Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memberitakan bahwa di akhir zaman akan ada pasukan yang hendak menyerang Ka'bah, lalu Allah tenggelamkan mereka semua di tanah Baida' (padang pasir antara Mekah dan Madinah). Meskipun ada orang yang ikut serta bukan karena niat menyerang (misalnya pedagang), mereka tetap ikut tenggelam, namun akan dibangkitkan dan diadili sesuai niat masing-masing. Pelajaran utamanya: amal tergantung niat, dan Allah Maha Adil dalam memberi balasan.
---
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Shahih Al-Bukhari nomor 2118 – dari Aisyah radhiyallahu 'anha:
> حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُوقَةَ، عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ، قَالَ: حَدَّثَتْنِي عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الْأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ". قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ، وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ؟ قَالَ: "يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ، ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ".
Terjemahan:
"Suatu pasukan akan memerangi Ka'bah. Apabila mereka telah tiba di tanah Baida', maka mereka akan ditenggelamkan, baik yang di depan maupun yang di belakang." Aisyah berkata, "Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana mereka ditenggelamkan semua padahal di antara mereka ada pasar-pasar mereka (para pedagang) dan orang-orang yang bukan golongan mereka?' Beliau menjawab, 'Mereka semua ditenggelamkan, kemudian mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat-niat mereka.'"
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2882) dan para ahli hadits lainnya. Para ulama seperti Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim (18/26), Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (3/401), dan Ibnu Katsir dalam An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim (1/140) telah menjelaskan maknanya.
---
Penjelasan Rinci
1. Makna global hadits
Hadits ini termasuk tanda-tanda Kiamat kubra (besar). Pasukan yang menyerang Ka'bah adalah pasukan zalim yang hendak merusak kesucian Baitullah. Saat berada di "Baida'" – sebuah tempat antara Mekah dan Madinah (ada yang mengatakan di dekat Dzulhulaifah) – mereka semua ditenggelamkan ke dalam bumi. Ini adalah bentuk azab Allah yang telah dijanjikan.
2. Pertanyaan Aisyah dan jawaban Nabi
Aisyah bertanya: bagaimana bisa semua orang di pasukan itu ditenggelamkan, padahal di antara mereka ada "aswaquhum" (pasar-pasar mereka), yaitu para pedagang yang membawa barang dagangan dan orang-orang yang ikut tanpa niat berperang (seperti pembantu, buruh, atau pengikut yang dipaksa)? Nabi ﷺ menegaskan bahwa semua tetap ditenggelamkan secara fisik, tetapi setelah dibangkitkan, mereka akan diadili menurut niatnya. Hal ini menegaskan prinsip bahwa balasan akhirat berdasarkan niat, bukan sekadar akibat lahiriah.
3. Penjelasan ulama
- Imam an-Nawawi berkata: "Hadits ini menunjukkan bahwa azab menimpa orang yang ikut dalam perbuatan maksiat meskipun mereka tidak berniat maksiat, tetapi mereka tetap mendapat balasan di akhirat sesuai niat mereka. Adapun pedagang yang ikut untuk dagang, jika mereka ikhlas karena Allah atau tidak ridha dengan kezaliman, mereka akan selamat dari azab akhirat."
- Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa maksud "dibangkitkan sesuai niat" adalah: orang yang berniat jahat (menyerang Ka'bah) akan diazab, orang yang ikut terpaksa atau untuk kepentingan duniawi akan dihisab dengan adil, dan orang yang ikut karena mencari nafkah halal tanpa mendukung kezaliman akan mendapat keringanan.
- Ibnu Katsir dalam An-Nihayah meriwayatkan bahwa pasukan ini adalah yang disebut dalam hadits lain sebagai "pasukan yang akan menghancurkan Ka'bah di akhir zaman", namun Allah binasakan mereka sebelum tiba.
Hadits ini juga dikuatkan dengan riwayat lain dalam Shahih Muslim bahwa pasukan tersebut adalah tentara yang dipimpin oleh seorang laki-laki dari Habasyah (Ethiopia) yang akan meruntuhkan Ka'bah batu demi batu.
---
Story Telling
Kisah tentang niat yang membedakan balasan
Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Seorang sahabat bernama Abu Umamah al-Bahili bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang berperang karena ingin disebut pemberani?" Beliau menjawab: "Dia tidak mendapatkan apa-apa dari Allah." (HR. Ahmad, hasan)
Hadits tentang pasukan yang ditenggelamkan ini menjadi pengingat bahwa niat adalah inti amal. Orang yang ikut ke medan perang hanya untuk berdagang, jika hatinya tidak setuju dengan penyerangan Ka'bah dan tidak ikut memerangi, maka di akhirat ia tidak dihukum seperti penyerang. Bahkan, dalam kisah Perang Badar, para sahabat yang ikut perang dengan niat tulus mendapat pahala besar, sedangkan orang munafik yang ikut hanya untuk rampasan tidak mendapat apa-apa.
Hikmah: Jangan remehkan niat. Setiap langkah kita, baik di pasar, di tempat kerja, atau dalam perjalanan, akan ditimbang oleh Allah. Maka perbaikilah niat, karena dari niatlah lahir amal yang bernilai di sisi-Nya.
---
Kesimpulan Praktis
- Hati-hati dalam bergaul dengan pelaku maksiat – Jika tidak mampu mencegah, setidaknya jangan ridha dan jangan ikut serta meskipun hanya secara fisik.
- Niat adalah segalanya – Perbanyaklah memperbaiki niat dalam setiap amal, termasuk dalam urusan dunia (dagang, kerja, bepergian).
- Jangan menzalimi tanah suci – Ka'bah adalah kiblat umat Islam, menyerangnya adalah dosa besar yang mendatangkan azab di dunia dan akhirat.
- Yakinlah pada keadilan Allah – Meskipun di dunia bisa tertimpa musibah bersama orang zalim, di akhirat Allah akan memisahkan yang ikhlas dari yang berniat buruk.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pem