Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah penjelasan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu tentang sebab beliau banyak meriwayatkan hadits dari Nabi ﷺ. Ini bukan sekadar cerita, tetapi mengandung pelajaran besar tentang keutamaan ilmu, kesungguhan dalam menuntutnya, dan bagaimana Allah memudahkan siapa saja yang ikhlas dan bersungguh-sungguh untuk menghafal dan memahami agama-Nya. Kisah membentangkan kain ini adalah mukjizat kecil dari Nabi ﷺ sekaligus bukti nyata bahwa barangsiapa bersungguh-sungguh menjaga sunnah, Allah akan menjaganya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jual Beli, Bab firman Allah: "Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di bumi..." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 10). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam beberapa tempat lain.
Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan bab ini:
Allah Ta'ala berfirman:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 10)
Hadits terkait:
Hadits yang sedang kita bahas ini adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari no. 2047. Dalam riwayat lain, Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan dalam Kitab Ilmu (no. 118) dan Kitab Shahih Muslim (no. 2385) dengan redaksi yang serupa.
Kaitan dengan ulama:
Hadits ini diriwayatkan dari jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri), salah satu ulama besar tabi'in yang tercantum dalam daftar rujukan kita. Az-Zuhri menerimanya dari Sa'id bin al-Musayyib dan Abu Salamah bin Abdurrahman, keduanya juga dari kalangan tabi'in terkemuka, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Keutamaan Ilmu dan Kesungguhan dalam Menuntutnya
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menjelaskan mengapa beliau lebih banyak meriwayatkan hadits dibanding sahabat lain. Beliau berkata bahwa para sahabat Muhajirin sibuk dengan perdagangan di pasar, dan para sahabat Ansar sibuk mengurus kebun dan harta mereka. Sedangkan Abu Hurairah adalah seorang miskin dari Ahlus Shuffah — para sahabat yang tinggal di serambi Masjid Nabawi dan tidak memiliki harta maupun pekerjaan yang menyibukkan. Karena itu, beliau bisa selalu bersama Nabi ﷺ, hadir di majelis-majelis beliau, dan menghafal apa yang beliau sampaikan.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Abu Hurairah dan kejujurannya. Beliau tidak menceritakan hal ini untuk membanggakan diri, tetapi untuk menjawab pertanyaan orang-orang yang heran mengapa beliau lebih banyak meriwayatkan hadits. Ini adalah bentuk adab dalam menyampaikan ilmu — menjelaskan dengan jujur dan tidak merendahkan orang lain.
2. Mukjizat Nabi ﷺ dalam Menjaga Hafalan Abu Hurairah
Bagian paling menarik dari hadits ini adalah sabda Nabi ﷺ:
"Barangsiapa membentangkan pakaiannya hingga aku selesai berbicara, kemudian mengumpulkannya ke dadanya, maka dia akan menghafal apa yang aku katakan."
Abu Hurairah langsung melakukannya. Beliau membentangkan kainnya, mendengarkan Nabi ﷺ berbicara, lalu setelah selesai beliau mengumpulkan kain itu ke dadanya. Maka sejak saat itu, beliau tidak pernah melupakan apa yang disampaikan Nabi ﷺ pada kesempatan tersebut.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah salah satu mukjizat Nabi ﷺ yang nyata. Doa dan kabar gembira dari Nabi ﷺ menjadi sebab Allah menjaga hafalan Abu Hurairah. Ini menunjukkan bahwa keberkahan ilmu datang dari Allah, dan salah satu sebabnya adalah kedekatan dengan Nabi ﷺ serta kesungguhan dalam menuntut ilmu.
3. Pelajaran tentang Prioritas Hidup
Hadits ini juga mengajarkan bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam menuntut ilmu. Para sahabat Muhajirin dan Ansar tidak kurang keutamaannya, tetapi kesibukan mereka dalam mencari nafkah membuat mereka tidak bisa selalu hadir di majelis Nabi ﷺ. Abu Hurairah justru diberi kelebihan karena kondisinya yang miskin dan tidak sibuk dengan dunia.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa ini bukan berarti kita boleh meninggalkan pekerjaan dan mencari nafkah. Justru para sahabat yang sibuk bekerja tetap mendapatkan pahala dan keutamaan. Tetapi hadits ini mengajarkan bahwa menuntut ilmu adalah amal yang sangat mulia, dan siapa yang diberi kesempatan untuk fokus dalam menuntut ilmu, hendaknya ia manfaatkan sebaik-baiknya.
