Penjelasan Hadits Bukhari No. 2062 tentang Adab meminta izin masuk maksimal tiga kali

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan kisah Abu Musa Al-Asy'ari dan Umar bin Al-Khattab tentang adab meminta izin (istidzan) yang diajarkan Rasulullah ﷺ, yaitu jika seseorang meminta izin tiga kali dan tidak diizinkan, maka hendaknya ia kembali. Hadits ini juga menunjukkan kejujuran para sahabat dalam menyampaikan ilmu, serta sikap Umar yang sangat hati-hati dalam menerima hadits dengan meminta bukti/saksi. Kisah ini juga mengajarkan bahwa kesibukan duniawi (seperti berdagang) jangan sampai melalaikan kita dari menghafal dan menyampaikan ilmu agama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Buyu' (Perdagangan), Bab Al-Khuruj fi At-Tijarah (Keluar dalam Perdagangan), nomor 2062. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adab, Bab Al-Istidzan.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat." (QS. An-Nur [24]: 27)

Penjelasan Ulama:

Kisah ini dijelaskan oleh para ulama, di antaranya:

  • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan panjang lebar tentang adab istidzan dan faedah-faedah hadits ini.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menjelaskan hadits ini dalam bab Al-Istidzan.

Penjelasan Rinci

1. Konteks Kisah:

Kisah ini bermula ketika Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu datang menemui Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu untuk suatu keperluan. Ia meminta izin masuk, namun Umar sedang sibuk sehingga tidak mengizinkannya. Sesuai dengan sunnah yang diajarkan Rasulullah ﷺ, Abu Musa kemudian kembali pulang karena telah meminta izin (dan tidak diizinkan).

Ketika Umar selesai dari kesibukannya, ia mendengar bahwa yang datang tadi adalah Abu Musa. Umar pun memanggilnya dan bertanya mengapa ia pergi begitu saja. Abu Musa menjawab bahwa Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan mereka untuk melakukan hal itu—yaitu jika seseorang meminta izin tiga kali dan tidak diizinkan, maka hendaknya ia kembali.

2. Sikap Umar yang Hati-hati:

Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu dikenal sebagai khalifah yang sangat hati-hati dalam menerima hadits. Beliau meminta Abu Musa untuk mendatangkan saksi atas perkataannya. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat menjaga keaslian hadits dan tidak mudah menerima suatu riwayat tanpa kepastian.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sikap Umar ini bukan karena meragukan kejujuran Abu Musa, tetapi sebagai bentuk kehati-hatian dalam urusan agama, karena hadits adalah sumber syariat yang harus dijaga keotentikannya.

3. Kesaksian Abu Sa'id Al-Khudri:

Abu Musa kemudian pergi ke majelis kaum Anshar dan menanyakan hal ini. Mereka menjawab bahwa yang paling muda di antara mereka, yaitu Abu Sa'id Al-Khudri, yang bisa menjadi saksi. Abu Sa'id pun membenarkan perkataan Abu Musa. Maka Umar berkata, "Apakah perintah Rasulullah ﷺ ini tersembunyi dariku? Aku biasa sibuk berdagang di pasar."

4. Pelajaran dari Perkataan Umar:

Perkataan Umar "Aku biasa sibuk berdagang di pasar" menunjukkan bahwa kesibukan duniawi bisa membuat seseorang tidak mendengar atau menghafal sebagian ilmu. Ini bukan celaan bagi Umar, karena beliau adalah khalifah yang sangat sibuk mengurus urusan umat dan juga mencari nafkah. Namun ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa kesibukan dunia jangan sampai menghalangi kita dari menuntut ilmu agama.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa para salaf sangat menjaga waktu mereka untuk menuntut ilmu, dan mereka menganggap kesibukan dunia yang melalaikan dari ilmu sebagai kerugian yang besar.

5. Adab Meminta Izin (Istidzan):

Hadits ini menjadi dasar bahwa meminta izin maksimal tiga kali. Jika setelah tiga kali tidak diizinkan, maka hendaknya kembali. Ini adalah adab yang diajarkan Rasulullah ﷺ untuk menjaga privasi dan tidak mengganggu orang lain. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah kesepakatan para ulama bahwa jika seseorang meminta izin tiga kali dan tidak diizinkan, maka ia harus kembali.

Story Telling

Ada kisah indah tentang ketelitian para sahabat dalam menjaga ilmu. Diriwayatkan bahwa suatu ketika Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu berkhutbah di atas mimbar, lalu beliau berkata, "Barangsiapa yang mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang masalah diat (tebusan), maka hendaknya ia mengangkat tangannya." Maka Abu Musa Al-Asy'ari mengangkat tangannya dan berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda bahwa diat untuk jari adalah sepuluh ekor unta." Umar pun menerima kesaksian tersebut.

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat menjaga hadits-hadits Nabi ﷺ, dan mereka tidak segan untuk menyampaikan ilmu meskipun harus melalui proses verifikasi yang ketat. Ini juga menunjukkan bahwa ilmu itu amanah yang harus disampaikan dengan benar.

Kesimpulan Praktis

  1. Menjaga adab meminta izin — Jika kita meminta izin tiga kali dan tidak diizinkan, maka hendaknya kita kembali dengan lapang dada, tanpa merasa tersinggung.
  2. Kehati-hatian dalam menerima ilmu — Kita harus memastikan kebenaran suatu hadits atau ilmu sebelum mengamalkannya, sebagaimana Umar meminta saksi.
  3. Jangan biarkan kesibukan dunia melalaikan dari ilmu — Umar sendiri mengakui bahwa kesibukannya di pasar membuatnya tidak mendengar hadits ini. Ini menjadi pengingat bagi kita untuk menyisihkan waktu menuntut ilmu agama di tengah kesibukan.
  4. Kejujuran dalam menyampaikan ilmu — Abu Musa dan Abu Sa'id Al-Khudri dengan jujur menyampaikan apa yang mereka dengar dari Rasulullah ﷺ tanpa menambah atau mengurangi.
  5. Menghargai orang yang lebih muda dalam ilmu — Kaum Anshar menunjukkan bahwa Abu Sa'id Al-Khudri yang termuda di antara mereka tetap diakui ilmunya, karena ilmu tidak diukur dari usia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?