Penjelasan Hadits Bukhari No. 2016 tentang Mencari Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah diberi tahu kapan tepatnya Lailatul Qadar, lalu beliau dilupakan tentang waktunya sebagai hikmah agar umat ini bersungguh-sungguh mencarinya. Karena itu, beliau mengarahkan kita mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan, dan beliau sendiri beri'tikaf serta memperbanyak ibadah di waktu tersebut. Tanda yang beliau sebutkan (sujud di air dan tanah liat) benar-benar terjadi, menunjukkan kebenaran sabda beliau.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Qadr [97]: 1–3

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾

Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan."

QS. Ad-Dukhan [44]: 3

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang penuh berkah. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Lailatul Qadar, Bab Mencari Lailatul Qadar di Sepuluh Malam Terakhir (no. 2016), dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه melalui jalur Abu Salamah bin Abdurrahman.

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim dari Abu Sa'id Al-Khudri dan Ibnu Umar رضي الله عنهما, serta oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnad.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya i'tikaf dan mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir, khususnya malam-malam ganjil.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hikmah dilupakannya waktu Lailatul Qadar adalah agar umat bersungguh-sungguh beribadah di seluruh sepuluh malam terakhir.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa Nabi ﷺ menggabungkan i'tikaf, qiyamul lail, dan doa pada malam-malam tersebut.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam diturunkannya Al-Qur'an dan malam penetapan takdir tahunan.

Penjelasan Rinci

1. Makna umum hadits

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  • I'tikaf disyariatkan pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Nabi ﷺ beri'tikaf bersama para sahabat pada sepuluh malam pertengahan, kemudian beliau mengarahkan mereka untuk melanjutkan pada sepuluh malam terakhir.
  • Lailatul Qadar benar-benar ada dan waktunya dirahasiakan. Nabi ﷺ diberi tahu lalu dilupakan, agar umat Islam bersungguh-sungguh mencarinya di setiap malam ganjil.
  • Malam-malam ganjil yang dimaksud menurut jumhur ulama dari daftar kita — seperti Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, Ibnu Hajar, dan an-Nawawi — adalah malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.
  • Tanda yang disebutkan Nabi ﷺ (sujud di air dan tanah liat) adalah tanda khusus yang terjadi pada tahun itu, bukan syarat mutlak untuk mengetahui Lailatul Qadar.

2. Pemahaman ulama

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil utama bahwa Lailatul Qadar berada di sepuluh malam terakhir, dan lebih ditekankan pada malam-malam ganjil. Beliau juga menjelaskan bahwa peristiwa sujud di air dan tanah liat terjadi pada malam ke-21 Ramadan tahun itu, berdasarkan riwayat-riwayat lain yang menguatkan.

Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hikmah disembunyikannya waktu Lailatul Qadar adalah:

  • Agar umat Islam memperbanyak ibadah di seluruh sepuluh malam terakhir, bukan hanya satu malam.
  • Agar terlihat siapa yang benar-benar bersungguh-sungguh dan siapa yang bermalas-malasan.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salaf, termasuk Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak, sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir: mereka menghidupkan malam, memperbanyak qiyamul lail, tilawah Al-Qur'an, dan doa.

Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam diturunkannya Al-Qur'an dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul 'Izzah di langit dunia, dan pada malam itu ditetapkan takdir tahunan sebagaimana firman Allah dalam QS. Ad-Dukhan [44]: 4.

3. Perbedaan pendapat di antara ulama daftar

  • Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad cenderung menguatkan malam ke-21 sebagai malam Lailatul Qadar berdasarkan hadits Abu Sa'id ini.
  • Imam Malik dan sebagian ulama lain menguatkan malam ke-27 berdasarkan hadits Ubay bin Ka'b yang diriwayatkan Imam Muslim.
  • Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa Lailatul Qadar berpindah-pindah dari tahun ke tahun, sehingga kita dianjurkan mencarinya di seluruh malam ganjil sepuluh terakhir.

Pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah hendaknya seorang Muslim bersungguh-sungguh di seluruh sepuluh malam terakhir, tidak hanya satu malam tertentu, karena waktu pastinya dirahasiakan.

4. Doa yang diajarkan Nabi ﷺ

Imam at-Tirmidzi dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها bahwa Nabi ﷺ mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau mencintai ampunan, maka ampunilah aku."

Story Telling

Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه — sahabat yang meriwayatkan hadits ini — menceritakan pengalaman yang sangat berkesan. Beliau bersama para sahabat beri'tikaf di masjid Nabawi pada sepuluh malam pertengahan Ramadan. Masjid saat itu sederhana: atapnya dari pelepah daun kurma, lantainya tanah.

Pada pagi hari ke-20, Nabi ﷺ keluar dan berkhutbah. Beliau menyampaikan bahwa beliau pernah diberi tahu kapan Lailatul Qadar, lalu dilupakan. Beliau memerintahkan para sahabat yang beri'tikaf untuk kembali dan melanjutkan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir.

Abu Sa'id berkata: "Saat itu langit benar-benar cerah, tidak ada awan sedikit pun." Namun tak lama kemudian, awan datang dan hujan turun deras. Air merembes melalui atap masjid yang terbuat dari pelepah kurma. Ketika shalat didirikan, Abu Sa'id melihat Nabi ﷺ sujud — dan beliau sujud di atas air dan tanah liat. Abu Sa'id melihat dengan mata kepalanya sendiri bekas tanah liat menempel di dahi Nabi ﷺ.

Peristiwa ini menjadi bukti nyata kebenaran sabda Nabi ﷺ, dan menjadi pelajaran abadi bagi umat Islam: bahwa Lailatul Qadar benar-benar ada, dan kita diperintahkan mencarinya dengan sungguh-sungguh.

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi pada malam ke-21 Ramadan, dan menjadi salah satu tanda yang paling jelas yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih.

Kesimpulan Praktis

  1. Hidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan qiyamul lail, tilawah Al-Qur'an, dzikir, dan doa — terutama pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29).
  2. Lakukan i'tikaf jika mampu, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ dan para sahabat.
  3. Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ: Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni.
  4. Jangan hanya terpaku pada satu malam tertentu, karena waktunya dirahasiakan — ini hikmah agar kita bersungguh-sungguh di seluruh malam.
  5. Jangan menuntut tanda-tanda fisik seperti hujan atau cahaya; tanda yang disebutkan dalam hadits bersifat khusus dan tidak menjadi syarat.
  6. Ikuti pemahaman para ulama Ahlus Sunnah dalam beribadah, tanpa ghuluw (berlebihan) dan tanpa meremehkan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?