Penjelasan Hadits Bukhari No. 2786 tentang Keutamaan mukmin yang berjihad dan yang beribadah menjauhi manusia

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa manusia paling utama ada dua tingkatan: pertama, mukmin yang berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya; kedua, mukmin yang menyendiri di lereng gunung, ia menjaga ketakwaan kepada Allah dan tidak mengganggu manusia. Keduanya adalah orang beriman yang mulia, hanya saja yang pertama lebih utama karena manfaatnya lebih besar bagi agama, sedangkan yang kedua lebih utama dalam hal menjaga diri dari fitnah dan keburukan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Perang, Bab "Orang yang Paling Utama adalah Mukmin yang Berjuang di Jalan Allah" (no. 2786), dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Az-Zuhri dari 'Atha' bin Yazid Al-Laitsi.

Teks hadits:

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ». قَالُوا: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «مُؤْمِنٌ فِي شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَتَّقِي اللَّهَ، وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ».

Terjemahan: "Dikatakan, 'Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling utama?' Rasulullah ﷺ menjawab, 'Seorang mukmin yang berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya.' Mereka bertanya, 'Kemudian siapa?' Beliau menjawab, 'Seorang mukmin yang berada di salah satu lereng gunung, ia bertakwa kepada Allah dan menjauhkan manusia dari kejahatannya.'"

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan jihad dengan harta dan jiwa:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

QS. At-Taubah [9]: 111 — "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan (jaminan) surga bagi mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu adalah) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Itulah kemenangan yang agung."

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan dua tingkatan keutamaan manusia, dan keduanya adalah orang beriman. Ini penting dipahami agar kita tidak memahami hadits ini sebagai celaan terhadap orang yang menyendiri, atau sebaliknya merendahkan orang yang berjihad.

Pertama: Mukmin yang berjihad dengan jiwa dan harta.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "afdhal" (paling utama) di sini adalah keutamaan amal, bukan keutamaan iman secara mutlak. Jihad mencakup pengorbanan jiwa (berperang, berdakwah, menegakkan agama) dan harta (menafkahkan harta untuk perjuangan di jalan Allah). Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa jihad dengan harta dan jiwa adalah amal yang paling tinggi pahalanya karena di dalamnya terkumpul berbagai macam kebaikan: keberanian, keikhlasan, pengorbanan, dan manfaat bagi umat.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa jihad di jalan Allah adalah puncak amal karena tujuannya menegakkan kalimat Allah, membela agama, dan melindungi kaum muslimin. Karena itu, orang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya berada pada derajat tertinggi di sisi Allah.

Kedua: Mukmin yang menyendiri di lereng gunung.

Ini bukan berarti Islam mengajarkan hidup mengasingkan diri secara mutlak (monastisisme), karena hal itu dilarang dalam Islam. Yang dimaksud adalah keadaan di mana seseorang tidak mampu lagi menegakkan agama secara terbuka, atau ketika fitnah dan keburukan merajalela sehingga menyendiri menjadi jalan keselamatan. Ia tetap bertakwa kepada Allah, beribadah, dan tidak mengganggu manusia.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa menyendiri yang dipuji adalah menyendiri yang disertai ketakwaan dan ibadah, bukan menyendiri karena malas atau lari dari tanggung jawab. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa keselamatan agama seseorang adalah hal yang paling penting, dan jika seseorang tidak mampu berjihad atau berdakwah karena kelemahan atau karena fitnah yang berat, maka menyendiri sambil menjaga ketakwaan adalah pilihan yang baik.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama memahami hadits ini sebagai urutan keutamaan secara mutlak: mujahid lebih utama daripada orang yang menyendiri. Sebagian lain memahami bahwa keutamaan ini bersifat kondisional — bergantung pada keadaan zaman dan kemampuan seseorang. Imam Ibnu Hajar menguatkan bahwa pada umumnya mujahid lebih utama, namun dalam kondisi fitnah yang berat, menyendiri bisa menjadi lebih selamat dan lebih utama bagi orang tertentu. Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan keduanya: jihad lebih utama secara umum, tetapi menyendiri bisa lebih utama dalam kondisi tertentu yang penuh fitnah, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits lain tentang menjauhi fitnah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian salaf, seperti Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah, memilih menjauh dari keramaian dan berdiam di Makkah untuk beribadah dan mengajarkan kebaikan secara terbatas, karena beliau hidup di zaman yang penuh fitnah dan penyimpangan. Beliau berkata bahwa menjaga hati dari fitnah adalah bagian dari agama. Ini menunjukkan bahwa menyendiri yang dipuji adalah menyendiri yang disertai ilmu, ibadah, dan ketakwaan, bukan menyendiri karena kebodohan atau sikap acuh terhadap umat.

Demikian pula Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah menasihati agar seseorang menjaga lisannya dan tidak mencampuri urusan yang tidak bermanfaat, karena banyak keburukan datang dari pergaulan yang tidak dijaga. Namun beliau juga tidak meninggalkan dakwah dan nasihat. Ini menunjukkan keseimbangan antara berjuang di tengah umat dan menjaga diri dari fitnah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jihad dengan jiwa dan harta adalah amal yang paling utama, namun jihad harus dilakukan sesuai aturan syariat dan di bawah bimbingan ulama yang benar.
  2. Menyendiri sambil bertakwa dan tidak mengganggu manusia adalah pilihan yang baik ketika fitnah merajalela atau ketika seseorang tidak mampu berjuang secara terbuka.
  3. Yang terpenting adalah menjaga iman, ketakwaan, dan tidak menyakiti orang lain, baik dalam keadaan berjuang di tengah umat maupun menyendiri.
  4. Jangan memahami hadits ini sebagai ajakan meninggalkan dakwah secara mutlak, karena dakwah dan amar ma'ruf adalah kewajiban sesuai kemampuan.
  5. Hendaknya kita memohon kepada Allah agar diberi kemampuan berjihad di jalan-Nya dengan jiwa dan harta, atau jika tidak mampu, diberi kekuatan untuk menjaga ketakwaan dan menjauhi fitnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?