Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan adab Nabi ﷺ yang sangat mulia ketika berkunjung ke rumah sahabatnya, Ummu Sulaim. Beliau menolak hidangan karena sedang berpuasa, namun dengan cara yang sangat santun: meminta makanan itu dikembalikan ke tempatnya agar tidak terbuang. Hadits ini juga berisi doa Nabi ﷺ yang mustajab untuk Anas bin Malik, yaitu diberikan harta, anak, dan keberkahan. Ini adalah dalil tentang bolehnya seorang yang berpuasa mengunjungi orang lain dan tidak berbuka di tempat mereka, serta keutamaan mendoakan kebaikan bagi tuan rumah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Puasa, Bab "Siapa yang Mengunjungi Suatu Kaum dan Tidak Berbuka di Tempat Mereka" (no. 1982). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2481) dari jalur lain.
Teks Arab Hadits (bagian inti):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، قَالَ حَدَّثَنِي خَالِدٌ ـ هُوَ ابْنُ الْحَارِثِ ـ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ، عَنْ أَنَسٍ ـ رضى الله عنه ـ دَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى أُمِّ سُلَيْمٍ، فَأَتَتْهُ بِتَمْرٍ وَسَمْنٍ، قَالَ " أَعِيدُوا سَمْنَكُمْ فِي سِقَائِهِ، وَتَمْرَكُمْ فِي وِعَائِهِ، فَإِنِّي صَائِمٌ "
Terjemahan: Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, "Nabi ﷺ mengunjungi Ummu Sulaim, lalu beliau dihidangkan kurma dan samin (mentega). Beliau bersabda, 'Kembalikanlah samin kalian ke tempatnya, dan kurma kalian ke wadahnya, karena sesungguhnya aku sedang berpuasa.'"
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini menjadi dasar bagi para ulama dalam beberapa pembahasan fiqih dan adab. Di antaranya:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa bab ini menunjukkan bolehnya seseorang yang berpuasa untuk mengunjungi orang lain, dan jika dihidangi makanan, ia boleh menolak dengan alasan berpuasa. Beliau juga menukil penjelasan tentang adab menolak pemberian dengan cara yang tidak menyakiti hati pemberi.
- Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim) menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang bolehnya mengembalikan makanan yang belum disentuh ke tempat penyimpanannya, dan ini bukan termasuk perbuatan yang tidak sopan, justru ini adalah bentuk kejujuran dan kehati-hatian.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seorang yang berpuasa mengunjungi orang lain, dan jika ia tidak ingin makan, ia boleh menolak dengan alasan yang jelas. Ini lebih baik daripada menerima lalu tidak memakannya, atau menerima dan memakannya padahal ia sedang berpuasa sunnah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa faedah penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Adab Seorang Tamu yang Sedang Berpuasa
Ketika Nabi ﷺ berkunjung ke rumah Ummu Sulaim, beliau dihidangi kurma dan samin. Karena beliau sedang berpuasa, beliau tidak memakannya. Namun, perhatikan bagaimana beliau menolak dengan cara yang sangat baik. Beliau tidak berkata, "Saya tidak mau," atau "Saya tidak suka," tetapi beliau berkata, "Kembalikanlah samin kalian ke tempatnya, dan kurma kalian ke wadahnya, karena sesungguhnya aku sedang berpuasa."
Ini adalah pelajaran adab yang sangat agung. Menolak pemberian orang lain adalah perkara yang bisa menyakiti hati. Oleh karena itu, Nabi ﷺ memberikan alasan yang jelas dan objektif (sedang berpuasa), serta meminta makanan itu disimpan kembali agar tidak terbuang sia-sia. Ini menunjukkan perhatian beliau terhadap nikmat makanan dan perasaan tuan rumah.
2. Doa Nabi ﷺ yang Mustajab untuk Anas bin Malik
Setelah menolak hidangan, Nabi ﷺ berdiri dan shalat sunnah, lalu berdoa untuk Ummu Sulaim dan keluarganya. Ummu Sulaim kemudian meminta doa khusus untuk anaknya, Anas, yang saat itu masih kecil dan menjadi pelayan Nabi ﷺ. Maka Nabi ﷺ mendoakan, "Ya Allah, berikanlah dia harta dan anak, serta berkahilah dia."
