Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang adab seorang Muslim dalam berbicara dan bersikap, terutama ketika terjadi perdebatan dengan pemeluk agama lain. Nabi ﷺ melarang kita untuk merasa lebih utama dari para nabi lain, karena keutamaan seorang nabi adalah urusan Allah, bukan untuk kita perdebatkan. Beliau juga mengajarkan bahwa perbedaan pendapat tidak boleh diselesaikan dengan kekerasan fisik seperti menampar. Hadits ini juga menjelaskan salah satu peristiwa besar di hari kiamat, yaitu ketika seluruh makhluk akan pingsan (shu'uq) dan Nabi Musa 'alaihissalam berada di sisi 'Arsy.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Perselisihan (Al-Khushumat), Bab "Ma Yudzkaru fi Al-Khushumah baina Al-Muslim wa Al-Yahudi", no. 2411, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Fadha'il, Bab "Min Fadha'il Musa 'alaihissalam", no. 2373, dengan lafaz yang serupa.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Baqarah [2]: 285
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ
"Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya.'"
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan hadits ini secara panjang lebar. Beliau menyebutkan bahwa larangan Nabi ﷺ untuk mengutamakan beliau di atas Nabi Musa adalah dalam konteks tahdzir (peringatan) agar tidak terjadi perdebatan yang berujung pada perbuatan buruk, bukan berarti Nabi Muhammad ﷺ tidak lebih utama. Beliau juga menjelaskan makna "shu'uq" (pingsan) pada hari kiamat.
Penjelasan Rinci
Pertama: Konteks dan Adab dalam Perdebatan
Dalam hadits ini, kita melihat dua orang yang sedang bertengkar. Seorang Muslim bersumpah dengan menyebut keutamaan Nabi Muhammad ﷺ, dan seorang Yahudi membalas dengan menyebut keutamaan Nabi Musa 'alaihissalam. Kemudian si Muslim menampar wajah si Yahudi karena tidak terima.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa perbuatan menampar ini adalah bentuk kemarahan yang tidak terkontrol. Seorang Muslim seharusnya mampu menahan amarahnya, apalagi dalam perdebatan. Beliau mengingatkan bahwa menyelesaikan perbedaan dengan kekerasan adalah perbuatan yang tercela, dan Nabi ﷺ sendiri tidak pernah memukul seseorang karena alasan pribadi.
Kedua: Larangan Mengutamakan Nabi ﷺ di atas Nabi Musa
Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah kalian mengutamakanku di atas Musa." Ini adalah larangan dalam konteks tertentu. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini bukan berarti Nabi Muhammad ﷺ tidak lebih utama dari Nabi Musa. Justru, Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia paling mulia dan pemimpin para nabi. Namun, larangan ini bertujuan untuk:
- Menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat. Ketika seseorang membanding-bandingkan para nabi, ini bisa memicu pertengkaran dan permusuhan, seperti yang terjadi dalam hadits ini.
- Menjaga adab terhadap para nabi. Kita tidak boleh merendahkan nabi lain dalam rangka mengagungkan Nabi Muhammad ﷺ. Semua nabi adalah utusan Allah yang mulia.
- Karena Nabi Musa memiliki keistimewaan khusus yang disebutkan dalam hadits ini, yaitu Allah mengecualikannya dari peristiwa pingsan (shu'uq) pada hari kiamat.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna "shu'uq" ini. Ada yang mengatakan bahwa pingsan ini terjadi setelah kebangkitan dari kubur, ketika Allah menampakkan diri-Nya kepada makhluk. Ada juga yang berpendapat bahwa ini terjadi pada saat peniupan sangkakala pertama. Namun, yang jelas, Nabi Musa 'alaihissalam berada di sisi 'Arsy dan tidak mengalami pingsan seperti yang lain, karena Allah mengecualikannya.
Ketiga: Keistimewaan Nabi Musa 'alaihissalam
Dalam hadits ini, Nabi ﷺ menyebutkan bahwa beliau akan menjadi orang pertama yang sadar dari pingsan, dan saat itu beliau melihat Nabi Musa sedang memegang sisi 'Arsy. Ini menunjukkan kedudukan Nabi Musa yang sangat tinggi di sisi Allah. Beliau tidak mengalami pingsan karena Allah mengecualikannya, atau beliau pingsan tetapi sadar lebih dulu dari Nabi Muhammad ﷺ.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa keistimewaan ini adalah bentuk penghormatan Allah kepada Nabi Musa. Ini juga mengajarkan kita untuk tidak merendahkan para nabi, karena mereka semua memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah.
Keempat: Pelajaran tentang Hari Kiamat
Hadits ini juga mengingatkan kita tentang dahsyatnya hari kiamat. Seluruh manusia akan pingsan karena takut dan kagum terhadap kebesaran Allah. Bahkan para nabi pun ikut pingsan, kecuali yang Allah kecualikan. Ini menunjukkan bahwa hari kiamat adalah hari yang sangat mengerikan, dan kita harus mempersiapkan diri dengan amal shalih.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika peristiwa ini terjadi, Nabi ﷺ memanggil si Muslim dan menanyakan apa yang terjadi. Si Muslim menceritakan bahwa ia bersumpah dengan keutamaan Nabi Muhammad ﷺ, lalu si Yahudi membalas dengan keutamaan Nabi Musa, dan ia pun menamparnya.
Nabi ﷺ tidak marah kepada si Muslim karena membela beliau, tetapi beliau mengajarkan adab yang lebih baik. Beliau bersabda: "Janganlah kalian mengutamakanku di atas Musa..." Ini adalah pelajaran berharga: membela Nabi ﷺ tidak boleh dengan cara yang melanggar syariat, seperti memukul atau berkata kasar. Cara membela yang benar adalah dengan mengikuti sunnahnya, menyebarkan ajarannya, dan berakhlak mulia.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya, dan ini menunjukkan bahwa peristiwa ini benar-benar terjadi dan menjadi pelajaran bagi umat Islam hingga akhir zaman.
Kesimpulan Praktis
- Jangan mudah terpancing emosi dalam perdebatan. Jika ada orang yang merendahkan Nabi kita, jawablah dengan hikmah dan dalil, bukan dengan kekerasan.
- Jangan membanding-bandingkan para nabi. Semua nabi adalah mulia, dan kita tidak boleh merendahkan salah satu dari mereka.
- Jaga adab dalam berselisih. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, tetapi cara menyikapinya harus dengan akhlak yang baik.
- Ingatlah dahsyatnya hari kiamat. Hadits ini mengingatkan kita untuk selalu mempersiapkan diri dengan amal shalih dan taubat.
- Teladani sikap Nabi ﷺ yang lembut dan bijaksana. Beliau tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dengan nasihat yang penuh hikmah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.