Penjelasan Hadits Bukhari No. 2929 tentang Tanda kiamat perang melawan orang bersepatu rambut

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu tanda besar kenabian (nubuwah) yang sudah terbukti: Nabi ﷺ mengabarkan bahwa umat Islam akan memerangi suatu kaum yang bercirikan sepatu dari rambut, wajah lebar seperti perisai berlapis kulit, mata kecil, dan hidung pesek. Para ulama menjelaskan ini sebagai isyarat tentang bangsa Tartar/Mongol dan sejenisnya. Bagi kita, hadits ini mengajarkan agar berpegang teguh pada sunnah, tidak ghuluw, dan menyiapkan diri menghadapi ujian zaman.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Perang, Bab Memerangi Mereka yang Memakai Sepatu dari Rambut, dari jalur Sufyan bin 'Uyainah (wafat 198 H) — salah satu ulama dalam daftar rujukan — dari Az-Zuhri (wafat 124 H) dari Sa'id bin al-Musayyib (wafat 94 H) dari Abu Hurairah رضي الله عنه.

Teks hadits:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمُ الشَّعَرُ، وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطَرَّقَةُ

"Tidak akan terjadi Kiamat hingga kalian memerangi suatu kaum yang sepatu mereka dari rambut, dan tidak akan terjadi Kiamat hingga kalian memerangi suatu kaum yang wajah mereka seperti perisai yang dilapisi kulit."

Dalam riwayat tambahan (Abu Az-Zinad dari Al-A'raj dari Abu Hurairah):

صِغَارَ الْأَعْيُنِ، ذُلْفَ الْأُنُوفِ، كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطَرَّقَةُ

"(Mereka) bermata kecil, berhidung pesek, wajah mereka seperti perisai yang dilapisi kulit."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan kewajiban berpegang pada sunnah dan berjihad sesuai tuntunan:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

QS. Al-Baqarah [2]: 190

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

Penjelasan Rinci

Hadits ini termasuk 'alamat an-nubuwwah (bukti kenabian), karena mengabarkan peristiwa besar yang terjadi setelah Nabi ﷺ wafat. Para ulama dalam daftar rujukan menjelaskannya sebagai berikut:

Pertama, makna "sepatu dari rambut" dan "wajah seperti perisai berlapis kulit." Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ciri-ciri ini menggambarkan bangsa yang tinggal di wilayah dingin, yang membuat sepatu dari bulu/rambut hewan untuk menghangatkan kaki, dan memiliki wajah lebar dengan tulang pipi menonjol sehingga menyerupai perisai kulit yang dilapisi (majan mutarraqah). Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan bahwa ini adalah sifat fisik bangsa Tartar/Mongol.

Kedua, siapa yang dimaksud. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan Tafsir-nya menegaskan bahwa yang dimaksud adalah bangsa Tartar (Mongol) yang dipimpin Jenghis Khan, yang menyerbu negeri-negeri Islam pada abad ke-7 H, membunuh banyak kaum muslimin, menghancurkan Baghdad, dan melakukan kerusakan besar. Ini termasuk tanda Kiamat yang sudah terjadi. Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala dan Al-'Ibar juga mencatat peristiwa mengerikan ini sebagai realisasi hadits tersebut.

Ketiga, pelajaran aqidah. Ibn Taymiyyah dalam Minhaj as-Sunnah dan Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebenaran risalah Nabi ﷺ, dan bahwa umat Islam wajib bersiap menghadapi fitnah serta berpegang pada sunnah, bukan bersandar pada kekuatan semata. Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menekankan bahwa hadits-hadits fitnah (malahim) berfungsi memperingatkan umat agar bertaubat dan kembali kepada Allah.

Keempat, adab dalam berjihad. Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Awza'i, dan Al-Layts bin Sa'd menegaskan bahwa memerangi musuh harus sesuai tuntunan syariat: tidak melampaui batas, tidak membunuh anak-anak, wanita, dan orang lemah, serta tidak merusak tanpa keperluan. Ini selaras dengan QS. Al-Baqarah [2]: 190 di atas.

Kelima, tidak ghuluw. Al-Hasan al-Bashri dan Fudhail bin 'Iyadh mengingatkan bahwa tanda-tanda Kiamat bukan alasan untuk bersikap ekstrem atau mengkafirkan sesama muslim. Yang dituntut adalah istiqamah, tawadhu, dan memperbanyak amal saleh.

Kesimpulan ilmiah: Hadits ini shahih, mutawatir maknanya (diriwayatkan banyak jalur), dan telah terbukti secara historis. Yang paling kuat adalah pendapat jumhur ulama dalam daftar bahwa yang dimaksud adalah bangsa Tartar/Mongol dan sejenisnya dari arah timur.

Story Telling

Dikisahkan dalam kitab-kitab sejarah yang ditulis ulama seperti Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan Adz-Dzahabi dalam Al-'Ibar: ketika pasukan Tartar menyerbu Baghdad tahun 656 H, mereka melakukan pembunuhan besar-besaran, menghancurkan masjid, membakar kitab-kitab ilmu, dan menumpahkan darah kaum muslimin. Sebelumnya, seorang ulama besar, Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah, ketika menghadapi serbuan Tartar di Syam, beliau mengumpulkan umat, mengingatkan mereka akan hadits ini, dan mengajak mereka bertaubat serta berpegang pada sunnah. Beliau berkata kepada pasukan: "Kalian menang bukan karena jumlah, tetapi karena ketaatan kepada Allah." Hikmahnya: hadits-hadits fitnah bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangunkan hati agar kembali kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah pada kebenaran kenabian — hadits ini sudah terbukti, menambah iman kepada Nabi ﷺ.
  2. Berpegang pada sunnah dalam setiap keadaan, terutama saat fitnah, sesuai pesan Ibn Taymiyyah dan Ibnul Qayyim.
  3. Jauhi ghuluw dan takfir — sebagaimana nasihat Al-Hasan al-Bashri dan Fudhail bin 'Iyadh.
  4. Perbaiki diri dan umat dengan ilmu, taubat, dan amal saleh, bukan sekadar menunggu tanda Kiamat.
  5. Berjihad sesuai tuntunan — dengan adab syariat, tidak melampaui batas (QS. Al-Baqarah [2]: 190).
  6. Rujuk ulama terpercaya dalam memahami hadits-hadits fitnah, agar tidak salah langkah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?