Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa turunnya QS. Al-Jumu'ah [62]: 11, ketika para sahabat meninggalkan khutbah Jum'at Nabi ﷺ untuk menyambut kafilah dagang yang baru tiba dari Syam. Peristiwa ini menjadi pelajaran penting tentang adab menghadiri shalat Jum'at dan khutbah, serta menunjukkan bahwa urusan duniawi tidak boleh melalaikan ibadah yang lebih utama. Hanya dua belas orang yang tetap bersama Nabi ﷺ, dan ayat ini turun sebagai teguran lembut dari Allah Ta'ala.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Jumu'ah [62]: 11
وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
"Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: 'Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan,' dan Allah sebaik-baik pemberi rezeki."
Hadits:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jual Beli, Bab Perkataan Allah Ta'ala: "Dan Ketika Mereka Melihat Perdagangan atau Hiburan, Mereka Menyebar ke Arah Itu" (no. 2058), dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama:
Peristiwa ini dijelaskan oleh para ulama tafsir dari kalangan yang kami rujuk. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, dan beliau menukil riwayat-riwayat dari para salaf tentang kejadian ini. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di juga menjelaskan makna ayat ini sebagai teguran atas sikap yang lebih mementingkan urusan dunia daripada mendengarkan khutbah Jum'at.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi pada hari Jum'at ketika Nabi ﷺ sedang berkhutbah. Tiba-tiba datanglah kafilah dagang dari Syam yang membawa makanan. Karena saat itu masyarakat Madinah sedang mengalami kesulitan ekonomi, mereka sangat antusias menyambut kafilah tersebut. Akibatnya, hampir semua jama'ah meninggalkan masjid, kecuali dua belas orang yang tetap tinggal bersama Nabi ﷺ.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang tetap tinggal bersama Nabi ﷺ adalah dua belas orang, dan beliau menyebutkan bahwa di antara mereka adalah Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu 'anhum. Beliau juga menukil perkataan Imam Al-Bukhari yang menyebutkan bahwa jumlah tersebut adalah dua belas orang laki-laki.
Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran besar: bahwa apa yang ada di sisi Allah berupa pahala, kebaikan, dan balasan yang kekal jauh lebih baik daripada kesenangan dunia yang fana. Allah Ta'ala memerintahkan Nabi ﷺ untuk mengingatkan umatnya bahwa rezeki yang hakiki adalah apa yang Allah berikan, bukan sekadar keuntungan dagang yang bersifat sementara.
Imam Ibnu Katsir juga menukil perkataan Qatadah bahwa ayat ini turun sebagai teguran bagi mereka yang meninggalkan khutbah karena urusan dunia. Namun, para ulama menegaskan bahwa para sahabat yang pergi itu tidaklah keluar dari keimanan, dan Allah mengampuni mereka. Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi umat Islam setelahnya agar tidak mengulangi kesalahan serupa.
Para ulama juga menjelaskan bahwa dalam shalat Jum'at, mendengarkan khutbah adalah bagian dari ibadah, dan meninggalkannya karena urusan dunia adalah bentuk kelalaian yang ditegur Allah. Namun, teguran ini disampaikan dengan cara yang lembut, menunjukkan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa setelah peristiwa ini, Nabi ﷺ tetap menyempurnakan khutbahnya dan kemudian menyelesaikan shalat Jum'at. Para sahabat yang pergi menyambut kafilah itu kemudian menyesali perbuatan mereka ketika mengetahui ayat ini turun. Mereka merasa malu dan menyesal karena telah meninggalkan majelis Nabi ﷺ.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada mereka yang tetap tinggal: "Demi Allah, kalian semua akan mendapatkan pahala yang lebih baik daripada kafilah dagang itu." Ini menunjukkan bahwa kesetiaan dan keistiqamahan dalam beribadah memiliki nilai yang jauh lebih tinggi di sisi Allah daripada keuntungan duniawi apa pun.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa manusia sering kali tergoda oleh hal-hal yang bersifat duniawi, tetapi Allah mengingatkan bahwa apa yang ada di sisi-Nya jauh lebih baik dan kekal. Para sahabat yang tetap tinggal menjadi teladan tentang keteguhan hati dalam beribadah meskipun ada godaan dunia.
Kesimpulan Praktis
- Utamakan ibadah di atas urusan dunia — ketika waktu shalat Jum'at tiba, tinggalkanlah segala aktivitas duniawi dan hadirlah ke masjid dengan khusyuk.
- Dengarkan khutbah dengan penuh perhatian — khutbah Jum'at adalah bagian dari ibadah, bukan sekadar formalitas.
- Jadikan peristiwa ini sebagai pelajaran — jangan sampai kita meninggalkan majelis ilmu atau shalat karena hal-hal duniawi yang sifatnya sementara.
- Yakinlah bahwa rezeki Allah tidak akan tertukar — apa yang Allah tetapkan untuk kita tidak akan luput, dan apa yang bukan hak kita tidak akan kita dapatkan.
- Teladani para sahabat yang tetap istiqamah — mereka yang tetap bersama Nabi ﷺ mendapatkan keutamaan yang besar di sisi Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.