Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan kesalahpahaman sahabat 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu tentang makna "benang putih dan benang hitam" dalam ayat puasa. Beliau mengira itu adalah dua utas benang sungguhan, lalu Nabi ﷺ meluruskannya bahwa yang dimaksud adalah kegelapan malam dan cahaya fajar. Hadits ini mengajarkan pentingnya memahami Al-Qur'an sesuai penjelasan Nabi ﷺ dan para ulama, bukan sekadar makna tekstual yang dangkal.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Baqarah [2]: 187
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى الْمَلْيْلِ
"Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam."
Hadits:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Puasa, Bab Firman Allah: "Dan makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam dari fajar..." (HR. Al-Bukhari no. 1916, dari 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu).
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk menjelaskan batas waktu sahur, yaitu terbitnya fajar shadiq (fajar kedua yang menyebar di ufuk). Beliau menukil penafsiran para sahabat dan tabi'in bahwa "benang putih" adalah fajar, dan "benang hitam" adalah malam.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk menetapkan batas waktu bolehnya makan dan minum di malam hari ketika hendak berpuasa. Sebelumnya, para sahabat jika berpuasa, mereka tidak boleh makan setelah tidur malam, meskipun belum masuk waktu subuh. Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai keringanan.
Sahabat 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu, yang berasal dari kalangan yang terbiasa dengan hal-hal konkret, memahami ayat ini secara tekstual. Beliau mengambil dua utas benang, hitam dan putih, lalu meletakkannya di bawah bantal untuk membedakannya. Namun beliau tidak bisa membedakannya sepanjang malam. Keesokan harinya beliau menceritakan hal ini kepada Nabi ﷺ, dan beliau tersenyum atau tertawa (dalam riwayat lain) lalu bersabda: "Sesungguhnya itu hanyalah kegelapan malam dan cahaya siang." Maksudnya, "benang putih" adalah cahaya fajar yang muncul di ufuk timur, dan "benang hitam" adalah sisa kegelapan malam.
Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya merujuk kepada penjelasan Nabi ﷺ dalam memahami Al-Qur'an. Karena makna lahiriah ayat bisa menyesatkan jika tidak dikembalikan kepada sunnah. Beliau juga menyebutkan bahwa 'Adi bin Hatim adalah seorang yang baru masuk Islam, dan ini adalah bentuk kasih sayang Nabi ﷺ dalam mengajarkan agama dengan lembut.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (hadits ini juga diriwayatkan Muslim) menjelaskan bahwa pelajaran dari hadits ini adalah hendaknya seseorang tidak terburu-buru memahami Al-Qur'an hanya dari teksnya, tetapi harus merujuk kepada tafsir Nabi ﷺ dan para sahabat.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin dan Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa batas waktu sahur adalah terbitnya fajar shadiq, yaitu fajar yang cahayanya menyebar di ufuk. Adapun fajar kadzib (fajar pertama yang menjulang ke atas seperti ekor serigala) tidak mengharamkan makan dan minum. Ini adalah pemahaman yang disepakati para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in.
Story Telling
Ada kisah indah tentang ketelitian para ulama dalam memahami ayat ini. Diriwayatkan bahwa Thalhah bin 'Ubaidillah radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya Allah menjadikan fajar sebagai batas antara siang dan malam. Maka barangsiapa yang ragu, hendaknya ia berhati-hati." (Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya).
Juga ada kisah tentang 'Adi bin Hatim sendiri. Beliau adalah seorang pemimpin suku Thayyi' yang terkenal dermawan dan pemberani. Sebelum masuk Islam, beliau adalah seorang Nasrani. Ketika mendengar tentang Nabi ﷺ, beliau awalnya ragu, tetapi setelah melihat akhlak dan kebenaran ajaran beliau, 'Adi pun masuk Islam. Kisah dalam hadits ini menunjukkan bagaimana beliau sangat bersungguh-sungguh dalam memahami perintah Allah, meskipun awalnya keliru. Namun Nabi ﷺ tidak mencela beliau, justru menjelaskan dengan lembut. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk tidak malu bertanya ketika tidak paham, dan bagi para pengajar untuk bersabar dalam menjelaskan.
Kesimpulan Praktis
- Pahami Al-Qur'an dengan bimbingan Nabi ﷺ dan para ulama. Jangan hanya berpegang pada makna tekstual yang dangkal.
- Batas waktu sahur adalah terbitnya fajar shadiq, yaitu cahaya yang menyebar di ufuk timur, bukan sekadar terangnya langit.
- Jika ragu tentang masuknya waktu fajar, lebih berhati-hati dengan menghentikan makan dan minum sebelum waktu yang diyakini.
- Bersungguh-sungguhlah dalam beribadah, seperti 'Adi bin Hatim yang berusaha memahami ayat dengan caranya, meskipun keliru, namun niatnya baik.
- Jangan malu bertanya kepada ulama ketika ada hal yang tidak dipahami dalam agama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.