Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, menceritakan kegigihannya bertanya kepada Umar bin al-Khaththab tentang dua istri Nabi ﷺ yang ditegur Allah dalam QS. At-Tahrim [66]: 4, yaitu Aisyah dan Hafshah radhiyallahu 'anhuma. Dalam hadits ini terkandung pelajaran besar tentang adab rumah tangga, kecemburuan yang berlebihan, pentingnya taubat, kesabaran Nabi ﷺ, dan bahaya sikap melampaui batas terhadap Rasulullah ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait:
Firman Allah dalam QS. At-Tahrim [66]: 4:
إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا ۖ وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ
Terjemahan: "Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (kepada kebenaran). Dan jika kamu berdua saling membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya, dan Jibril, dan orang-orang mukmin yang saleh, dan malaikat setelah itu adalah penolong-penolongnya."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-Mazhalim (Penganiayaan), Bab al-Ghuraf wa al-'Aliyyat... dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma. Jalur periwayatannya: Yahya bin Bukair ← al-Laits ← 'Uqail ← Ibnu Syihab az-Zuhri ← 'Ubaidullah bin Abdullah bin Abi Tsaur ← Ibnu Abbas.
Kaitan dengan ulama:
- Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) adalah perawi utama hadits ini, seorang tabi'in besar yang sangat teliti dalam meriwayatkan.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan panjang lebar hadits ini, termasuk bab tentang adab istri terhadap suami dan larangan menyakiti Rasulullah ﷺ.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menekankan pentingnya menahan diri dari menyakiti Nabi ﷺ dan keluarganya.
Penjelasan Rinci
Latar belakang peristiwa:
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menyimpan rasa penasaran yang besar untuk mengetahui siapa dua istri Nabi ﷺ yang disebut dalam QS. At-Tahrim [66]: 4. Ia baru mendapat kesempatan ketika menemani Umar bin al-Khaththab dalam perjalanan haji. Umar menjelaskan bahwa keduanya adalah Aisyah dan Hafshah radhiyallahu 'anhuma.
Kisah yang diceritakan Umar:
Umar menuturkan bahwa ia dan tetangganya dari Anshar (dari Bani Umayyah bin Zaid, kawasan dataran tinggi Madinah) bergiliran mendatangi Nabi ﷺ. Ketika Umar datang, ia membawa berita hari itu kepada tetangganya, dan sebaliknya.
Umar berkata: "Kami, kaum Quraisy, biasa menguasai (mendominasi) perempuan. Ketika kami datang ke Madinah (kaum Anshar), ternyata mereka adalah kaum yang justru dikuasai oleh perempuan mereka. Maka istri-istri kami mulai meniru adab perempuan Anshar."
Suatu hari Umar menegur istrinya, tetapi istrinya membantahnya. Umar heran, lalu istrinya berkata: "Mengapa engkau heran jika aku membantahmu? Demi Allah, istri-istri Nabi ﷺ pun membantah beliau, bahkan salah satu dari mereka meninggalkan beliau (tidak berbicara) hingga malam."
Umar terkejut dan berkata: "Celakalah siapa yang melakukan itu di antara mereka." Lalu Umar menemui Hafshah (putrinya) dan menasihatinya: "Janganlah engkau menyakiti Rasulullah ﷺ, jangan membantahnya, jangan meninggalkannya, dan jangan tertipu oleh keadaan Aisyah yang lebih dicintai Rasulullah ﷺ."
Peristiwa talak:
Kemudian tersiar kabar bahwa Nabi ﷺ menceraikan istri-istrinya. Umar sangat sedih dan menemui Hafshah yang sedang menangis. Umar berusaha menemui Nabi ﷺ yang sedang menyendiri di kamar atas (masyrabah). Setelah beberapa kali meminta izin melalui budak Nabi ﷺ (Aslam), akhirnya Umar diizinkan masuk.
Umar mendapati Nabi ﷺ berbaring di atas tikar kasar tanpa alas, sehingga tikar itu membekas di sisi tubuh beliau. Beliau bersandar pada bantal kulit yang isinya serat. Umar bertanya: "Apakah engkau menceraikan istri-istrimu?" Nabi ﷺ menjawab: "Tidak."
Umar lalu menceritakan keheranannya tentang perempuan Quraisy dan Anshar, dan Nabi ﷺ tersenyum. Umar juga menceritakan nasihatnya kepada Hafshah, dan Nabi ﷺ tersenyum lagi.
Umar melihat isi kamar Nabi ﷺ yang sangat sederhana, hanya ada tiga benda kulit. Umar berkata: "Berdoalah kepada Allah agar melapangkan umatmu, karena Persia dan Romawi diberi kelapangan dunia padahal mereka tidak menyembah Allah." Nabi ﷺ bersabda: "Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Mereka adalah kaum yang disegerakan kebaikannya di dunia."
Umar lalu meminta Nabi ﷺ beristighfar untuknya.
Peristiwa ila' dan ayat takhyir:
Nabi ﷺ menjauhi istri-istrinya selama sebulan karena peristiwa Hafshah yang membocorkan rahasia kepada Aisyah. Setelah 29 hari, Nabi ﷺ menemui Aisyah lebih dulu. Aisyah berkata: "Engkau bersumpah tidak menemui kami sebulan, tetapi sekarang baru 29 malam." Nabi ﷺ bersabda: "Bulan itu 29 hari."
