Penjelasan Hadits Bukhari No. 2297 tentang Perlindungan Abu Bakar dan perjanjian dengan Ibnu Ad-Daghna

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bagaimana Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu pernah berniat hijrah ke Habasyah karena tekanan kaum Quraisy, lalu dilindungi oleh Ibnu ad-Daghna, seorang pemimpin kabilah. Namun ketika perlindungan itu menghalangi beliau beribadah secara terbuka, Abu Bakar memilih melepas perlindungan manusia dan ridha dengan perlindungan Allah. Tidak lama kemudian, Allah memberi kabar gembira tentang hijrah ke Madinah, dan Abu Bakar pun dipilih menemani Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Kafalah (Penjaminan), no. 2297, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, melalui jalur az-Zuhri dari 'Urwah bin az-Zubair.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan tema hijrah dan perlindungan Allah:

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا

QS. Al-Isra' [17]: 80

"Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar, dan keluarkanlah aku secara keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuatan yang menolong.'"

Ayat ini dibaca Nabi ﷺ ketika hijrah, sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, bahwa Nabi memohon kepada Allah agar hijrahnya diberkahi dan dilindungi.

Hadits terkait lain: dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi ﷺ bersabda tentang Abu Bakar:

إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ، وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ صَدَقَ

"Allah mengutusku kepada kalian, lalu kalian berkata 'kamu dusta', sedangkan Abu Bakar berkata 'engkau benar'." (HR. al-Bukhari no. 3661)

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung banyak pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Kesaksian 'Aisyah tentang rumah tangganya. Ucapan 'Aisyah "لَمْ أَعْقِلْ أَبَوَىَّ إِلَّا وَهُمَا يَدِينَانِ الدِّينَ" (Aku tidak pernah mengingat kedua orang tuaku kecuali keduanya beragama Islam) menunjukkan bahwa sejak kecil beliau sudah menyaksikan rumah tangga Islami. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa ini menjadi dalil keutamaan Abu Bakar dan Ummu Ruman, serta menunjukkan bahwa 'Aisyah tumbuh dalam lingkungan iman sejak dini.

Kedua: Kedudukan akhlak Abu Bakar di mata manusia. Ibnu ad-Daghna menyebutkan lima sifat Abu Bakar: membantu orang miskin (تَكْسِبُ الْمَعْدُومَ), menyambung kekerabatan (تَصِلُ الرَّحِمَ), menanggung beban orang lemah (تَحْمِلُ الْكَلَّ), menjamu tamu (تَقْرِي الضَّيْفَ), dan menolong dalam kebaikan (تُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ). Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa sifat-sifat ini adalah akhlak mulia yang disepakati kebaikannya, bahkan diakui oleh orang kafir sekalipun.

Ketiga: Prinsip "tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah". Ketika Ibnu ad-Daghna meminta Abu Bakar membatasi ibadahnya di rumah saja, Abu Bakar memilih melepas perlindungan manusia dan berkata: "إِنِّي أَرُدُّ إِلَيْكَ جِوَارَكَ، وَأَرْضَى بِجِوَارِ اللَّهِ" (Aku kembalikan perlindunganmu, dan aku ridha dengan perlindungan Allah). Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini menunjukkan keutamaan tawakkal dan keyakinan bahwa perlindungan Allah lebih kuat dari perlindungan manusia. Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menegaskan bahwa sikap ini adalah bentuk tauhid yang murni.

Keempat: Kabar gembira hijrah ke Madinah. Nabi ﷺ bersabda: "قَدْ أُرِيتُ دَارَ هِجْرَتِكُمْ، رَأَيْتُ سَبْخَةً ذَاتَ نَخْلٍ بَيْنَ لَابَتَيْنِ" (Aku diperlihatkan tempat hijrah kalian, aku melihat tanah asin yang memiliki pohon kurma di antara dua gunung). Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah menjelaskan bahwa ini adalah mimpi yang benar sebagai wahyu, dan menjadi tanda kenabian yang jelas.

