Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa puasa 'Asyura (10 Muharram) adalah puasa yang sangat dianjurkan. Awalnya, Nabi ﷺ mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu karena Allah menyelamatkan Nabi Musa 'alaihis salam dan Bani Israel dari musuh mereka. Maka Nabi ﷺ pun berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa, karena beliau lebih berhak mengikuti Nabi Musa daripada mereka. Ini menunjukkan syariat kita mengakui dan melanjutkan kebaikan yang ada pada umat sebelumnya, serta menegaskan kecintaan kita kepada para nabi.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Tentang keselamatan Nabi Musa dan Bani Israel, Allah berfirman:
فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ
"Lalu Kami wahyukan kepada Musa: 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.' Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar." (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 63)
2. Hadits terkait:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Puasa, Bab Puasa Hari 'Asyura, no. 2004, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Hadits lain yang memperkuat keutamaan puasa 'Asyura, dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
"Dan puasa hari 'Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya." (HR. Muslim, no. 1162)
3. Kaitan dengan ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa puasa 'Asyura hukumnya sunnah, bukan wajib, dan keutamaannya menghapus dosa setahun yang lalu.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan secara panjang lebar tentang sejarah dan hukum puasa 'Asyura, serta hikmah Nabi ﷺ memerintahkan puasa ini.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Sejarah pensyariatan puasa 'Asyura
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (4/245) menjelaskan bahwa ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura. Beliau bertanya tentang hal itu, dan mereka menjawab bahwa hari itu adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israel dari Fir'aun. Maka Nabi ﷺ bersabda, "Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian", lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya.
2. Makna "Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian"
Ini adalah pernyataan yang sangat agung. Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya lebih berhak mengikuti Nabi Musa 'alaihis salam daripada orang-orang Yahudi sendiri, karena kita beriman kepada seluruh nabi dan rasul, sedangkan mereka telah mengingkari sebagiannya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin dalam Syarh Riyadhis Shalihin menjelaskan bahwa ini menunjukkan kecintaan kita kepada para nabi dan pengakuan kita terhadap syariat mereka yang masih sesuai dengan syariat kita.
3. Hukum puasa 'Asyura
Para ulama sepakat bahwa puasa 'Asyura hukumnya sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan). Namun ada perincian:
- Imam Asy-Syafi'i dan jumhur ulama berpendapat bahwa puasa 'Asyura hukumnya sunnah, bukan wajib. Ini berdasarkan hadits bahwa ketika puasa Ramadhan diwajibkan, puasa 'Asyura menjadi sunnah.
- Imam Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayat menyebutkan bahwa pada awalnya puasa 'Asyura adalah wajib, kemudian di-nasakh (dihapus) dengan kewajiban puasa Ramadhan. Namun setelah itu tetap dianjurkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa (25/298) menjelaskan bahwa puasa 'Asyura disyariatkan pada tahun kedua hijrah sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, kemudian setelah Ramadhan diwajibkan, puasa 'Asyura menjadi sunnah.
4. Anjuran menambah puasa tanggal 9 Muharram
Para ulama juga menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu'a) bersama dengan tanggal 10, untuk menyelisihi orang-orang Yahudi. Ini berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:
حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ عَشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
"Ketika Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari 'Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa, para sahabat berkata: 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashara.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Jika tahun depan (kita masih hidup), insya Allah kita akan berpuasa pada hari kesembilan.'" (HR. Muslim, no. 1134)
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dianjurkannya menggabungkan puasa tanggal 9 dan 10 Muharram untuk menyelisihi ahli kitab.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat pemandangan yang menarik perhatian: orang-orang Yahudi Madinah berpuasa pada hari 'Asyura dengan penuh semangat. Beliau bertanya, "Hari apa ini? Mengapa kalian berpuasa?"
Mereka menjawab, "Ini adalah hari yang agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israel dari kejaran Fir'aun. Musa berpuasa pada hari ini sebagai wujud syukur kepada Allah."
Maka Nabi ﷺ bersabda dengan tegas namun penuh hikmah, "Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian." Beliau tidak hanya mengakui kebenaran peristiwa itu, tetapi juga menegaskan bahwa umat Islam adalah pengikut setia seluruh nabi. Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa kebaikan yang ada pada umat sebelumnya, selama tidak bertentangan dengan syariat kita, bisa kita ambil dan lanjutkan. Namun kita juga diperintahkan untuk menyelisihi mereka dalam hal-hal yang menjadi ciri khas mereka, seperti menambah puasa tanggal 9 Muharram.
Kesimpulan Praktis
- Puasa 'Asyura (10 Muharram) adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan keutamaannya menghapus dosa setahun yang lalu.
- Dianjurkan berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus untuk menyelisihi orang-orang Yahudi.
- Jika tidak bisa keduanya, cukup berpuasa tanggal 10 Muharram saja.
- Niatkan puasa karena Allah dan sebagai wujud syukur atas nikmat keselamatan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
- Jangan lupa memperbanyak ibadah lain di bulan Muharram, karena bulan ini termasuk bulan haram yang dimuliakan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.