Penjelasan Hadits Bukhari No. 2005 tentang Perintah berpuasa pada hari Asyura

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa hari 'Asyura (10 Muharram) disyariatkan, dan salah satu hikmahnya adalah menyelisihi kebiasaan orang Yahudi yang menjadikannya hari raya. Umat Islam dianjurkan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk ibadah dan pembeda dari umat lain. Puasa 'Asyura memiliki keutamaan menghapus dosa setahun yang lalu.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil Al-Qur'an (perintah berpuasa dan menyelisihi jalan orang kafir):

QS. Al-Baqarah [2]: 183

وَيَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa."

Hadits terkait (dari Abu Qatadah, diriwayatkan Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah):

Puasa hari 'Asyura menghapus dosa setahun yang lalu. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa besar.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih al-Bukhari) menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk hikmah menyelisihi Yahudi.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Al-Majmu' membahas keutamaan dan hukum puasa 'Asyura.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad merinci tingkatan puasa 'Asyura.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa orang Yahudi di Madinah menjadikan hari 'Asyura sebagai hari raya ('ied). Ketika Nabi ﷺ mengetahui hal itu, beliau memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa pada hari tersebut. Perintah "فَصُومُوهُ أَنْتُمْ" (maka berpuasalah kalian) menunjukkan kekhususan bagi umat Islam untuk menyelisihi mereka.

Pemahaman para ulama:

  1. Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari) menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya puasa 'Asyura, dan salah satu hikmahnya adalah mukhalafah (menyelisihi) ahli kitab. Beliau juga menyebutkan bahwa puasa 'Asyura sudah dikenal sejak masa jahiliyah, lalu dikuatkan dalam Islam.
  2. Imam an-Nawawi (Syarh Muslim) menegaskan bahwa puasa 'Asyura adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Beliau menyebutkan bahwa yang paling utama adalah berpuasa pada hari ke-9 dan ke-10 Muharram, berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa Nabi ﷺ berniat puasa pada hari ke-9.
  3. Ibn Qayyim al-Jawziyyah (Zadul Ma'ad) merinci tingkatan puasa 'Asyura:
  • Paling rendah: puasa hanya pada hari ke-10 saja.
  • Lebih baik: puasa hari ke-9 dan ke-10.
  • Paling sempurna: puasa hari ke-9, ke-10, dan ke-11.
  1. Ibn Taymiyyah (Majmu' al-Fatawa) menegaskan bahwa menyelisihi ahli kitab dalam ibadah adalah prinsip yang disyariatkan, dan puasa 'Asyura termasuk bab tersebut.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat apakah puasa 'Asyura wajib sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa pendapat yang kuat adalah puasa 'Asyura pernah wajib di awal Islam, kemudian kewajibannya dihapus (mansukh) dengan turunnya perintah puasa Ramadhan, dan statusnya menjadi sunnah. Ini dikuatkan oleh hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha dalam Shahih al-Bukhari bahwa ketika Ramadhan diwajibkan, puasa 'Asyura ditinggalkan (kewajibannya).

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, ketika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, beliau mendapati orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura. Beliau bertanya: "Hari apa ini?" Mereka menjawab: "Ini hari yang agung, pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir'aun. Maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai syukur." Nabi ﷺ bersabda: "Kami lebih berhak dan lebih dekat kepada Musa daripada kalian." Maka beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.

Hikmah: Nabi ﷺ tidak hanya meniru, tetapi menegaskan bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti Nabi Musa 'alaihissalam, sekaligus menyelisihi cara Yahudi yang menjadikannya hari raya. Ini menunjukkan prinsip ittiba' (mengikuti sunnah) dan mukhalafah (menyelisihi ahli kitab) dalam syariat.

Kesimpulan Praktis

  1. Puasa 'Asyura disunnahkan bagi setiap muslim, yaitu pada tanggal 10 Muharram.
  2. Lebih utama berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram untuk menyelisihi Yahudi.
  3. Keutamaannya menghapus dosa setahun yang lalu (dosa kecil).
  4. Hindari menjadikan hari 'Asyura sebagai hari raya atau perayaan khusus, karena itu menyerupai ahli kitab.
  5. Niatkan puasa sebagai ibadah dan bentuk syukur kepada Allah atas keselamatan Nabi Musa 'alaihissalam.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?