Penjelasan Hadits Bukhari No. 2940 tentang Seruan Nabi kepada Kaisar Romawi untuk masuk Islam

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan surat Nabi ﷺ kepada Kaisar Romawi (Heraklius) yang mengajaknya masuk Islam, dan dialog Heraklius dengan Abu Sufyan (yang saat itu masih kafir) tentang sifat-sifat Nabi ﷺ. Heraklius mengenali tanda-tanda kenabian dari jawaban Abu Sufyan, mengakui kebenarannya, namun tidak masuk Islam karena takut kehilangan kekuasaannya. Hadits ini mengajarkan tentang kejujuran, tanda-tanda kenabian, dan bahwa hidayah adalah urusan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang disebutkan dalam surat Nabi ﷺ:

QS. Ali 'Imran [3]: 64

وَقُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Terjemahan: "Katakanlah: 'Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat yang sama bagi kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.' Jika mereka berpaling, maka katakanlah: 'Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Perang, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, melalui jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri) — seorang tabi'in yang termasuk dalam daftar ulama rujukan.

Penjelasan Rinci

1. Konteks Hadits

Hadits ini menggambarkan peristiwa setelah Perjanjian Hudaibiyah, ketika Nabi ﷺ mengirim surat kepada beberapa penguasa besar, termasuk Heraklius (Kaisar Romawi). Surat itu dibawa oleh Dihyah Al-Kalbi radhiyallahu 'anhu, dan disampaikan melalui Gubernur Busra.

2. Metode Dakwah Nabi ﷺ

Nabi ﷺ memulai suratnya dengan "Bismillahirrahmanirrahim" dan menyebut dirinya sebagai "hamba Allah dan Rasul-Nya". Ini menunjukkan adab dan ketawadhuan beliau. Beliau mengajak dengan lembut: "Aslim taslam" (Masuklah Islam, engkau akan selamat). Ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Ali 'Imran [3]: 64 yang beliau kutip.

3. Kecerdasan Heraklius dalam Menguji Kenabian

Heraklius mengajukan sepuluh pertanyaan kepada Abu Sufyan untuk menguji kebenaran kenabian Muhammad ﷺ:

  • Nasabnya
  • Apakah ada yang mengklaim hal serupa sebelumnya
  • Apakah pernah dituduh berdusta
  • Apakah dari keturunan raja
  • Pengikutnya orang kuat atau lemah
  • Bertambah atau berkurang
  • Ada yang murtad karena benci
  • Apakah pernah berkhianat
  • Bagaimana hasil peperangan
  • Apa yang diperintahkan

Jawaban Abu Sufyan — meskipun saat itu masih kafir dan memusuhi Nabi ﷺ — semuanya jujur, kecuali satu kalimat yang ia tambahkan untuk merendahkan Nabi ﷺ (tentang kekhawatiran pengkhianatan), namun Heraklius tetap mengenali kebenaran.

4. Analisis Heraklius

Heraklius menyimpulkan bahwa semua jawaban itu sesuai dengan ciri-ciri para nabi:

  • Para nabi memang diutus dari nasab mulia
  • Tidak ada yang mengklaim kenabian sebelumnya
  • Tidak pernah terbukti berdusta
  • Bukan dari keturunan raja yang mencari kekuasaan
  • Pengikut para nabi umumnya orang-orang lemah (bukan pembesar)
  • Iman mereka bertambah, tidak berkurang
  • Tidak ada yang murtad karena benci
  • Para nabi tidak berkhianat
  • Para nabi diuji dengan peperangan dan akhirnya menang
  • Yang diperintahkan adalah tauhid, shalat, sedekah, kejujuran, kesucian diri, menepati janji, dan menunaikan amanah

5. Sikap Heraklius

Heraklius mengakui: "Ini adalah sifat seorang nabi. Aku tahu dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka dia dari kalangan kalian. Jika apa yang kamu katakan benar, dia akan segera menguasai tempat kedua kakiku ini. Jika aku bisa menemuinya, aku akan mencuci kakinya."

Namun, ia tidak masuk Islam karena takut kehilangan kekuasaan. Ini menunjukkan bahwa hidayah adalah urusan Allah, dan kekuasaan bisa menjadi penghalang.