Aisyah berkata: "Lalu turun ayat takhyir (pilihan). Nabi ﷺ mulai dariku sebagai wanita pertama, beliau bersabda: 'Aku akan menyebutkan suatu perkara, dan tidak ada salahnya bagimu untuk tidak tergesa-gesa hingga engkau meminta pendapat kedua orang tuamu.' Aisyah berkata: 'Aku tahu kedua orang tuaku tidak akan menyuruhku berpisah darimu.' Lalu Nabi ﷺ membacakan ayat: 'Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu...' hingga '...pahala yang besar.' Aisyah berkata: 'Apakah untuk ini aku harus meminta pendapat orang tuaku? Sesungguhnya aku menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.' Kemudian Nabi ﷺ memberi pilihan kepada istri-istrinya, dan mereka semua menjawab seperti jawaban Aisyah."
Pemahaman ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini mengandung banyak faedah, di antaranya:
- Bolehnya bergiliran dalam menuntut ilmu dan mengurus keluarga.
- Keutamaan Umar bin al-Khaththab dalam nasihat dan kepeduliannya terhadap agama.
- Keutamaan Aisyah dan Hafshah sebagai istri Nabi ﷺ meskipun pernah ditegur Allah, karena mereka bertaubat.
- Larangan menyakiti Rasulullah ﷺ, karena itu sebab kemurkaan Allah.
- Imam an-Nawawi menekankan bahwa peristiwa ini menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap keridhaan Allah, dan bahwa beliau tidak menceraikan istri-istrinya pada akhirnya, tetapi memberi mereka pilihan (takhyir) antara dunia atau Allah dan Rasul-Nya.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa QS. At-Tahrim [66]: 4 turun berkaitan dengan Aisyah dan Hafshah yang bersekongkol dalam kecemburuan terhadap Nabi ﷺ, dan Allah menegur mereka dengan lembut, membuka pintu taubat bagi mereka.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa peristiwa ila' (menjauhi istri) dan takhyir adalah bentuk pendidikan Nabi ﷺ terhadap istri-istrinya agar mereka menyadari kedudukan mereka sebagai ummahatul mukminin.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama berbeda tentang apakah Nabi ﷺ benar-benar menceraikan istri-istrinya atau hanya menjauhi (ila'). Yang shahih adalah beliau tidak menceraikan mereka, sebagaimana ditegaskan dalam hadits ini sendiri: "Tidak" (ketika ditanya apakah beliau menceraikan istri-istrinya). Ini yang dipegang oleh al-Bukhari, Ibnu Hajar, dan jumhur ulama.
Story Telling
Kisah Umar dan Tikar Nabi ﷺ:
Ketika Umar bin al-Khaththab masuk ke kamar Nabi ﷺ, ia melihat pemandangan yang membuat hatinya tersayat. Nabi ﷺ, manusia paling mulia di sisi Allah, berbaring di atas tikar kasar tanpa alas. Tikar itu membekas di sisi tubuh beliau yang mulia. Bantal beliau hanyalah kulit yang diisi serat. Di kamar itu hanya ada tiga benda kulit sederhana.
Umar, yang terkenal tegas dan pemberani, tidak mampu menahan tangisnya. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar melapangkan umatmu. Sungguh Persia dan Romawi hidup mewah padahal mereka tidak menyembah Allah."
Nabi ﷺ yang sedang berbaring lalu bangkit dan bersabda dengan lembut namun tegas: "Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Mereka adalah kaum yang disegerakan kebaikannya di dunia."
Umar segera menyadari kekeliruannya. Ia meminta Nabi ﷺ beristighfar untuknya. Pelajaran ini mengajarkan bahwa kemewahan dunia bukanlah tanda kemuliaan di sisi Allah, dan bahwa seorang mukmin sejati tidak boleh iri kepada kehidupan dunia orang-orang kafir.
Sumber: Kisah ini disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari serta Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Kesimpulan Praktis
- Taubat adalah jalan kembali kepada Allah. Aisyah dan Hafshah ditegur Allah, tetapi mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka. Jangan berputus asa dari rahmat Allah.
- Jangan menyakiti Rasulullah ﷺ dan keluarganya. Menyakiti Nabi ﷺ adalah sebab kemurkaan Allah. Hendaklah kita menjaga adab terhadap Nabi ﷺ dan ahli baitnya.
- Kecemburuan yang berlebihan dapat merusak rumah tangga. Islam mengajarkan kecemburuan yang wajar, tetapi tidak sampai menyakiti atau melampaui batas.
- Kesederhanaan adalah jalan Nabi ﷺ. Nabi ﷺ hidup sederhana meskipun beliau adalah makhluk paling mulia. Jangan tertipu oleh kemewahan dunia.
- Musyawarah dan meminta pendapat adalah adab Islam. Nabi ﷺ meminta pendapat Aisyah dan memberi pilihan dengan penuh kasih sayang.
- Bersabar dalam menghadapi ujian rumah tangga. Nabi ﷺ tidak terburu-buru menceraikan istri-istrinya, tetapi mendidik dan memberi pilihan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.