Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang pembuatan mimbar pertama dalam sejarah Islam oleh seorang tukang kayu atas permintaan seorang wanita Anshar. Ketika Nabi ﷺ berpindah dari berkhutbah bersandar di batang pohon kurma ke mimbar, pohon tersebut menangis karena merindukan suara dzikir dan ilmu yang biasa didengarnya. Hadits ini menunjukkan keutamaan mimbar, penghormatan terhadap ilmu, dan mukjizat Nabi ﷺ yang bahkan pohon pun merasakan kehilangan ketika tidak lagi mendengar dzikir.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jual Beli, Bab Tukang Kayu, nomor 2095, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma.
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
QS. Al-Isra' [17]: 44
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang berada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun."
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk bahwa pohon kurma tersebut menangis secara hakiki sebagai mukjizat Nabi ﷺ.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga membahas hadits serupa dan menegaskan bahwa tangisan pohon tersebut adalah kejadian nyata yang menunjukkan kemuliaan Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
1. Konteks Sejarah Hadits
Para ulama menjelaskan bahwa sebelum adanya mimbar, Nabi ﷺ berkhutbah dengan bersandar pada batang pohon kurma di masjid Nabawi. Ketika jumlah jamaah semakin banyak dan khutbah semakin panjang, seorang wanita Anshar—menurut sebagian riwayat bernama Ummu Salim atau wanita lainnya—menawarkan diri untuk membuatkan mimbar. Beliau memiliki seorang budak yang pandai bertukang kayu.
Nabi ﷺ menjawab dengan penuh kelembutan: "Jika engkau mau." Ini menunjukkan adab Nabi ﷺ dalam menerima kebaikan orang lain tanpa memaksakan diri, namun tetap menghargai niat baik tersebut.
2. Tangisan Pohon Kurma
Ketika Nabi ﷺ pertama kali duduk di atas mimbar pada hari Jumat, batang pohon kurma yang biasa menjadi sandaran beliau menangis. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa tangisan ini adalah tangisan hakiki yang Allah ciptakan pada pohon tersebut sebagai mukjizat. Pohon itu merindukan suara Nabi ﷺ yang biasa menyampaikan dzikir dan ilmu di dekatnya.
Nabi ﷺ turun dari mimbar, memeluk pohon tersebut, dan menenangkannya seperti seorang ibu menenangkan anaknya yang menangis. Pohon itu pun berhenti setelah ditenangkan oleh beliau.
3. Pelajaran dari Hadits
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting:
- Mukjizat Nabi ﷺ: Pohon yang tidak berakal pun merasakan kehilangan ketika tidak lagi mendengar dzikir. Ini menunjukkan betapa agungnya pengaruh ilmu dan dzikir yang disampaikan Nabi ﷺ.
- Keutamaan Mimbar: Mimbar menjadi simbol syiar Islam dan tempat penyampaian ilmu. Para ulama menyebutkan bahwa mimbar Nabi ﷺ termasuk bagian dari tanda-tanda kebesaran Islam.
- Adab Menerima Hadiah: Nabi ﷺ menerima kebaikan wanita Anshar dengan penuh rasa syukur, meskipun beliau tidak meminta. Ini menunjukkan bahwa menerima kebaikan orang lain dengan lapang dada adalah bagian dari akhlak mulia.
- Penghormatan Terhadap Ilmu: Pohon kurma menangis karena merindukan ilmu dan dzikir. Ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa ilmu dan dzikir memiliki pengaruh yang luar biasa, bahkan makhluk yang tidak berakal pun merasakannya.
4. Hikmah dari Kisah Ini
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta bertasbih kepada Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Isra' ayat 44. Tangisan pohon kurma ini adalah bukti nyata bahwa seluruh makhluk memiliki kesadaran untuk bertasbih, meskipun kita tidak memahami caranya.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma bahwa setelah kejadian ini, Nabi ﷺ bersabda tentang pohon kurma tersebut: "Pohon itu menangis karena merindukan apa yang biasa didengarnya dari dzikir."
Para ulama menyebutkan bahwa setelah kejadian ini, Nabi ﷺ memerintahkan agar batang pohon kurma tersebut dikubur di bawah mimbar sebagai penghormatan. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa batang pohon itu disimpan hingga masa kekhalifahan, dan ketika masjid Nabawi direnovasi, batang pohon tersebut dikubur dengan hormat.
Kisah ini mengajarkan kita tentang betapa mulianya majelis ilmu. Jika pohon yang tidak berakal saja merindukan majelis dzikir, maka bagaimana dengan kita yang memiliki akal dan hati? Sudah seharusnya kita lebih bersemangat untuk menghadiri majelis ilmu dan tidak pernah merasa bosan mendengarkan Al-Qur'an dan hadits.
Kesimpulan Praktis
- Bersemangatlah dalam mencari ilmu — Jika pohon kurma menangis karena kehilangan majelis dzikir, maka kita yang memiliki akal seharusnya lebih bersemangat menghadiri majelis ilmu.
- Hargai setiap kebaikan orang lain — Nabi ﷺ menerima hadiah mimbar dari wanita Anshar dengan penuh kelembutan. Kita pun harus menghargai setiap kebaikan yang diberikan orang lain kepada kita.
- Jadikan masjid sebagai pusat ilmu — Mimbar dan masjid adalah tempat penyampaian ilmu dan dzikir. Kita harus memakmurkan masjid dengan menghadiri pengajian dan khutbah.
- Renungkan kebesaran Allah — Kisah ini menunjukkan bahwa seluruh makhluk bertasbih kepada Allah. Kita harus semakin khusyuk dalam ibadah dan dzikir.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.