Penjelasan Hadits Bukhari No. 1884 tentang Madinah mengusir orang-orang jahat darinya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan dua hal penting: (1) ketika sebagian orang munafik kembali dari Perang Uhud, sebagian sahabat berselisih apakah mereka harus diperangi atau tidak, lalu turunlah QS. An-Nisa' [4]: 88 sebagai teguran atas perpecahan itu; dan (2) Nabi ﷺ menegaskan bahwa kota Madinah itu suci dan akan mengusir orang-orang jahat darinya, seperti api yang membersihkan kotoran besi. Madinah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi tanah yang Allah jaga, dan kejahatan (kemunafikan) tidak akan betah tinggal di dalamnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. An-Nisa' [4]: 88

فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا ۚ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ ۖ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا

"Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran karena perbuatan mereka sendiri? Apakah kamu hendak memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya kamu tidak akan menemukan jalan (petunjuk) baginya."

Hadits — Shahih Al-Bukhari no. 1884, Kitab Keutamaan Madinah

Hadits ini diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit رضي الله عنه, melalui jalur 'Abdullah bin Yazid, dari 'Adi bin Tsabit, dari Syu'bah, dari Sulaiman bin Harb. Al-Bukhari menempatkannya dalam Kitab Fadha'il al-Madinah, bab bahwa Madinah mengusir orang-orang jahat.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yang kembali dari Uhud dan berpura-pura beriman, lalu kaum mukminin terpecah: sebagian ingin memerangi mereka, sebagian menahan diri.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa tentang keutamaan Madinah) menegaskan bahwa hadits "Madinah mengusir orang jahat" adalah salah satu keutamaan Madinah yang tetap dan berlaku.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya atas QS. An-Nisa' [4]: 88 menerangkan bahwa Allah mencela perpecahan kaum mukminin terhadap orang munafik, karena mereka telah jelas kesesatannya.

Penjelasan Rinci

1. Konteks peristiwa. Ketika Nabi ﷺ berangkat menuju Uhud, sekitar 300 orang munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul berbalik kembali ke Madinah. Mereka bukan sekadar tidak ikut berperang, tetapi pulang dengan alasan yang dibuat-buat. Kaum mukminin pun berselisih: satu kelompok berkata, "Kita perangi mereka," kelompok lain berkata, "Jangan, mereka masih mengucapkan syahadat." Perselisihan ini kemudian ditegur oleh Allah melalui QS. An-Nisa' [4]: 88.

2. Makna teguran ayat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah mencela dua hal: (a) perpecahan kaum mukminin dalam menyikapi orang munafik, dan (b) keinginan sebagian mereka untuk "memberi petunjuk" kepada orang yang sudah jelas kesesatannya. Allah menegaskan bahwa orang yang telah disesatkan-Nya tidak akan mendapat jalan petunjuk, kecuali ia sendiri bertaubat.

3. Makna sabda Nabi ﷺ tentang Madinah. Sabda "Madinah mengusir orang-orang jahat sebagaimana api mengusir kotoran besi" mengandung beberapa makna yang dijelaskan para ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ini adalah berita sekaligus janji Allah: kemunafikan dan kejahatan tidak akan menetap di Madinah. Orang munafik akan tersingkap dan keluar, atau mati dalam keadaan hina.
  • Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa keutamaan ini berlaku umum: siapa pun yang berniat jahat di Madinah, Allah akan mengeluarkannya atau menghinakannya, sebagaimana api memisahkan besi murni dari kotorannya.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari-nya menambahkan bahwa perumpamaan "api dan besi" menunjukkan proses pemurnian: yang buruk dibuang, yang baik tetap dan semakin murni.

4. Perbedaan pendapat di antara ulama daftar. Sebagian ulama (seperti yang dinukil Ibnu Hajar dari sebagian salaf) memahami "orang jahat" di sini khusus pada masa Nabi ﷺ, yaitu orang-orang munafik yang dikenal. Namun jumhur ulama dari daftar — termasuk Ibnu Hajar, an-Nawawi, dan Ibnu Katsir — memahaminya sebagai keutamaan umum Madinah sepanjang zaman. Yang paling kuat adalah pendapat jumhur, karena hadits-hadits lain dalam bab yang sama (misalnya hadits "Madinah adalah tanah haram") menunjukkan keutamaan ini bersifat tetap.

5. Adab yang diajarkan. Hadits ini juga mengajarkan adab dalam menyikapi perbedaan: kaum mukminin tidak boleh cepat saling menyalahkan hingga berpecah, terlebih dalam urusan yang sudah jelas dalilnya. Allah sendiri yang menegur mereka.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa setelah Perang Uhud, suasana Madinah sangat tegang. Sebagian sahabat yang ikut berperang merasa berat melihat orang-orang munafik kembali dengan tenang ke rumah mereka. Di antara mereka ada yang berkata, "Mengapa kita biarkan mereka hidup? Mereka telah mengkhianati kita di medan perang!" Sahabat lain menjawab, "Jangan, mereka masih bersyahadat, kita tidak boleh membunuh mereka." Perselisihan ini sampai kepada Nabi ﷺ, lalu turunlah ayat 88 dari Surah An-Nisa'. Sejak itu, kaum mukminin belajar bahwa keputusan tentang orang munafik bukan urusan mereka, melainkan urusan Allah. Dan Nabi ﷺ menenangkan mereka dengan kabar gembira: Madinah sendiri yang akan mengusir kejahatan dari dalamnya, seperti api membersihkan besi dari karat. (Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.)

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan cepat berpecah dalam menyikapi masalah, terutama yang berkaitan dengan orang yang jelas kesesatannya. Kembalikan urusan kepada Allah dan Rasul-Nya.
  2. Madinah memiliki keutamaan khusus — kejahatan tidak akan betah di dalamnya. Ini menumbuhkan rasa hormat dan cinta kepada kota Nabi ﷺ.
  3. Proses pemurnian itu menyakitkan tetapi perlu — seperti api yang membakar kotoran besi. Begitu pula iman: kadang diuji agar kotorannya hilang.
  4. Tahan diri dari menghakimi orang yang masih menampakkan keislaman; serahkan urusan batin kepada Allah.
  5. Perbanyak doa agar Allah menjauhkan kita dari sifat munafik dan menjadikan kita termasuk orang yang ikhlas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?