Bab Hijamah dan Muntah bagi Orang yang Berpuasa
حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ سَمِعْتُ ثَابِتًا الْبُنَانِيَّ، يَسْأَلُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ ـ رضى الله عنه ـ أَكُنْتُمْ تَكْرَهُونَ الْحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ قَالَ لاَ. إِلاَّ مِنْ أَجْلِ الضَّعْفِ. وَزَادَ شَبَابَةُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم.
Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas, telah menceritakan kepada kami Syubah, ia berkata: "Saya mendengar Thabit Al-Bunani bertanya kepada Anas bin Malik -semoga Allah meridhoinya-: "Apakah kalian membenci hijamah bagi orang yang berpuasa?" Ia menjawab: "Tidak, kecuali karena kelemahan." Dan Shababah menambahkan: "Telah menceritakan kepada kami Syubah pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam."
☝️ Salin kutipan hadits diatasDonasi operasional website
Rp 10,000
Rp 30,000
Rp 50,000
Rp 100,000
Rp 1,000,000
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang terbaik.” (QS. Saba’/34: 39)
