Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kisah mukjizat Nabi ﷺ berupa keberkahan makanan ketika persediaan para sahabat menipis. Hadits ini mengajarkan beberapa hal penting: bolehnya bermusyawarah dan mengajukan usul kepada pemimpin, keutamaan saling berbagi dan mengorbankan milik sendiri untuk saudara sesama muslim, serta kekuatan doa dan tawakal kepada Allah. Kisah ini juga menunjukkan kepedulian Umar bin Khaththab terhadap kondisi kaum muslimin dan kebijaksanaan Nabi ﷺ dalam menyelesaikan masalah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Persekutuan (Asy-Syirkah), Bab Persekutuan dalam Makanan, Minuman, dan Barang, no. 2484, dari sahabat Salamah bin Al-Akwa' radhiyallahu 'anhu.
Terdapat pula riwayat lain dalam Shahih Muslim (no. 1729) dan Sunan Abu Dawud (no. 3275) dengan redaksi yang serupa.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
"Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (QS. Saba' [34]: 39)
Ayat ini menguatkan makna hadits bahwa apa yang dikorbankan para sahabat berupa makanan mereka, Allah ganti dengan keberkahan yang jauh lebih besar.
Hadits terkait:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
"Sedekah tidaklah mengurangi harta." (HR. Muslim, no. 2588)
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Kitab Asy-Syirkah) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seseorang memberikan izin kepada orang lain untuk memanfaatkan hartanya, dan bahwa berkumpulnya kaum muslimin dalam kebaikan akan mendatangkan keberkahan. Beliau juga menukil perkataan Imam Al-Khaththabi bahwa dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang adab musyawarah dan menghargai pendapat orang lain.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Tentang kondisi para sahabat dan musyawarah
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa para sahabat yang dimaksud adalah mereka yang ikut dalam salah satu peperangan atau perjalanan bersama Nabi ﷺ. Ketika perbekalan mereka menipis, mereka datang kepada Nabi ﷺ meminta izin untuk menyembelih unta-unta tunggangan mereka. Ini menunjukkan adab yang baik: mereka tidak serta-merta bertindak sendiri, tetapi meminta persetujuan pemimpin mereka.
2. Sikap Umar bin Khaththab
Umar radhiyallahu 'anhu menunjukkan kepedulian yang dalam. Beliau mengingatkan bahwa jika unta-unta itu disembelih, maka mereka tidak akan bisa melanjutkan perjalanan. Ini adalah pemikiran yang matang dan jauh ke depan. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa sikap Umar ini menunjukkan bolehnya seorang bawahan memberikan nasihat dan masukan kepada pemimpinnya dengan cara yang baik.
3. Solusi Nabi ﷺ: berbagi dan keberkahan
Nabi ﷺ tidak menyetujui penyembelihan unta, tetapi memberikan solusi yang lebih baik: meminta setiap orang membawa sisa makanan mereka dan mengumpulkannya di atas sebuah kulit (nitha'). Kemudian beliau berdoa memohon keberkahan. Hasilnya, semua orang mengambil dengan wadah masing-masing hingga semuanya merasa cukup, bahkan masih tersisa.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa ini adalah mukjizat Nabi ﷺ yang nyata. Makanan yang sedikit menjadi berkah karena doa beliau. Ini mengajarkan bahwa keberkahan datang dari Allah, bukan dari banyaknya jumlah.
4. Pelajaran tauhid di akhir hadits
Di akhir hadits, Nabi ﷺ mengucapkan syahadat. Ini menunjukkan bahwa di setiap kesempatan, beliau selalu mengingatkan tentang tauhid. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa seorang mukmin hendaknya menjadikan setiap peristiwa sebagai momen untuk mengingat Allah dan menguatkan keimanan.
5. Hikmah berbagi dan tolong-menolong
Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam Syarh Kitab At-Tauhid menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan saling berbagi di saat sulit. Ketika kaum muslimin bersatu dan saling membantu, Allah akan memberikan keberkahan yang tidak diduga-duga.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa setelah peristiwa ini, para sahabat merasa takjub dengan keberkahan yang mereka saksikan. Salamah bin Al-Akwa' radhiyallahu 'anhu yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang sahabat yang terkenal pemberani dan banyak mengikuti peperangan bersama Nabi ﷺ.
Ada pelajaran indah dari kisah ini: ketika Umar mengkhawatirkan nasib mereka setelah untanya disembelih, Nabi ﷺ memberikan solusi yang justru membuat mereka tidak kehilangan unta sama sekali, bahkan mendapatkan makanan yang lebih dari cukup. Ini mengajarkan bahwa solusi dari Allah melalui bimbingan Nabi-Nya selalu lebih baik dari perkiraan manusia. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Zad Al-Ma'ad, bahwa keberkahan mengikuti ketaatan dan keikhlasan.
Kesimpulan Praktis
- Bermusyawarahlah dalam urusan bersama — jangan mengambil keputusan besar tanpa persetujuan pemimpin atau pihak terkait.
- Saling berbagi di saat sulit — apa yang kita korbankan untuk saudara sesama muslim tidak akan mengurangi rezeki kita, justru Allah akan menggantinya dengan keberkahan.
- Bertawakallah kepada Allah — setelah berusaha dan bermusyawarah, serahkan hasilnya kepada Allah. Doa Nabi ﷺ menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa melipatgandakan yang sedikit.
- Jadikan setiap peristiwa sebagai pengingat tauhid — seperti Nabi ﷺ yang menutup peristiwa ini dengan syahadat.
- Jangan tergesa-gesa mengambil jalan keluar yang merugikan — carilah solusi yang lebih baik melalui musyawarah dan bimbingan ulama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.