Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 2271 tentang Bab Sewa-Menyewa dari Ashar hingga Malam

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah perumpamaan indah tentang tiga golongan manusia dalam menyambut petunjuk Allah. Kelompok pertama (Yahudi) dan kedua (Nasrani) menolak untuk menyelesaikan "pekerjaan" yang diperintahkan, sehingga mereka kehilangan upah sempurna. Adapun kelompok ketiga (umat Islam) menerima dan menyelesaikan tugas yang diberikan hingga akhir, sehingga mereka mendapatkan upah yang sempurna. Ini menunjukkan keutamaan umat Muhammad ﷺ yang menerima Islam secara utuh dan mengamalkannya hingga akhir hayat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Baqarah [2]: 286

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Terjemahan: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.'"

Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-Ijarah (Sewa-Menyewa), Bab al-Ijarah min al-'Ashr ila al-Layl (Sewa-Menyewa dari Ashar hingga Malam), no. 2271, dari sahabat Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Penjelasan Ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari (4/446-447) menjelaskan bahwa perumpamaan ini menggambarkan tiga kelompok penerima wahyu. Kelompok pertama adalah Yahudi yang menolak ajaran setelah menerima sebagian, kelompok kedua adalah Nasrani yang juga menolak setelah menerima sebagian, dan kelompok ketiga adalah umat Islam yang menerima dan mengamalkan seluruh ajaran hingga akhir zaman. Beliau juga menukil perkataan Imam al-Muhallab bahwa perumpamaan ini menunjukkan keutamaan umat Muhammad ﷺ karena mereka menyempurnakan amal hingga akhir waktu.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu bentuk amtsal (perumpamaan) yang sering digunakan Nabi ﷺ untuk memudahkan pemahaman. Dalam riwayat ini, beliau menggambarkan seorang majikan (Allah) yang menyewa pekerja untuk bekerja dari pagi hingga malam dengan upah yang jelas (surga).

1. Kelompok Pertama (Yahudi):

Mereka bekerja dari pagi hingga tengah hari. Ini melambangkan masa para nabi Bani Israil, dari Nabi Musa hingga sebelum diutusnya Nabi Isa. Namun, ketika mereka diperintahkan untuk menyempurnakan, mereka menolak dan berkata, "Kami tidak butuh upahmu." Ini menggambarkan penolakan mereka terhadap ajaran Nabi Isa dan kemudian Nabi Muhammad ﷺ. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya (1/102) menjelaskan bahwa mereka menolak karena kesombongan dan keengganan mengikuti kebenaran.

2. Kelompok Kedua (Nasrani):

Mereka bekerja dari tengah hari hingga waktu Ashar. Ini melambangkan masa antara diutusnya Nabi Isa hingga kedatangan Nabi Muhammad ﷺ. Namun, ketika diminta menyelesaikan hingga maghrib, mereka juga menolak. Ini menggambarkan penolakan mereka terhadap ajaran Nabi Muhammad ﷺ. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (16/216) menjelaskan bahwa mereka menolak karena menganggap ajaran mereka sudah cukup, padahal mereka diperintahkan untuk mengimani rasul terakhir.

3. Kelompok Ketiga (Umat Islam):

Mereka bekerja dari waktu Ashar hingga maghrib. Ini melambangkan umat Muhammad ﷺ yang menerima Islam dan mengamalkannya hingga akhir hayat. Meskipun waktu mereka lebih pendek (usia dunia yang lebih singkat dibanding umat sebelumnya), mereka mendapatkan upah yang sempurna, yaitu surga. Imam al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam bab "Sewa-Menyewa dari Ashar hingga Malam" untuk menunjukkan bahwa meskipun waktu kerja singkat, upah tetap sempurna.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin (3/245) menekankan bahwa perumpamaan ini mengajarkan dua hal penting: pertama, keutamaan umat Islam yang mendapatkan pahala sempurna meskipun usia dunia mereka lebih pendek; kedua, pentingnya istiqamah dalam beramal hingga akhir hayat, karena siapa yang bertahan hingga akhir akan mendapatkan ganjaran penuh.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, bahwa suatu hari Nabi ﷺ menyampaikan hadits ini di hadapan para sahabat. Ketika beliau sampai pada bagian "mereka bekerja hingga matahari terbenam dan mendapatkan upah sempurna," wajah beliau berseri-seri. Para sahabat pun bergembira karena mengetahui bahwa mereka adalah kelompok yang beruntung.

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnad-nya (4/405) bahwa ketika ayat terakhir QS. Al-Baqarah turun (ayat 286), para sahabat sangat bergembira karena ayat itu berisi doa yang diajarkan Allah kepada mereka. Dan hadits ini semakin menguatkan bahwa umat Islam adalah umat yang paling mulia di sisi Allah, karena mereka menerima petunjuk dengan sempurna dan mengamalkannya hingga akhir.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersyukurlah menjadi bagian dari umat Muhammad ﷺ karena kita mendapatkan petunjuk yang sempurna dan pahala yang besar meskipun waktu kita di dunia singkat.
  2. Istiqamahlah dalam beramal hingga akhir hayat, karena upah sempurna hanya diberikan kepada mereka yang menyelesaikan tugas hingga akhir.
  3. Jangan meniru sikap Yahudi dan Nasrani yang menolak kebenaran setelah mengetahuinya. Terimalah Islam secara kaffah (menyeluruh).
  4. Perbanyaklah berdoa dengan ayat terakhir QS. Al-Baqarah karena doa itu adalah permohonan agar Allah tidak membebani kita dengan beban berat seperti umat sebelumnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.