Doa ini adalah doa yang mustajab. Anas bin Malik sendiri yang meriwayatkan bahwa setelah doa ini, ia menjadi salah satu orang Anshar yang paling banyak hartanya, dan keturunannya sangat banyak hingga lebih dari 120 orang keturunannya telah dimakamkan pada masa Hajjaj bin Yusuf. Ini menunjukkan bahwa doa Nabi ﷺ adalah doa yang mustajab dan nyata.
3. Bolehnya Shalat Sunnah di Rumah Orang Lain
Dalam hadits ini, Nabi ﷺ shalat sunnah di rumah Ummu Sulaim. Ini menunjukkan bahwa shalat sunnah (nafilah) boleh dilakukan di mana saja, termasuk di rumah orang lain, selama pemilik rumah mengizinkan atau tidak keberatan. Ini juga menunjukkan bahwa rumah seorang muslim adalah tempat yang baik untuk beribadah.
4. Keutamaan Mendoakan Kebaikan untuk Tuan Rumah
Nabi ﷺ mendoakan kebaikan untuk Ummu Sulaim dan keluarganya. Ini adalah sunnah yang agung. Ketika kita berkunjung ke rumah seseorang, kita dianjurkan untuk mendoakan kebaikan bagi mereka. Ini akan mempererat ukhuwah dan menunjukkan kasih sayang kita kepada sesama muslim.
Story Telling
Kisah ini adalah kisah nyata yang diriwayatkan langsung oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Anas adalah pelayan Nabi ﷺ selama 10 tahun. Beliau melayani Nabi ﷺ sejak usia 10 tahun hingga Nabi ﷺ wafat. Dalam riwayat lain, Anas berkata, "Nabi ﷺ tidak pernah berkata 'ah' kepadaku atas sesuatu yang aku lakukan, dan tidak pernah berkata 'kenapa kamu lakukan ini?' kecuali jika aku melakukannya."
Kisah doa ini menunjukkan betapa dekatnya Anas dengan Nabi ﷺ, dan betapa besar kasih sayang Nabi ﷺ kepadanya. Ummu Sulaim, ibunda Anas, adalah wanita yang cerdas dan memiliki keimanan yang kuat. Ia rela berkorban untuk agama, bahkan ketika suaminya (Abu Thalhah) belum masuk Islam, ia tetap teguh dan akhirnya suaminya pun masuk Islam.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa melayani orang-orang shalih, terutama para ulama dan da'i, adalah sebab datangnya keberkahan. Anas yang melayani Nabi ﷺ dengan ikhlas, mendapatkan doa yang membuatnya kaya harta dan banyak keturunan. Ini adalah bukti bahwa siapa yang melayani agama Allah, maka Allah akan membalasnya dengan kebaikan yang berlipat ganda.
Kesimpulan Praktis
Dari hadits ini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:
- Jika kita sedang berpuasa dan dihidangi makanan oleh tuan rumah, kita boleh menolak dengan alasan yang jelas dan santun. Jangan sampai menyinggung perasaan tuan rumah. Ucapkan terima kasih dan jelaskan bahwa kita sedang berpuasa.
- Jika kita menjadi tuan rumah dan tamu kita menolak hidangan karena berpuasa, janganlah berkecil hati. Ini adalah alasan yang sah dan mulia. Doakanlah kebaikan untuk tamu kita.
- Perbanyaklah mendoakan kebaikan untuk orang lain, terutama ketika kita berkunjung ke rumah mereka. Doa ini akan menjadi kebaikan bagi kita dan mereka.
- Jadikanlah rumah kita sebagai tempat yang baik untuk beribadah. Shalat sunnah di rumah adalah sunnah yang dianjurkan, sebagaimana Nabi ﷺ shalat di rumah Ummu Sulaim.
- Yakinlah bahwa doa orang shalih adalah mustajab. Anas bin Malik adalah bukti nyata dari mustajabnya doa Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.