Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan perhatian besar Nabi ﷺ terhadap kota Madinah, agar tidak kosong dari penduduknya. Beliau juga mengajarkan bahwa setiap langkah kaki menuju masjid akan dicatat sebagai kebaikan dan pahala. Ini adalah dorongan untuk tidak malas berjalan jauh ke masjid, karena justru di situ ada keutamaan besar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan, dengan harakat):
حَدَّثَنَا ابْنُ سَلاَمٍ، أَخْبَرَنَا الْفَزَارِيُّ، عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ، عَنْ أَنَسٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ أَرَادَ بَنُو سَلِمَةَ أَنْ يَتَحَوَّلُوا، إِلَى قُرْبِ الْمَسْجِدِ، فَكَرِهَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ تُعْرَى الْمَدِينَةُ، وَقَالَ " يَا بَنِي سَلِمَةَ. أَلاَ تَحْتَسِبُونَ آثَارَكُمْ ". فَأَقَامُوا.
Makna Ringkas: Bani Salama ingin pindah mendekati masjid Nabawi. Nabi ﷺ tidak suka Madinah menjadi kosong, lalu beliau bersabda, "Wahai Bani Salama, tidakkah kalian mengharap pahala pada langkah-langkah kalian (menuju masjid)?" Maka mereka pun tetap tinggal di tempat mereka.
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ
"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah..." (QS. At-Taubah [9]: 18)
Ayat ini menunjukkan keutamaan orang yang bersungguh-sungguh dalam urusan masjid, termasuk berjalan menuju ke sana.
Kaitan dengan Ulama:
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mempertimbangkan kemaslahatan umum (seperti tidak mengosongkan suatu daerah) dan bahwa pahala berjalan ke masjid semakin besar jika jaraknya semakin jauh.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (dalam riwayat lain) menjelaskan bahwa pahala langkah kaki menuju masjid dihitung berdasarkan banyaknya langkah, bukan jarak tempuh semata.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Bani Salama adalah salah satu kabilah Anshar yang rumahnya agak jauh dari Masjid Nabawi. Mereka berniat pindah ke dekat masjid agar lebih mudah menghadiri shalat berjamaah. Namun, Nabi ﷺ tidak menyetujui keinginan tersebut, bukan karena melarang mereka mendekat ke masjid, tetapi karena beliau tidak ingin Madinah menjadi kosong dari penduduknya di daerah tersebut.
Ada dua pelajaran besar dari hadits ini:
- Perhatian Nabi ﷺ terhadap kemaslahatan kota Madinah. Beliau tidak ingin daerah-daerah di Madinah menjadi sepi dan kosong. Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin atau masyarakat hendaknya memperhatikan kemaslahatan umum, tidak hanya kepentingan pribadi.
- Pahala langkah kaki menuju masjid. Nabi ﷺ mengalihkan perhatian mereka dari keinginan pindah ke keutamaan yang lebih besar: setiap langkah menuju masjid akan dicatat sebagai kebaikan. Ini adalah motivasi agar mereka tetap tinggal dan tidak merasa keberatan dengan jarak yang ada.
Pendapat Ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan tinggal di Madinah dan tidak mengosongkannya. Beliau juga menukil pendapat ulama bahwa pahala langkah kaki ke masjid semakin besar jika jaraknya semakin jauh, karena semakin banyak langkah yang dihitung.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa setiap langkah menuju masjid akan diangkat satu derajat dan dihapus satu kesalahan, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain. Ini adalah karunia Allah yang besar bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh menghadiri shalat berjamaah.
Catatan Penting: Hadits ini tidak berarti Nabi ﷺ melarang pindah dekat masjid secara mutlak. Yang beliau larang adalah mengosongkan daerah Madinah. Adapun pindah dekat masjid di luar Madinah, atau jika ada maslahat lain, maka hal itu diperbolehkan. Namun, yang terbaik adalah tetap tinggal dan mengharap pahala dari setiap langkah yang ditempuh.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa para sahabat sangat bersemangat dalam menghadiri shalat berjamaah di masjid. Di antara mereka ada yang rumahnya jauh, seperti Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang sering berjalan jauh ke masjid. Beliau pernah berkata bahwa ia mendengar Nabi ﷺ bersabda:
"Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk menunaikan shalat fardhu, maka setiap langkahnya menghapus satu kesalahan dan mengangkat satu derajat." (HR. Muslim)
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak mengeluh dengan jarak yang jauh. Justru mereka memandangnya sebagai ladang pahala. Maka, jika kita memiliki masjid yang agak jauh, janganlah itu menjadi penghalang untuk berjamaah. Jadikan setiap langkah sebagai investasi akhirat.
Kesimpulan Praktis
- Jangan mudah pindah meninggalkan daerah yang membutuhkan penduduknya, terutama jika ada maslahat umum yang akan hilang.
- Jadikan jarak ke masjid sebagai ladang pahala, bukan alasan untuk meninggalkan shalat berjamaah.
- Perbanyak niat ikhlas dalam setiap langkah menuju masjid, karena pahala dihitung dari niat dan amal.
- Teladani semangat sahabat yang tetap tinggal di tempat jauh demi mendapatkan pahala langkah kaki.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.