Kelima: Keutamaan Abu Bakar menemani Nabi ﷺ. Ketika Nabi ﷺ bersabda "عَلَى رِسْلِكَ فَإِنِّي أَرْجُو أَنْ يُؤْذَنَ لِي" (Tunggu dulu, aku berharap diizinkan hijrah), Abu Bakar langsung menahan diri dan menyiapkan dua unta selama empat bulan. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah isyarat bahwa Abu Bakar akan menjadi sahabat Nabi dalam hijrah, sebagaimana ditegaskan dalam QS. At-Taubah [9]: 40.

Story Telling

Dikisahkan oleh 'Aisyah radhiyallahu 'anha — sebagaimana dalam hadits ini — bahwa ketika kaum Muslimin di Mekah semakin ditekan, Abu Bakar memutuskan hijrah ke Habasyah. Di tengah perjalanan, di sebuah tempat bernama Bark al-Ghimad, beliau bertemu Ibnu ad-Daghna, pemimpin kabilah Qara yang belum masuk Islam.

Ibnu ad-Daghna bertanya dengan heran, "Mau ke mana engkau, wahai Abu Bakar?"

Abu Bakar menjawab dengan tenang, "Kaumku mengusirku, aku ingin berkeliling bumi untuk menyembah Tuhanku."

Ibnu ad-Daghna — seorang yang jahiliah namun mulia akhlaknya — berkata dengan tegas, "Orang sepertimu tidak pantas keluar dan tidak pantas diusir. Engkau membantu yang miskin, menyambung kekerabatan, menanggung beban orang lemah, menjamu tamu, dan menolong dalam kebaikan. Aku akan menjadi pelindungmu."

Ibnu ad-Daghna lalu membawa Abu Bakar kembali ke Mekah dan mengumumkan perlindungannya di hadapan para pemuka Quraisy. Quraisy menyetujuinya dengan syarat Abu Bakar beribadah hanya di dalam rumahnya.

Namun jiwa Abu Bakar tidak bisa diam. Beliau membangun tempat shalat di halaman rumahnya dan mulai membaca Al-Qur'an dengan suara yang indah. Air matanya mengalir deras saat membaca kalam Allah, hingga para wanita dan anak-anak musyrikin berkerumun menyaksikan keindahan itu.

Para pemuka Quraisy pun ketakutan. Mereka memanggil Ibnu ad-Daghna dan menuntut agar Abu Bakar menghentikan ibadah terbukanya, atau melepas perlindungan.

Ibnu ad-Daghna datang kepada Abu Bakar dengan berat hati, menyampaikan tuntutan itu.

Abu Bakar — dengan keteguhan iman yang luar biasa — berkata lirih namun tegas: "Aku kembalikan perlindunganmu, dan aku ridha dengan perlindungan Allah."

Tidak lama setelah itu, Nabi ﷺ memberitakan bahwa beliau bermimpi melihat tanah hijrah: tanah asin dengan pohon kurma di antara dua gunung. Itulah Madinah. Abu Bakar pun bersiap, namun Nabi ﷺ memintanya menunggu, karena beliau berharap diizinkan hijrah bersamanya. Abu Bakar menahan diri, menyiapkan dua unta, dan memberi makan keduanya dengan daun pohon Samur selama empat bulan penuh — menanti saat yang paling mulia dalam hidupnya: menemani Rasulullah ﷺ dalam hijrah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadikan akhlak sebagai jalan dakwah. Abu Bakar dikenal karena akhlaknya bahkan oleh orang kafir. Ibnu Hajar menegaskan bahwa akhlak mulia adalah pintu hidayah bagi banyak orang.
  2. Jangan tukar tauhid dengan perlindungan manusia. Ketika perlindungan manusia menghalangi ibadah, Abu Bakar memilih perlindungan Allah. Ini pelajaran tawakkal yang diajarkan Ibnul Qayyim.
  3. Bersabar menanti ketetapan Allah. Abu Bakar menunggu empat bulan penuh dengan penuh harap. Kesabaran ini berbuah keutamaan menjadi sahabat Nabi dalam hijrah.
  4. Hormati perjanjian, namun utamakan syariat. Ibnu ad-Daghna menghormati perjanjiannya, dan Abu Bakar pun mengembalikan perlindungan dengan cara yang mulia, bukan dengan pengkhianatan.
  5. Didik keluarga dalam iman sejak dini. 'Aisyah tumbuh dalam rumah yang penuh cahaya Islam. Ini teladan bagi para orang tua.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?