Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 216 tentang Siksa kubur akibat tidak bersuci dari kencing dan mengadu domba

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dua perkara besar yang sering dianggap remeh oleh manusia: tidak bersuci dengan benar dari air kencing (tidak menjaga kebersihan dari najis) dan suka mengadu domba (namimah) . Keduanya adalah sebab azab kubur. Hadits ini juga menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ yang mendoakan keringanan azab bagi mayat dengan cara meletakkan pelepah kurma di atas kubur, sebagai harapan agar diringankan selama pelepah itu belum kering.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Wudhu', Bab "Maa Jaa'a fi Al-Baul" (Bab Tentang Kencing), no. 216, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman tentang pentingnya menjaga kebersihan dan menjauhi dosa:

> وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ

> "Dan pakaian takwa itulah yang paling baik." (QS. Al-A'raf [7]: 26)

Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga kebersihan lahir (dari najis) dan batin (dari dosa) adalah bagian dari ketakwaan.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya dosa tidak menjaga diri dari percikan air kencing, karena termasuk sebab azab kubur.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa namimah (mengadu domba) adalah dosa besar yang harus dijauhi.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Makna "Bukan karena dosa besar"

Nabi ﷺ bersabda, "Kedua orang ini disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar." Maksudnya, menurut pandangan sebagian orang, kedua dosa ini dianggap remeh dan kecil. Namun Nabi ﷺ kemudian mengoreksi: "Ya, (mereka disiksa karena dosa besar)." Artinya, di sisi Allah, kedua dosa ini termasuk dosa besar, meskipun manusia menganggapnya sepele.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa yang dimaksud "bukan dosa besar" dalam sabda Nabi ﷺ adalah menurut perkiraan manusia, bukan menurut Allah. Karena itu Nabi ﷺ langsung membantah dengan mengatakan, "Bahkan keduanya adalah dosa besar."

2. Dosa tidak menjaga diri dari air kencing

Ini menunjukkan bahwa menjaga kebersihan dari najis, terutama air kencing, adalah perkara yang sangat penting dalam Islam. Seorang muslim wajib bersuci dengan benar setelah buang air kecil, baik dengan air atau dengan batu/tisu (istijmar), dan memastikan tidak ada najis yang tersisa pada tubuh atau pakaiannya.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya menjelaskan bahwa azab kubur karena air kencing disebabkan oleh kelalaian dalam bersuci, yang menunjukkan kurangnya rasa takut kepada Allah dan meremehkan kesucian yang diperintahkan.

3. Dosa mengadu domba (namimah)

Namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan dan menimbulkan permusuhan. Ini adalah dosa besar yang dilarang keras dalam Islam. Allah berfirman:

> وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ ۝ هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

> "Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah (namimah)." (QS. Al-Qalam [68]: 10-11)

Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menempatkan bab tentang larangan namimah sebagai bab yang sangat penting, karena namimah adalah sumber perpecahan umat.

4. Hikmah peletakan pelepah kurma

Nabi ﷺ meletakkan pelepah kurma di atas dua kubur tersebut dengan harapan Allah meringankan azab keduanya selama pelepah itu belum kering. Ini menunjukkan bahwa doa dan istighfar dari orang yang masih hidup bermanfaat bagi mayat. Para ulama menjelaskan bahwa pelepah kurma yang masih basah bertasbih kepada Allah, dan tasbihnya menjadi sebab keringanan azab.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Ibnu Abbas berkata: "Nabi ﷺ meletakkan pelepah kurma di atas dua kubur, dan beliau bersabda: 'Semoga Allah meringankan azab keduanya selama pelepah ini belum kering.'"

Story Telling

Diriwayatkan dari Sa'id bin Al-Musayyib — salah seorang ulama tabi'in yang sangat zuhud — bahwa beliau sangat berhati-hati dalam masalah bersuci. Beliau berkata: "Sesungguhnya manusia itu diuji dengan tiga perkara: lisan, perut, dan kemaluan. Barangsiapa menjaga lisannya, perutnya, dan kemaluannya, maka ia telah menjaga seluruh kebaikan."

Ini menunjukkan bahwa para salaf sangat memperhatikan masalah kebersihan dan menjaga lisan dari perkataan yang merusak, termasuk namimah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga kebersihan dari najis, terutama air kencing. Pastikan setelah buang air kecil, tubuh dan pakaian kita bersih dari najis sebelum shalat.
  2. Jauhi namimah (mengadu domba) . Jangan menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan.
  3. Jangan meremehkan dosa kecil, karena bisa menjadi besar di sisi Allah jika terus-menerus dilakukan.
  4. Perbanyak doa dan istighfar untuk orang yang telah meninggal, karena itu bermanfaat bagi mereka.
  5. Ambil pelajaran dari kasih sayang Nabi ﷺ yang mendoakan kebaikan bagi orang lain, bahkan kepada mayat sekalipun.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.