terlalu berharap pada dunia, tetapi bersiap untuk akhirat.

Pandangan ulama dalam daftar:

  • Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa takwa adalah wasiat utama para nabi dan orang-orang shalih. Barang siapa bertakwa, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesulitan.
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa menegaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin dalam hal yang ma'ruf adalah wajib, tetapi tidak ada ketaatan dalam maksiat. Ini adalah ijma' ulama.
  • Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam bab "Ketegasan Imam Terhadap Apa yang Mampu Dilakukan Rakyat", yang menunjukkan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah yang tidak memaksakan rakyatnya di luar kemampuan, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah ditanya tentang sikap seorang mukmin di tengah banyaknya fitnah dan kebingungan. Beliau menjawab dengan menangis, lalu berkata: "Berpeganglah dengan Al-Qur'an dan Sunnah, dan tinggalkanlah apa yang dipertengkarkan orang-orang. Karena keselamatan itu ada pada mengikuti jejak salaf, meskipun engkau dianggap aneh oleh manusia."

Ini senada dengan nasihat Ibnu Mas'ud dalam hadits di atas: ketika ragu, kembalilah kepada orang yang berilmu. Dan ketika ulama sudah langka, maka berpeganglah pada takwa dan warisan para ulama yang telah lalu, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman salaf.

Hikmahnya: di zaman yang penuh syubhat (kerancuan), seorang mukmin tidak boleh berjalan sendiri tanpa rujukan. Ia harus bertanya kepada ulama yang benar, dan jika tidak menemukannya, ia harus berpegang pada kitab-kitab ulama Ahlus Sunnah yang telah diakui keilmuannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Taati pemimpin dalam hal yang ma'ruf, selama tidak bertentangan dengan syariat. Jika diperintah maksiat, tidak ada ketaatan.
  2. Jangan memberatkan diri dan orang lain di luar kemampuan, karena syariat dibangun di atas kemudahan.
  3. Jika ragu dalam urusan agama, bertanyalah kepada ulama yang benar, jangan berfatwa sendiri.
  4. Perbanyak takwa, karena itulah kunci kebaikan di setiap zaman, terutama di akhir zaman yang penuh fitnah.
  5. Jangan terlalu cinta dunia, karena dunia semakin keruh dan tidak akan pernah memuaskan. Jadikan akhirat sebagai tujuan utama.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.