Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kisah tiga orang dari umat terdahulu yang terperangkap dalam gua oleh batu besar. Mereka keluar dari musibah tersebut dengan bertawasul (berdoa memohon kepada Allah) dengan menyebutkan amal-amal saleh mereka yang ikhlas karena Allah. Kisah ini mengajarkan kita tentang keutamaan berbakti kepada orang tua, menjaga kesucian diri dari zina, dan kejujuran serta amanah dalam muamalah (memberikan hak pekerja). Ini adalah dalil bahwa amal saleh yang ikhlas menjadi sebab turunnya pertolongan Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Ijarah (Sewa Menyewa), Bab 12, no. 2272. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Adz-Dzikr wa Ad-Du'a, no. 2743.
Ayat Al-Qur'an yang relevan tentang keikhlasan dan sebab pertolongan Allah:
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur)."
(QS. At-Taubah [9]: 119)
Ayat ini memerintahkan kita untuk selalu bersama dengan orang-orang yang jujur dan benar, sebagaimana ketiga pemuda dalam hadits ini yang jujur dalam mengakui amal-amal mereka dan jujur dalam muamalah mereka.
Kaitan dengan Ulama:
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri), seorang ulama besar tabi'in yang tercantum dalam daftar rujukan. Beliau meriwayatkannya dari Salim bin Abdullah dari ayahnya, Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma. Para ulama seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk pelajaran tentang bolehnya bertawasul dengan amal saleh dalam doa.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits tentang tawassul (perantara) yang disepakati oleh para ulama Ahlus Sunnah. Namun, perlu dipahami dengan benar. Para ulama menjelaskan bahwa tawasul yang dilakukan oleh ketiga pemuda ini adalah bertawasul dengan amal saleh mereka sendiri, bukan bertawasul dengan "orang" atau "jasa" orang lain. Ini adalah bentuk tawasul yang disyariatkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Qa'idah Jalilah fit-Tawassul wal-Wasilah menjelaskan bahwa tawasul dengan amal saleh adalah perkara yang disepakati kebolehannya oleh para ulama. Beliau membedakan antara tawasul dengan amal sendiri (yang dibolehkan) dan tawasul dengan dzat atau kedudukan seseorang (yang diperselisihkan).
Tiga amal saleh yang menjadi sebab pertolongan Allah:
- Amal Pertama: Birrul Walidain (Berbakti kepada Kedua Orang Tua).
Pemuda pertama menyebutkan pengabdiannya yang luar biasa kepada kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia. Beliau tidak pernah mendahulukan istri dan anaknya untuk minum susu sebelum orang tuanya. Bahkan, ketika suatu malam beliau terlambat dan mendapati orang tuanya sudah tidur, beliau memilih menunggu dengan gelas susu di tangannya hingga fajar menyingsing, daripada membangunkan mereka atau mendahulukan keluarganya. Ini menunjukkan kesabaran, keikhlasan, dan prioritas utama kepada orang tua. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa amal ini adalah amal yang sangat agung dan menjadi sebab diampunkannya dosa-dosa.
- Amal Kedua: Menjaga Kesucian Diri (Iffah) dari Zina.
Pemuda kedua memiliki sepupu perempuan yang sangat dicintainya. Ketika ia menginginkannya (berbuat zina), sepupunya menolak. Namun, di tahun paceklik, sepupunya datang meminta bantuan. Pemuda ini memberinya 120 dinar dengan syarat ia mau menyerahkan dirinya. Ketika mereka sudah berdua dan ia mampu melakukannya, sepupunya berkata, "Tidak halal bagimu untuk membuka cincin (kehormatan) ini kecuali dengan haknya (pernikahan yang sah)." Mendengar itu, pemuda ini langsung mengurungkan niatnya, meninggalkan wanita yang paling dicintainya itu, dan juga merelakan uang 120 dinar yang telah diberikannya. Ini adalah puncak ketakwaan, meninggalkan maksiat di saat mampu dan godaan sangat kuat. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang yang meninggalkan maksiat karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
- Amal Ketiga: Amanah dan Menunaikan Hak Pekerja.
