Penjelasan Hadits Bukhari No. 2812 tentang Bab Menghapus Debu dari Manusia di Jalan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan tentang keutamaan Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu yang sangat bersemangat dalam membangun Masjid Nabawi, hingga Nabi ﷺ menghapus debu dari kepalanya dan memberikan kabar ghaib bahwa beliau akan dibunuh oleh kelompok pemberontak (al-fi'ah al-baghiyah). Hadits ini menunjukkan keutamaan Ammar, tanda kenabian, dan peringatan tentang fitnah peperangan di kalangan umat Islam.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

QS. Al-Hujurat [49]: 9

وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ

"Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah."

Hadits Terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 2812, dari jalur Ikrimah dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 2915 dengan redaksi yang semakna.

Penjelasan Ulama:

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (18/18) menjelaskan bahwa hadits ini merupakan salah satu mukjizat Nabi ﷺ yang memberitakan hal ghaib, yaitu terbunuhnya Ammar bin Yasir oleh kelompok pemberontak. Beliau juga menegaskan bahwa yang dimaksud "al-fi'ah al-baghiyah" adalah kelompok yang memerangi khalifah yang sah tanpa alasan syar'i yang benar.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari (7/58) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Ammar bin Yasir dan bahwa beliau berada di pihak yang benar dalam perang Shiffin antara Ali dan Muawiyah radhiyallahu 'anhuma.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa faedah penting:

Pertama: Keutamaan Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu

Ammar adalah salah satu sahabat yang paling awal masuk Islam dan mendapat siksaan berat dari kaum Quraisy. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ secara langsung menghapus debu dari kepalanya sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Ammar, engkau akan dibunuh oleh kelompok pemberontak." (Musnad Ahmad, no. 18395, sanadnya shahih)

Kedua: Tanda Kenabian (Mukjizat)

Nabi ﷺ memberitakan peristiwa yang akan terjadi puluhan tahun setelah wafatnya, yaitu terbunuhnya Ammar dalam perang Shiffin (tahun 37 H) oleh pasukan Muawiyah. Ini menjadi bukti kebenaran kenabian beliau.

Ketiga: Makna "al-Fi'ah al-Baghiyah"

Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam al-Bidayah wa an-Nihayah (7/273) menjelaskan bahwa yang dimaksud "kelompok pemberontak" adalah pasukan Muawiyah yang memerangi Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Namun perlu dipahami bahwa mereka bukanlah kafir, melainkan muslim yang melakukan kesalahan ijtihad. Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa ketika Ammar terbunuh, Abdullah bin Amr bin al-Ash berkata: "Demi Allah, sungguh aku melihat bahwa yang membunuhnya adalah kelompok yang memberontak." (Shahih al-Bukhari, no. 2812)

Keempat: Pelajaran tentang Fitnah

Hadits ini mengajarkan bahwa dalam peperangan sesama muslim, kita harus berhati-hati dan tidak mudah menghakimi. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Zad al-Ma'ad (3/377) menjelaskan bahwa para sahabat yang terlibat dalam perang Shiffin semuanya adalah ahli ijtihad, dan yang salah mendapat satu pahala, yang benar mendapat dua pahala.

Story Telling

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, bahwa ketika perang Shiffin terjadi, Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu ikut berperang di pihak Ali. Beliau berusia sekitar 90 tahun saat itu. Ketika beliau terbunuh, banyak sahabat yang menangis karena mengingat sabda Nabi ﷺ.

Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma berkata: "Aku melihat ayahku (Amr bin al-Ash) pada hari itu, dan ia adalah orang yang paling keras memerangi Ali. Ketika Ammar terbunuh, aku berkata kepada ayahku: 'Ammar telah terbunuh, dan Rasulullah ﷺ telah bersabda bahwa yang membunuhnya adalah kelompok pemberontak.' Maka ayahku pun gemetar dan berkata: 'Jika memang demikian, maka kita adalah kelompok yang memberontak.'" (Riwayat al-Bukhari secara mu'allaq, dan diriwayatkan secara muttashil oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Kisah ini menunjukkan kejujuran para sahabat dalam menerima kebenaran, meskipun pahit. Mereka tidak membela kesalahan, tetapi kembali kepada dalil.

Kesimpulan Praktis

  1. Cintailah sahabat Nabi ﷺ, terutama Ammar bin Yasir yang memiliki keutamaan besar.
  2. Yakinilah bahwa Nabi ﷺ adalah benar, karena berita ghaibnya terbukti nyata.
  3. Berhati-hatilah dalam menghadapi fitnah peperangan sesama muslim, jangan mudah mengkafirkan atau membenci salah satu pihak.
  4. Ambillah pelajaran dari peristiwa Shiffin bahwa perbedaan ijtihad tidak boleh merusak ukhuwah Islamiyah.
  5. Doakan kebaikan untuk para sahabat yang telah berjuang menegakkan agama ini.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?