Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 2877 tentang Mimpi umat berjihad di laut dan doa wanita ikut serta

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan tentang Ummu Haram binti Milhan, seorang wanita shahabiyah yang sangat mulia. Rasulullah ﷺ mengabarkan tentang umatnya yang akan berperang di jalan Allah melalui laut, dan mereka digambarkan seperti raja-raja di atas singgasana. Ummu Haram meminta didoakan agar termasuk golongan tersebut, dan beliau mendoakannya. Beliau juga mengabarkan bahwa ia termasuk golongan pertama, bukan yang terakhir. Kisah ini menunjukkan keutamaan jihad di jalan Allah, terutama melalui laut, serta kemuliaan Ummu Haram yang Allah kabulkan doanya dengan menjadikannya termasuk pasukan pertama yang berperang di laut.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks hadits di atas adalah riwayat shahih dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jihad wa As-Siyar, Bab Qital An-Nisa' fi Al-Bahr (Perang Wanita di Laut), no. 2877.

Dalil Al-Qur'an tentang Jihad di Jalan Allah:

Allah Ta'ala berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۚ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

"Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada fitnah dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka tidak ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah [2]: 193)

Ayat ini menunjukkan perintah jihad di jalan Allah, dan hadits ini menjelaskan salah satu bentuknya, yaitu berperang di lautan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Keutamaan Jihad di Jalan Allah

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah, terlebih lagi yang berlayar di lautan. Beliau menyebutkan bahwa para ulama memahami bahwa berperang di laut memiliki keutamaan khusus karena kesulitannya yang lebih besar dibandingkan berperang di darat.

2. Makna "Seperti Raja-raja di Atas Singgasana"

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa gambaran ini menunjukkan kemuliaan dan kehormatan yang Allah berikan kepada para mujahidin di jalan-Nya. Mereka dipermudah urusannya, dimenangkan, dan diberikan kewibawaan seperti raja-raja. Ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ tentang kejayaan umat Islam di masa mendatang.

3. Doa Nabi ﷺ untuk Ummu Haram

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa doa Nabi ﷺ untuk Ummu Haram adalah kehormatan besar. Beliau mendoakannya secara khusus, dan Allah mengabulkan doa tersebut dengan menjadikannya termasuk pasukan pertama yang berlayar di laut untuk berjihad di masa Khalifah Utsman bin Affan, bersama Mu'awiyah bin Abi Sufyan.

4. Kabar tentang "Golongan Pertama dan Bukan yang Terakhir"

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "Anta min al-awwalin wa lasta min al-akhirin" (Kamu dari golongan pertama, bukan dari golongan terakhir) adalah mukjizat kenabian. Ummu Haram benar-benar termasuk pasukan pertama yang berlayar di laut pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, dan ia wafat sebagai syahidah ketika terjatuh dari hewan tunggangannya setelah kembali dari perjalanan tersebut.

5. Kisah Akhir Hayat Ummu Haram

Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah meriwayatkan bahwa Ummu Haram ikut serta dalam ekspedisi laut pertama ke Siprus pada tahun 27 H. Setelah kembali, ia terjatuh dari hewan tunggangannya di daerah yang bernama Quds (dekat Damaskus) dan wafat di sana. Ini menunjukkan bahwa Allah mengabulkan doa Nabi ﷺ dan memuliakannya dengan kematian di jalan ketaatan.

6. Pelajaran tentang Wanita dan Jihad

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya wanita ikut serta dalam peperangan untuk tujuan-tujuan yang dibolehkan seperti mengobati yang terluka, memberi minum, dan membantu kaum muslimin, sebagaimana yang dilakukan oleh Ummu Haram dan Ummu Sulaim. Namun, jihad yang bersifat qital (berperang) adalah kewajiban bagi laki-laki, bukan wanita.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Ummu Haram binti Milhan adalah bibi Rasulullah ﷺ dari sisi persusuan. Ia adalah istri dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang mulia. Ketika Nabi ﷺ datang ke rumahnya, beliau berbaring dan tertidur, kemudian terbangun sambil tersenyum. Ummu Haram bertanya, "Apa yang membuatmu tersenyum, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Aku melihat dalam mimpiku ada sebagian umatku yang berperang di jalan Allah di tengah lautan, mereka seperti raja-raja di atas singgasana."

Ummu Haram yang memiliki semangat tinggi langsung meminta didoakan agar termasuk golongan tersebut. Nabi ﷺ mendoakannya. Kemudian beliau tertidur lagi dan terbangun sambil tersenyum lagi. Ummu Haram bertanya kembali, dan beliau menjawab seperti sebelumnya. Ia kembali meminta didoakan, dan Nabi ﷺ menjawab, "Engkau termasuk golongan pertama, bukan golongan terakhir."

Benar saja, pada masa Khalifah Utsman bin Affan, Mu'awiyah bin Abi Sufyan memimpin ekspedisi laut ke Siprus. Ummu Haram ikut serta bersama suaminya, Ubadah bin Shamit. Ia termasuk pasukan pertama yang berlayar di laut. Setelah kembali dari perjalanan tersebut, ia terjatuh dari hewan tunggangannya dan wafat sebagai syahidah. Allah mengabulkan doa Nabi-Nya ﷺ, dan Ummu Haram mendapatkan kemuliaan yang dijanjikan.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa keinginan yang kuat untuk berbuat kebaikan dan berjihad di jalan Allah akan dipermudah oleh Allah. Doa Nabi ﷺ adalah keberkahan yang besar, dan kematian di jalan ketaatan adalah kemuliaan yang tidak ternilai.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersemangatlah untuk beramal shalih, terutama amalan yang dicintai Allah seperti jihad dan dakwah, sesuai kemampuan masing-masing.
  2. Jangan meremehkan doa orang shalih, karena doa mereka adalah wasilah keberkahan.
  3. Yakinlah dengan kabar gembira dari Nabi ﷺ, karena semua yang beliau sampaikan adalah benar dan terbukti.
  4. Wanita juga memiliki peran dalam kebaikan, seperti membantu kaum muslimin dan mendukung perjuangan mereka, tanpa melanggar syariat.
  5. Kematian di jalan ketaatan adalah kemuliaan, sebagaimana yang dialami Ummu Haram radhiyallahu 'anha.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.