4. Adab dalam Menuntut Ilmu
Ada adab yang bisa kita petik dari hadits ini:
- Hadir di majelis ilmu — Abu Hurairah selalu hadir di majelis Nabi ﷺ.
- Mendengarkan dengan penuh perhatian — Beliau membentangkan kainnya sebagai simbol kesiapan menerima ilmu.
- Mencatat dan menjaga ilmu — Beliau mengumpulkan kainnya ke dada sebagai simbol menghafal dan menjaga ilmu.
- Tidak malu karena kemiskinan — Abu Hurairah tidak malu mengakui kondisinya sebagai orang miskin, karena itu bukan aib.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan menghafal hadits dan pentingnya menjaga ilmu dengan menuliskannya atau menghafalnya. Meskipun menulis hadits pada masa itu masih diperselisihkan, menghafal adalah cara utama para sahabat menjaga sunnah.
Story Telling
Ada kisah menarik tentang Az-Zuhri, salah satu perawi hadits ini. Beliau adalah ulama besar tabi'in yang sangat dihormati. Suatu hari, seorang pemuda datang kepadanya dan berkata, "Wahai guruku, aku ingin menuntut ilmu, tetapi aku khawatir tidak bisa menghafalnya."
Az-Zuhri tersenyum dan berkata, "Wahai anakku, ilmu itu tidak akan diberikan kepada seseorang yang hatinya tidak siap. Jika engkau ingin menghafal, maka bersungguh-sungguhlah. Para ulama terdahulu menuntut ilmu dengan kesungguhan yang luar biasa. Mereka rela berjalan jauh, duduk di majelis ilmu berjam-jam, dan menahan lapar demi mendapatkan satu hadits."
Kemudian Az-Zuhri menyebutkan hadits Abu Hurairah ini sebagai contoh. "Lihatlah Abu Hurairah," katanya, "beliau adalah orang miskin yang tidak punya apa-apa. Tetapi karena kesungguhannya, Nabi ﷺ mendoakannya dan Allah menjaga hafalannya. Maka janganlah engkau menganggap kemiskinan atau kesibukan sebagai penghalang untuk menuntut ilmu. Yang menjadi penghalang hanyalah kemalasan dan tidak bersungguh-sungguh."
Pemuda itu pun tersentuh dan mulai bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. (Kisah ini disampaikan secara global dari sirah Az-Zuhri yang masyhur dalam kitab-kitab tarikh dan biografi ulama).
Hikmah: Kesungguhan dan keikhlasan adalah kunci keberkahan ilmu. Jika Abu Hurairah yang miskin bisa menjadi perawi hadits terbanyak, maka kita pun bisa meraih ilmu dengan kesungguhan, meskipun keterbatasan kita banyak.
Kesimpulan Praktis
Beberapa hal yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu agama, meskipun kita sibuk atau memiliki keterbatasan. Luangkan waktu khusus untuk hadir di majelis ilmu atau belajar dari ulama terpercaya.
- Jangan malu dengan kondisi kita. Abu Hurairah tidak malu mengakui kemiskinannya. Yang penting adalah semangat kita dalam menuntut ilmu.
- Jaga ilmu yang sudah dipelajari dengan cara mencatat, mengulang, dan mengamalkannya. Sebagaimana Abu Hurairah "mengumpulkan kainnya ke dada", kita juga harus "mengumpulkan" ilmu ke dalam hati dengan menghafal dan memahami.
- Jadikan ilmu sebagai prioritas, tetapi jangan tinggalkan kewajiban mencari nafkah. Para sahabat Muhajirin dan Ansar tetap mulia meskipun sibuk bekerja. Yang penting adalah keseimbangan.
- Yakinlah bahwa Allah akan menjaga siapa saja yang ikhlas menjaga sunnah Nabi-Nya, sebagaimana Dia menjaga hafalan Abu Hurairah melalui doa Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.