Penjelasan Hadits Bukhari No. 194 tentang Air wudhu Nabi menyadarkan Jabir yang sakit

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ menjenguk Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu yang sedang sakit berat hingga tidak sadar. Nabi ﷺ berwudhu lalu menuangkan sisa air wudhunya kepada Jabir, sehingga Jabir sadar kembali. Jabir lalu bertanya tentang warisan karena ia tidak memiliki anak dan hanya punya kerabat jauh (kalalah), maka turunlah ayat-ayat tentang warisan (fara'id). Hadits ini menunjukkan keberkahan air wudhu Nabi ﷺ, keutamaan menjenguk orang sakit, dan bahwa Al-Qur'an turun untuk menjawab persoalan nyata umat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait warisan (kalalah):

QS. An-Nisa' [4]: 176

وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي الْكَلَالَةِ ۖ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهَا ۚ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ وَهُوَ يَرِثُهَا إِن لَّمْ يَكُن لَّهَا وَلَدٌ ۚ

Terjemahan: "Mereka meminta fatwa kepadamu tentang kalalah. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah, yaitu jika seorang meninggal dan tidak mempunyai anak, tetapi mempunyai seorang saudara perempuan, maka baginya seperdua dari harta yang ditinggalkan...'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Wudhu, no. 194, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Abu Al-Walid, dari Syu'bah, dari Muhammad bin Al-Munkadir.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya menjenguk orang sakit, dan bahwa sisa air wudhu orang shalih bisa menjadi sebab kesembuhan dengan izin Allah. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menyebutkan bab tentang keberkahan air wudhu Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

1. Keberkahan air wudhu Nabi ﷺ

Para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ menuangkan air wudhunya kepada Jabir adalah bentuk tabarruk (mencari berkah) yang khusus berlaku pada diri Nabi ﷺ. Keberkahan ini tidak bisa disamakan dengan air wudhu orang biasa. Ini menunjukkan kemuliaan fisik dan sisa wudhu Nabi ﷺ sebagai mukjizat dan sebab kesembuhan dengan izin Allah.

2. Menjenguk orang sakit

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan menjenguk orang sakit (ziyarah al-maridh), sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain bahwa menjenguk orang sakit adalah hak seorang Muslim. Imam An-Nawawi menambahkan bahwa menjenguk orang sakit mendatangkan pahala besar dan merupakan sebab doa yang mustajab.

3. Kesadaran Jabir dan pertanyaan tentang warisan

Ketika Jabir sadar, ia langsung bertanya tentang warisan karena saat itu ia hanya memiliki saudara-saudara perempuan dan tidak memiliki anak. Dalam istilah fara'id, kondisi ini disebut kalalah, yaitu seseorang yang meninggal tanpa anak dan tanpa orang tua. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat kalalah (QS. An-Nisa' [4]: 176) turun berkaitan dengan pertanyaan Jabir ini, dan juga ayat-ayat warisan lainnya di awal Surah An-Nisa'.

4. Turunnya ayat fara'id

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Wudhu untuk menunjukkan keberkahan wudhu Nabi ﷺ, namun juga mengandung pelajaran tentang turunnya ayat warisan. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa turunnya ayat fara'id merupakan jawaban langsung dari Allah atas pertanyaan Jabir, menunjukkan betapa Al-Qur'an memperhatikan realitas kehidupan sahabat.

5. Perbedaan pendapat ulama tentang tabarruk

Para ulama dalam daftar yang disebutkan, seperti Ibnu Taymiyyah dan Ibnul Qayyim, menegaskan bahwa tabarruk dengan sisa wudhu Nabi ﷺ adalah kekhususan beliau yang tidak boleh dilakukan pada selain beliau. Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa para sahabat memang bertabarruk dengan air wudhu Nabi ﷺ, namun ini tidak berlaku untuk orang lain setelah beliau. Pendapat ini adalah yang paling kuat berdasarkan dalil.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu pernah sakit keras hingga tidak sadar. Rasulullah ﷺ datang menjenguknya. Beliau berwudhu, lalu menuangkan sisa air wudhunya ke tubuh Jabir. Dengan izin Allah, Jabir pun sadar. Ia langsung bertanya, "Wahai Rasulullah, kepada siapa warisanku akan pergi? Aku hanya memiliki kerabat jauh (kalalah)." Maka turunlah ayat-ayat warisan, termasuk ayat tentang kalalah dalam Surah An-Nisa'. Kisah ini menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada sahabatnya, keberkahan beliau, dan bagaimana Allah menjawab pertanyaan hamba-Nya melalui wahyu. (Sumber: Shahih Al-Bukhari dan Fathul Bari)

Kesimpulan Praktis

  1. Menjenguk orang sakit adalah amal mulia yang dicontohkan Nabi ﷺ dan mendatangkan pahala.
  2. Keberkahan air wudhu Nabi ﷺ adalah kekhususan beliau; kita tidak meniru tabarruk pada selain beliau.
  3. Bertanya tentang ilmu adalah kebiasaan sahabat, dan Allah menjawab melalui wahyu atau sabda Nabi ﷺ.
  4. Mempelajari ilmu fara'id (warisan) adalah kewajiban umat Islam karena menyangkut hak-hak ahli waris.
  5. Meyakini bahwa Al-Qur'an turun untuk menjawab realitas kehidupan sahabat, bukan sekadar teori.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?