Penjelasan Hadits Bukhari No. 2958 tentang Baiat untuk bersabar dalam perang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan tentang peristiwa Bai'atur Ridwan yang terjadi di Hudaibiyah. Inti hadits ini adalah menjelaskan bahwa bai'at yang diambil Nabi ﷺ dari para sahabat saat itu bukanlah bai'at untuk mati, melainkan bai'at untuk bersabar. Ini adalah rahmat dari Allah, karena dengan kesabaran itulah mereka mendapatkan kemenangan dan keridhaan Allah. Hadits ini juga menunjukkan bahwa setelah beberapa waktu, para sahabat tidak lagi mengingat secara pasti lokasi pohon tempat bai'at itu terjadi, dan ini pun merupakan rahmat agar tempat tersebut tidak dijadikan sebagai tempat yang dikeramatkan dan disembah-sembah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Nafi', dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Siyar, Bab Bai'at dalam Perang agar Tidak Melarikan Diri, no. 2958.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Peristiwa Bai'atul Ridwan ini Allah abadikan dalam firman-Nya:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

"Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat." (QS. Al-Fath [48]: 18)

Penjelasan Ulama:

Peristiwa ini dijelaskan oleh para ulama, di antaranya:

  • Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Bai'atul Ridwan, dan bahwa Allah meridhai mereka serta memberitahukan keridhaan-Nya kepada mereka.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa bai'at tersebut adalah untuk bersabar dan tidak melarikan diri dari medan perang, bukan untuk mati secara spesifik.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

1. Latar Belakang Bai'atul Ridwan

Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-6 Hijriyah, ketika Nabi ﷺ dan para sahabat berangkat menuju Makkah untuk umrah, namun dihalangi oleh kaum Quraisy. Ketika tersiar kabar bahwa Utsman bin Affan yang diutus Nabi ﷺ untuk berunding telah dibunuh oleh kaum Quraisy, Nabi ﷺ memanggil para sahabat untuk berbai'at di bawah sebatang pohon di Hudaibiyah. Bai'at ini dikenal dengan Bai'atul Ridwan.

2. Makna Bai'at: Sabar, Bukan Mati

Dalam hadits ini, Nafi' dengan tegas menjelaskan bahwa bai'at tersebut bukanlah untuk mati, melainkan untuk bersabar. Ini menunjukkan bahwa tujuan utama bai'at tersebut adalah komitmen untuk tetap teguh dan sabar dalam menghadapi musuh, tidak melarikan diri dari medan perang, dan siap menghadapi segala konsekuensi dengan ketabahan.

3. Hikmah Tidak Diketahuinya Lokasi Pohon

Ibnu Umar menyatakan bahwa pada tahun berikutnya, tidak ada dua orang pun yang sepakat tentang pohon mana yang menjadi tempat bai'at tersebut. Ini adalah rahmat dari Allah. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hikmahnya adalah agar tempat tersebut tidak dijadikan sebagai tempat yang dikeramatkan dan disembah-sembah, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum-kaum sebelumnya terhadap tempat-tempat bersejarah mereka. Ini adalah bentuk penjagaan Allah terhadap kemurnian tauhid.

4. Pelajaran tentang Adab Terhadap Tempat Bersejarah

Hadits ini mengajarkan bahwa dalam Islam, kita tidak diperintahkan untuk mengagungkan tempat-tempat bersejarah secara berlebihan, apalagi sampai menjadikannya sebagai tempat ziarah yang dikeramatkan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hal ini menunjukkan bahwa Islam menjaga kemurnian ibadah dan menjauhkan umatnya dari perbuatan yang bisa mengarah pada kesyirikan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika peristiwa Bai'atul Ridwan terjadi, para sahabat berbondong-bondong memberikan bai'at mereka kepada Nabi ﷺ. Di antara mereka, ada seorang sahabat yang bernama Salamah bin Al-Akwa'. Ia datang dan berbai'at, kemudian pergi, lalu kembali lagi untuk berbai'at. Nabi ﷺ bertanya, "Apa yang membuatmu berbai'at dua kali, wahai Salamah?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, aku berbai'at untuk diriku sendiri, dan kemudian aku kembali untuk berbai'at atas nama keluargaku." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh, engkau telah berbai'at untuk dirimu dan keluargamu." (HR. Al-Bukhari)

Kisah ini menunjukkan semangat para sahabat dalam memberikan bai'at dan kesetiaan mereka kepada Nabi ﷺ. Mereka tidak ragu dan tidak takut, karena mereka yakin bahwa berada di sisi Rasulullah ﷺ adalah kemenangan, baik hidup maupun mati.

Kesimpulan Praktis

  1. Meneladani Kesabaran: Bai'atul Ridwan mengajarkan kita untuk bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan, terutama dalam mempertahankan kebenaran.
  2. Tidak Mengagungkan Tempat Secara Berlebihan: Kita tidak boleh mengkeramatkan tempat-tempat bersejarah hingga menjadikannya sebagai sarana ibadah atau dikultuskan, karena hal ini bisa menjerumuskan pada kesyirikan.
  3. Menjaga Kemurnian Tauhid: Islam mengajarkan kita untuk fokus pada ibadah kepada Allah semata, bukan pada tempat atau benda-benda bersejarah.
  4. Meneladani Semangat Sahabat: Para sahabat menunjukkan ketaatan dan kesetiaan yang luar biasa kepada Nabi ﷺ. Kita harus meneladani semangat mereka dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?