Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa Nabi ﷺ menjauhi segala sesuatu yang dapat melalaikan dari akhirat, bahkan sekadar tirai berhias di pintu rumah putrinya. Beliau tidak masuk ke rumah Fatimah karena melihat tirai bergambar/berhias itu, lalu bersabda, "Aku tidak ada kepentingan dengan dunia." Ini menunjukkan kezuhudan beliau dan bahwa hiasan duniawi tidak layak menghalangi ibadah dan kecintaan kepada Allah. Fatimah pun segera menaati perintah beliau dengan mengirimkan tirai itu kepada orang yang membutuhkan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Hibah wa Fadhliha wa At-Tahridh 'alaiha, Bab Karahiyat Al-Hibah allati Tuhramu Labsuha, nomor 2613, dari sahabat Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma.
Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan kezuhudan dan tidak tertarik pada dunia:
QS. Al-Hadid [57]: 20
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Terjemahan: "Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling membanggakan di antara kalian, dan berlomba-lomba memperbanyak harta dan anak. (Semuanya) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu (tanaman itu) mengering dan kamu lihat menjadi kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras, (juga) ampunan dari Allah dan keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu."
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan hakikat dunia yang fana dan menipu, sehingga seorang mukmin hendaknya tidak terikat hatinya pada perhiasan dunia yang sementara.
Hadits terkait lainnya, dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
Terjemahan: "Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian beramal." (HR. Muslim)
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini merupakan peringatan agar tidak terlena dengan keindahan dunia.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Kezuhudan Nabi ﷺ terhadap dunia.
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ melihat tirai yang bergambar atau berhias di pintu rumah Fatimah, lalu beliau enggan masuk. Ini bukan karena beliau marah kepada Fatimah, tetapi karena beliau tidak ingin hatinya tergantung pada perhiasan dunia. Sabda beliau "Mā lī wa ad-dunyā" (Aku tidak ada kepentingan dengan dunia) menunjukkan bahwa beliau sama sekali tidak menginginkan kemewahan duniawi.
Kedua: Tirai bergambar dan hukumnya.
Para ulama berbeda pendapat tentang tirai yang dilihat Nabi ﷺ. Sebagian mengatakan itu adalah tirai bergambar makhluk bernyawa, sehingga termasuk yang dilarang. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam riwayat lain disebutkan tirai itu bergambar, dan Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengubahnya. Namun dalam hadits ini, penekanannya adalah pada sikap zuhud Nabi ﷺ, bukan semata hukum gambar.
Ketiga: Ketaatan Fatimah radhiyallahu 'anha.
Ketika 'Ali menyampaikan kepada Fatimah, ia langsung berkata, "Perintahkanlah kepadaku apa yang beliau kehendaki." Ini menunjukkan adab seorang anak kepada ayahnya dan seorang mukmin kepada Nabinya. Fatimah tidak membela diri, tidak bersedih berlebihan, tetapi langsung siap menaati perintah. Nabi ﷺ kemudian memerintahkan agar tirai itu dikirim kepada keluarga yang membutuhkan.
Keempat: Sedekah dan memberi manfaat.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini mengandung anjuran untuk memberikan sesuatu yang tidak kita butuhkan kepada orang yang membutuhkannya. Tirai yang bagi Nabi ﷺ dan Fatimah menjadi penghalang dari kezuhudan, justru bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan.
Kelima: Pelajaran tentang prioritas.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa seorang mukmin hendaknya menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, dan dunia hanya sebagai sarana. Jika sesuatu dari dunia menghalangi jalan menuju Allah, maka hendaknya ditinggalkan.
Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah rahimahullah dalam Madarij As-Salikin menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total, tetapi mengosongkan hati dari ketergantungan pada dunia, sementara tangan tetap bekerja.
Story Telling
Dikisahkan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ mengunjungi rumah putrinya, Fatimah radhiyallahu 'anha, namun beliau tidak masuk. Fatimah yang sedang bersama suaminya, 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, merasa heran dan sedih. Ketika 'Ali datang, Fatimah menceritakan bahwa ayahnya tidak masuk ke rumahnya.
'Ali pun menemui Nabi ﷺ dan menanyakan sebabnya. Nabi ﷺ bersabda dengan lembut, "Aku melihat di pintu rumahnya ada tirai yang berhias. Aku tidak ada kepentingan dengan dunia."
'Ali kembali kepada Fatimah dan menyampaikan hal itu. Fatimah, dengan hati yang lapang dan penuh ketaatan, berkata, "Perintahkanlah kepadaku tentang tirai itu sesuai yang beliau kehendaki."
Nabi ﷺ kemudian memerintahkan agar tirai itu dikirim kepada keluarga yang membutuhkan. Maka tirai yang tadinya menjadi penghalang, berubah menjadi sedekah yang bermanfaat.
Hikmah dari kisah ini: seorang mukmin sejati tidak akan membiarkan sesuatu yang bersifat duniawi menghalangi hubungannya dengan Allah dan Rasul-Nya. Fatimah, meskipun putri Nabi ﷺ, tidak merasa istimewa dan langsung taat. Ini adalah pelajaran bagi kita semua.
Kesimpulan Praktis
- Jauhkan hati dari ketergantungan pada perhiasan dunia. Dunia adalah sarana, bukan tujuan. Gunakan dunia untuk membantu ibadah, bukan untuk melalaikan ibadah.
- Taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya dengan segera. Seperti Fatimah yang langsung siap menaati perintah Nabi ﷺ tanpa membantah.
- Manfaatkan apa yang tidak kita butuhkan untuk membantu orang lain. Tirai yang tidak bermanfaat bagi Fatimah justru bermanfaat bagi keluarga yang membutuhkan.
- Jaga keikhlasan dalam memberi hadiah atau sedekah. Berikan sesuatu karena Allah, bukan karena riya atau pamer.
- Teladani kezuhudan Nabi ﷺ. Beliau adalah manusia paling mulia, namun paling sederhana dalam urusan dunia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.