Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 2023 tentang Malam Lailatul Qadar dirahasiakan karena pertengkaran umat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita bahwa ilmu tentang waktu pasti Lailatul Qadr diangkat (dirahasiakan) oleh Allah ﷻ karena adanya pertengkaran dua orang sahabat saat Nabi ﷺ hendak mengumumkannya. Namun, Nabi ﷺ tetap memberi petunjuk agar kita mencarinya di malam-malam ganjil, khususnya malam ke-25, ke-27, dan ke-29 Ramadhan. Ini adalah rahmat dan hikmah dari Allah agar kita bersungguh-sungguh beribadah di sepanjang malam-malam tersebut, bukan hanya satu malam saja.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits yang Anda sampaikan adalah benar sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Malam Qadr, Bab "Mengangkat Pengetahuan tentang Malam Qadr karena Pertikaian Manusia", no. 2023, dari sahabat 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an tentang Lailatul Qadr:

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr)."

(QS. Al-Qadr [97]: 1)

Dan firman-Nya:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."

(QS. Al-Qadr [97]: 3)

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan salaf dan khalaf berbeda pendapat tentang penetapan malam Lailatul Qadr. Sebagian besar ulama, di antaranya Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, menyatakan bahwa hikmah dirahasiakannya malam tersebut adalah agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah di seluruh malam Ramadhan, terutama di sepuluh malam terakhir. Ini sejalan dengan hadits ini, di mana Nabi ﷺ mengarahkan kita untuk mencarinya di malam ke-25, ke-27, dan ke-29.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

1. Sebab Diangkatnya Pengetahuan tentang Lailatul Qadr

Nabi ﷺ keluar untuk memberitahu para sahabat secara pasti kapan Lailatul Qadr terjadi. Namun, di tengah perjalanan, beliau mendengar dua orang sahabat bertengkar (tentang urusan dunia). Maka Allah ﷻ mengangkat pengetahuan tentang waktu pastinya dari Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa pertengkaran dan perselisihan di kalangan umat Islam bisa menjadi sebab hilangnya ilmu dan keberkahan.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa pertengkaran tersebut terjadi di hadapan Nabi ﷺ, dan sebagai ujian, Allah mengangkat ilmu tersebut. Ini bukan berarti Nabi ﷺ lupa, tetapi ini adalah ketetapan Allah agar umatnya tidak hanya beribadah pada satu malam saja, melainkan menghidupkan banyak malam.

2. Makna "عَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ" (Mungkin itu lebih baik bagi kalian)

Nabi ﷺ menghibur para sahabat dengan mengatakan bahwa diangkatnya pengetahuan ini mungkin lebih baik. Mengapa? Karena jika malam itu diketahui secara pasti, sebagian orang mungkin hanya beribadah pada malam itu saja dan meninggalkan malam lainnya. Dengan dirahasiakan, seorang hamba akan bersungguh-sungguh beribadah di banyak malam, sehingga pahalanya lebih banyak dan keimanannya lebih teruji.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hikmah ini adalah untuk meningkatkan kesungguhan ibadah dan menjauhkan rasa malas. Beliau juga menegaskan bahwa Lailatul Qadr tetap ada dan tidak diangkat, hanya saja pengetahuan pastinya yang diangkat dari ingatan Nabi ﷺ.

3. Malam yang Disebutkan: 29, 27, dan 25

Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari Lailatul Qadr pada malam ke-29, ke-27, dan ke-25. Ini adalah malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir. Namun, para ulama menegaskan bahwa ini bukan berarti malam-malam genap tidak mungkin menjadi Lailatul Qadr. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if Al-Ma'arif menjelaskan bahwa hadits-hadits lain menyebutkan malam ke-21, ke-23, dan ke-24 juga. Oleh karena itu, pendapat yang paling kuat adalah mencarinya di seluruh sepuluh malam terakhir, dengan penekanan pada malam-malam ganjil.

Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm menyatakan bahwa beliau lebih cenderung pada malam ke-21 atau ke-23 berdasarkan sebagian riwayat, namun beliau tetap menganjurkan ijtihad di semua malam sepuluh terakhir.

4. Pelajaran Adab: Menjauhi Pertengkaran

Hadits ini juga mengajarkan adab yang sangat penting: pertengkaran adalah sebab hilangnya keberkahan. Imam Al-Barbahari dalam Syarh As-Sunnah menekankan bahwa perselisihan dan perpecahan adalah perkara yang tercela, dan para salaf sangat menjaga lisan mereka dari perdebatan yang tidak bermanfaat, terlebih lagi di bulan Ramadhan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan Ats-Tsauri sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Beliau mandi, bersiwak, dan menghidupkan malam-malam tersebut dengan shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur'an. Beliau berkata, "Malam Lailatul Qadr lebih aku sukai daripada seribu bulan, dan aku tidak ingin melewatkan satu malam pun dari sepuluh malam terakhir tanpa beribadah, karena aku tidak tahu malam mana yang merupakan Lailatul Qadr."

Kisah ini menunjukkan bagaimana para salaf memahami hadits ini dengan sangat baik. Mereka tidak berdebat tentang malam pastinya, tetapi mereka bersungguh-sungguh di semua malam. Ini adalah buah dari keimanan dan ketaqwaan mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi pertengkaran dan perselisihan, terutama di bulan Ramadhan, karena bisa menjadi sebab hilangnya keberkahan dan ilmu.
  2. Bersungguh-sungguhlah beribadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29), karena Lailatul Qadr ada di antara malam-malam tersebut.
  3. Perbanyak doa, terutama doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada 'Aisyah: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni" (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku).
  4. Jangan berdebat tentang waktu pastinya, karena yang terpenting adalah kesungguhan ibadah kita, bukan sekadar mengetahui waktunya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id gratis

Bantu penjelasan AI tetap berjalan

Baca kalimat awal di atas. Lanjutkan dengan donasi seikhlasnya, atau nanti saja.

Donasi