Pemuda ketiga mempekerjakan beberapa orang buruh. Semua upah mereka dibayar, kecuali satu orang yang pergi tanpa mengambil upahnya. Pemuda ini kemudian menginvestasikan upah tersebut hingga berkembang menjadi banyak harta (unta, sapi, kambing, dan budak). Ketika buruh itu datang kembali menuntut upahnya, pemuda ini dengan jujur dan tanpa ragu menyerahkan seluruh harta yang telah berkembang itu kepadanya, seraya berkata, "Semua yang engkau lihat ini adalah upahmu." Buruh itu mengira pemuda ini bercanda, tetapi pemuda ini menegaskan bahwa ia serius. Maka, buruh itu mengambil semua harta tersebut. Ini adalah kejujuran dan amanah yang luar biasa dalam muamalah. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan menunaikan hak orang lain secara sempurna dan tidak memakan harta orang lain meskipun dengan alasan yang tampaknya dibenarkan.
Ketiga amal ini adalah amal-amal yang ikhlas karena Allah semata. Oleh karena itu, Allah mengabulkan doa mereka dan membukakan gua tersebut. Ini menunjukkan bahwa keikhlasan adalah kunci utama terkabulnya doa dan turunnya pertolongan Allah.
Story Telling
Kisah ini adalah kisah yang sangat agung yang disampaikan langsung oleh Nabi ﷺ kepada para sahabatnya. Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang sahabat yang sangat dikenal kehati-hatiannya dalam beragama (wara'). Beliau sangat takut kepada Allah dan sangat menjaga diri dari perkara yang syubhat.
Suatu ketika, Ibnu Umar membeli daging dengan harga yang cukup mahal. Kemudian beliau melihat ada seorang penggembala yang lewat. Ibnu Umar bertanya, "Siapa pemilik kambing ini?" Penggembala itu menjawab, "Milik Fulan." Ibnu Umar berkata, "Engkau pandai menjaga amanah. Maukah engkau menjual seekor kambing ini kepadaku?" Penggembala itu berkata, "Aku tidak bisa, karena ini bukan milikku." Ibnu Umar berkata, "Kalau begitu, aku akan membelinya dari pemiliknya nanti. Bagaimana jika kambing ini mati? Siapa yang bertanggung jawab?" Penggembala itu menjawab, "Aku yang bertanggung jawab." Ibnu Umar berkata, "Kalau begitu, aku akan membelinya darimu sekarang." Penggembala itu pun menjualnya. Ketika Ibnu Umar hendak membawa kambing itu, tiba-tiba penggembala itu berkata, "Wahai Abdullah bin Umar, sesungguhnya aku tidak menjualnya kepadamu." Ibnu Umar terkejut dan bertanya, "Mengapa?" Penggembala itu menjawab, "Karena aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam." Mendengar jawaban itu, Ibnu Umar sangat terkesan dan berkata, "Engkau takut kepada Allah, sedangkan aku tidak? Kalau begitu, aku batalkan pembelian ini." Kemudian Ibnu Umar membebaskan penggembala itu dari perbudakannya (jika ia seorang budak), atau memberinya hadiah yang banyak.
Kisah ini menunjukkan bahwa sifat amanah dan takut kepada Allah adalah warisan para sahabat dan orang-orang saleh. Mereka sangat menjaga diri dari perkara yang dapat mendatangkan murka Allah, sebagaimana pemuda ketiga dalam hadits di atas yang tidak mau memakan hak orang lain meskipun orang itu telah melupakannya.
Kesimpulan Praktis
Dari hadits yang agung ini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:
- Ikhlas dalam Setiap Amal. Jadikanlah setiap amal kebaikan, sekecil apa pun, hanya karena Allah semata. Jangan mengharap pujian atau balasan dari manusia.
- Bertawasul dengan Amal Saleh. Ketika menghadapi kesulitan, perbanyaklah berdoa kepada Allah sambil mengingat amal-amal saleh yang pernah kita lakukan dengan ikhlas. Ini adalah salah satu sebab terkabulnya doa.
- Utamakan Berbakti kepada Orang Tua. Jangan pernah mendahulukan kepentingan pribadi, pasangan, atau anak di atas kepentingan dan kenyamanan orang tua, selama bukan dalam perkara maksiat.
- Jaga Kesucian Diri. Jauhilah segala jalan yang mendekatkan kepada zina. Ketika godaan datang di saat kita mampu, ingatlah bahwa Allah selalu mengawasi kita. Meninggalkan maksiat karena Allah adalah amal yang sangat dicintai-Nya.
- Tunaikan Hak Orang Lain. Dalam muamalah (jual beli, sewa-menyewa, dll), tunaikanlah hak-hak orang lain dengan sempurna. Jangan menunda-nunda pembayaran upah jika kita mampu, dan jangan pernah memakan harta orang lain dengan cara yang batil.
- Jujur dalam Perkataan dan Perbuatan. Kejujuran adalah salah satu sifat yang membawa kepada kebaikan dan pertolongan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.