6. Pelajaran dari Abu Sufyan

Abu Sufyan mengakui bahwa ia merasa hina dan yakin bahwa urusan Nabi ﷺ akan menang, hingga Allah memasukkan Islam ke dalam hatinya — meskipun awalnya ia membencinya. Ini menunjukkan bahwa kebenaran bisa masuk ke hati meskipun seseorang awalnya menolak.

7. Pemahaman Ulama

  • Az-Zuhri (tabi'in) meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang shahih, menunjukkan pentingnya periwayatan yang teliti.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya berdakwah kepada penguasa dengan surat, dan bahwa tanda-tanda kenabian dapat dikenali oleh orang yang berakal.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (hadits serupa) menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Abu Sufyan dalam kejujuran meskipun saat itu kafir, dan bahwa Allah menjaga Nabi-Nya dari tuduhan dusta.
  • Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa Heraklius sebenarnya mengenali kebenaran, tetapi tidak masuk Islam karena kekuasaan.

Story Telling

Suatu ketika, setelah Perjanjian Hudaibiyah, Nabi ﷺ mengirim surat kepada Heraklius, Kaisar Romawi. Surat itu dibawa oleh Dihyah Al-Kalbi. Ketika surat sampai, Heraklius sedang berada di Yerusalem (Ilya) setelah kemenangannya atas Persia. Ia memerintahkan mencari orang Arab dari Quraisy untuk ditanyai tentang Nabi ﷺ.

Kebetulan, Abu Sufyan — yang saat itu masih kafir dan memusuhi Nabi ﷺ — sedang berdagang di Syam bersama rombongan Quraisy. Mereka dibawa menghadap Heraklius. Heraklius bertanya melalui penerjemahnya: "Siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan orang yang mengaku nabi ini?"

Abu Sufyan menjawab: "Aku." Heraklius memerintahkan agar Abu Sufyan didekatkan, dan teman-temannya berdiri di belakangnya. Heraklius berkata: "Jika dia berdusta, bantah dia."

Abu Sufyan berkata dalam hatinya: "Demi Allah, seandainya bukan karena rasa malu jika teman-temanku menyebutku pendusta, aku akan berdusta tentangnya." Tetapi ia memilih jujur.

Heraklius bertanya satu per satu, dan Abu Sufyan menjawab dengan jujur. Ketika Heraklius mendengar jawaban bahwa Nabi ﷺ memerintahkan tauhid, shalat, sedekah, kejujuran, kesucian diri, menepati janji, dan menunaikan amanah — Heraklius berkata: "Ini adalah sifat seorang nabi. Aku tahu dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka dia dari kalangan kalian. Jika apa yang kamu katakan benar, dia akan segera menguasai tempat kedua kakiku ini. Jika aku bisa menemuinya, aku akan mencuci kakinya."

Namun, ketika para pembesar Romawi di sekitarnya ribut menolak, Heraklius tidak masuk Islam karena takut kehilangan kekuasaan. Abu Sufyan kemudian berkata: "Demi Allah, aku tetap merasa hina dan yakin bahwa urusannya akan menang, hingga Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku — meskipun aku awalnya membencinya."

Kesimpulan Praktis

  1. Dakwah dengan hikmah: Nabi ﷺ mengajak penguasa dengan surat yang penuh adab dan tauhid.
  2. Kejujuran adalah kunci: Abu Sufyan jujur meskipun saat itu kafir, dan kejujuran itu membawa kebaikan.
  3. Tanda-tanda kenabian dapat dikenali: Heraklius mengenali kebenaran dari sifat-sifat Nabi ﷺ.
  4. Hidayah adalah urusan Allah: Heraklius tahu kebenaran tetapi tidak masuk Islam karena kekuasaan.
  5. Jangan takut kebenaran: Abu Sufyan akhirnya masuk Islam meskipun awalnya membenci.
  6. Tauhid adalah inti dakwah: Surat Nabi ﷺ mengutip QS. Ali 'Imran [3]: 64 yang menyeru kepada tauhid murni.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?