Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Ummul Mukminin Shafiyyah radhiyallahu 'anha mengunjungi Nabi ﷺ saat beliau sedang i'tikaf di masjid. Ketika beliau mengantarnya pulang, seorang sahabat Ansar melihat keduanya, lalu Nabi ﷺ memanggilnya dan menegaskan bahwa wanita itu adalah istrinya, Shafiyyah, agar tidak timbul prasangka buruk. Beliau lalu menjelaskan bahwa setan mengalir dalam diri manusia seperti darah mengalir, sehingga seorang mukmin perlu berhati-hati menjaga diri dari waswasnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab I'tikaf, no. 2039, dari jalur Ali bin Al-Husain (Zainal Abidin) dari Shafiyyah binti Huyay radhiyallahu 'anha. Imam Al-Bukhari juga meriwayatkannya dalam kitab yang sama dengan jalur Sufyan bin 'Uyainah dari Az-Zuhri.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan kehati-hatian terhadap setan:
QS. Al-A'raf [7]: 27
وَيَٰبَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ
"Wahai anak-anak Adam, janganlah sekali-kali setan menyesatkan kamu, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang tuamu (Adam dan Hawa) dari surga."
QS. An-Nas [114]: 4-5
مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
"Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia."
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Hadits ini menunjukkan beberapa hal penting:
Pertama, bolehnya istri mengunjungi suami yang sedang i'tikaf di masjid, dan bolehnya suami mengantar istrinya pulang. Ini dipahami oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari sebagai dalil bahwa kunjungan istri kepada mu'takif tidak membatalkan i'tikaf, dan bahwa Nabi ﷺ keluar dari area i'tikaf hanya sebatas mengantar istri hingga pintu masjid, bukan keluar untuk hal yang menyalahi i'tikaf.
Kedua, tindakan Nabi ﷺ memanggil sahabat Ansar tersebut dan menegaskan identitas Shafiyyah menunjukkan pentingnya menghilangkan prasangka buruk dan menutup pintu fitnah. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah bentuk pengajaran Nabi ﷺ kepada umatnya agar tidak membiarkan situasi yang bisa menimbulkan su'uzhan (prasangka buruk), terutama dalam hal yang berkaitan dengan kehormatan.
Ketiga, sabda beliau: "Sesungguhnya setan mengalir dalam diri anak Adam seperti darah mengalir" — Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah peringatan agar manusia selalu waspada terhadap bisikan setan, karena setan sangat dekat dengan manusia, mengalir bersamanya di mana pun. Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa dekatnya setan dengan hati manusia, dan bahwa waswas setan bisa masuk melalui aliran darah, artinya sangat halus dan sulit disadari.
Keempat, pertanyaan perawi "Apakah Shafiyyah mengunjunginya di malam hari?" dan jawaban "Tentu saja, di malam hari" — menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi pada malam hari, dan ini memperkuat mengapa Nabi ﷺ merasa perlu menjelaskan identitas Shafiyyah, karena kegelapan malam bisa menimbulkan keraguan.
Perbedaan pendapat ulama:
Di antara ulama yang tercantum, tidak ada perbedaan mendasar tentang makna hadits ini. Ibnu Hajar dan An-Nawawi sepakat bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang menjaga diri dari fitnah dan pentingnya kejelasan dalam berinteraksi. Ibnul Qayyim menambahkan bahwa ini juga menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ terhadap istrinya dan perhatian beliau terhadap perasaan orang lain.
Story Telling
Dikisahkan bahwa pada suatu malam di bulan Ramadhan, ketika Nabi ﷺ sedang beri'tikaf di masjid, datanglah Ummul Mukminin Shafiyyah binti Huyay radhiyallahu 'anha untuk mengunjungi beliau. Setelah berbincang sejenak, Shafiyyah pun berpamitan pulang. Nabi ﷺ yang penuh kasih sayang bangkit dan mengantarnya berjalan pulang.
Di tengah perjalanan malam itu, melintaslah seorang sahabat Ansar. Ketika ia melihat Nabi ﷺ berjalan berdua dengan seorang wanita, ia pun mempercepat langkahnya — mungkin karena merasa tidak pantas mengganggu, atau mungkin karena ingin menjauh agar tidak mencurigai sesuatu. Namun Nabi ﷺ justru memanggilnya: "Kemarilah! Ini Shafiyyah."
Sahabat itu tentu terkejut dan berkata, "Subhanallah, ya Rasulullah, aku tidak menyangka apa-apa." Nabi ﷺ lalu bersabda dengan lembut namun tegas: "Sesungguhnya setan mengalir dalam diri anak Adam seperti darah mengalir."
Hikmahnya: Nabi ﷺ mengajarkan bahwa meskipun seorang mukmin tidak boleh berprasangka buruk, seorang pemimpin dan orang yang memiliki kedudukan juga wajib menjaga diri dari hal yang bisa menimbulkan prasangka. Ini adalah pelajaran tentang kehati-hatian (ihtiyath) dan menjaga kehormatan (hifzhul 'irdh).
Kesimpulan Praktis
- Bolehnya istri mengunjungi suami yang i'tikaf di masjid, dan suami boleh mengantarnya pulang tanpa membatalkan i'tikaf.
- Pentingnya menutup pintu fitnah dengan menjelaskan situasi yang bisa menimbulkan prasangka buruk, sebagaimana Nabi ﷺ menegaskan identitas Shafiyyah.
- Setan sangat dekat dengan manusia — ia mengalir seperti darah, maka perbanyaklah dzikir, istighfar, dan berlindung kepada Allah dari waswasnya.
- Jangan berprasangka buruk kepada orang lain tanpa bukti, namun juga jangan menempatkan diri dalam situasi yang mencurigakan.
- Teladani kelembutan Nabi ﷺ dalam menjaga perasaan istri dan sahabatnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.