Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 1874 tentang Madinah akan ditinggalkan penduduknya di akhir zaman

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan bahwa pada akhir zaman, penduduk Madinah akan meninggalkannya dalam keadaan paling baik, sehingga hanya hewan liar yang tersisa. Dua orang penggembala dari suku Muzaina menjadi manusia terakhir yang mati di sana, saat mereka mendapati Madinah kosong dan jatuh tersungkur di bukit Tsaniyatul Wada'. Ini adalah salah satu tanda kiamat yang menunjukkan keutamaan Madinah dan bahwa ia akan ditinggalkan saat imam Mahdi atau setelahnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Madinah, Bab “Siapa yang Enggan dari Madinah”, no. 1874. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 3373) dengan redaksi yang serupa.

Ayat Al-Qur'an terkait:

QS. Al-Hajj [22]: 7

<p>وَأَنَّ السَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِي الْقُبُورِ</p>

“Dan sesungguhnya hari Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya, dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.”

Ayat ini mengingatkan bahwa peristiwa-peristiwa seperti dalam hadits adalah tanda-tanda pasti datangnya hari kebangkitan.

Hadits terkait:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda: “Madinah adalah tanah suci, maka barangsiapa yang berbuat kejahatan di dalamnya atau melindungi pelaku kejahatan, maka ia akan mendapat laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari no. 1867, Muslim no. 1365). Hadits ini menunjukkan kemuliaan Madinah.

Rujukan ulama:

  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari (4/115) menjelaskan bahwa “yuhsyaru” dalam hadits ini bermakna “meninggal” atau “dikumpulkan di akhirat”, dan beliau merinci bahwa dua penggembala Muzainah adalah manusia terakhir yang meninggal di Madinah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (9/204) menyebutkan bahwa hadits ini termasuk tanda-tanda kiamat, dan Madinah akan kosong pada akhir zaman.
  • Al-Hasan al-Bashri (dalam riwayat Ibn Abi Syaibah) menafsirkan kejadian ini sebagai bagian dari ujian akhir zaman, di mana manusia akan meninggalkan kota suci karena ketidakmampuan menghadapi fitnah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini termasuk dalam berita gaib yang disampaikan Nabi ﷺ tentang masa depan Madinah. Makna umum:

  • “Yutrikūna al-Madīnah ‘alā khayri mā kānat”: Orang-orang akan meninggalkan Madinah padahal ia dalam keadaan paling makmur dan baik. Ini menunjukkan bahwa kepergian mereka bukan karena kekeringan atau bencana, melainkan karena pilihan atau dorongan fitnah akhir zaman. Ibnu Hajar menukil pendapat al-Qurthubi bahwa ketika Dajjal muncul, Madinah akan diguncang dan tidak akan menerimanya, sehingga penduduknya pergi.
  • “Lā yaghsyāhā illā al-‘awāfī”: Yang tinggal hanya al-‘awāfī, yaitu binatang buas dan burung. Dalam riwayat lain (Shahih Muslim) disebut “al-‘awāf” yang berarti hewan liar. Ini menunjukkan Madinah menjadi sepi dari manusia.
  • “Ākharu man yuhsyaru rā‘iyāni min Muzaynah”: Kata yuhsyaru di sini menurut mayoritas ulama (Ibnu Hajar, an-Nawawi) berarti yudfinu atau yamūtu, yaitu meninggal. Atau yuḥsyaru (dikumpulkan di Padang Mahsyar) – tetapi yang tepat adalah meninggal, karena konteksnya tentang keadaan Madinah. Dua penggembala ini adalah orang terakhir yang mati di Madinah.
  • “Yurīdāni al-Madīnah yan‘iqāni bi ghanamihimā”: Mereka menggiring kambing menuju Madinah, tetapi mendapatinya kosong. Kemudian saat sampai di Tsaniyat al-Wadā‘ (sebuah bukit di luar Madinah arah Syam), mereka berdua tersungkur dan mati. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah penutup penghuni Madinah.

Pendekatan ulama: Imam Ahmad bin Hanbal (dalam Musnad) meriwayatkan hadits serupa dan menegaskan bahwa peristiwa ini terjadi setelah fitnah Dajjal dan sebelum kiamat. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam al-Fath (4/115) menjelaskan bahwa dua orang ini adalah orang beriman yang terakhir tinggal di Madinah, lalu mati karena usai tugasnya. Imam al-Bukhari sendiri meletakkan hadits ini dalam bab “Siapa yang Enggan dari Madinah”, menunjukkan bahwa meninggalkan Madinah pada akhir zaman adalah tanda keimanan sebagian orang, tetapi tetap ada yang tinggal hingga akhir.

Story Telling

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, suatu ketika ia duduk bersama para sahabat di Masjid Nabawi. Lalu ia berkata, “Sungguh aku dengar dari Nabi kalian sebuah hadits yang membuatku bergetar. Beliau bersabda tentang Madinah yang akan sepi pada akhir zaman. Dua penggembala dari Muzainah akan menjadi saksi terakhir, mereka berdua tersungkur di Tsaniyatul Wada’.” Para sahabat pun terdiam, merenungkan bahwa kota yang mulia ini suatu saat akan kembali kosong seperti awal penciptaannya. Hal ini mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia fana, dan Allah pasti akan mewariskan bumi ini kepada hamba-hamba-Nya yang saleh.

Hikmah: Cinta kepada kota suci harus dibarengi dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta persiapan menghadapi hari akhir.

Kesimpulan Praktis

  1. Hadits ini menceritakan salah satu tanda kiamat, yaitu Madinah akan ditinggalkan penduduknya setelah mengalami kemakmuran puncak.
  2. Kejadian ini mendorong kita untuk tidak terlalu mencintai duniawi, termasuk kota suci, namun menjadikannya sebagai sarana ibadah.
  3. Dua penggembala Muzainah mengajarkan bahwa kematian bisa datang di tempat yang tidak terduga, sebagaimana mereka meninggal di perjalanan pulang.
  4. Amalkan sunnah-sunnah Madinah, seperti bersabar dalam menghadapi ujian di dalamnya, dan jangan tergesa-gesa meninggalkannya tanpa alasan syar’i.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.