Bab Melempar Jumrah
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ، عَنْ وَبَرَةَ، قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ مَتَى أَرْمِي الْجِمَارَ قَالَ إِذَا رَمَى إِمَامُكَ فَارْمِهْ. فَأَعَدْتُ عَلَيْهِ الْمَسْأَلَةَ، قَالَ كُنَّا نَتَحَيَّنُ، فَإِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ رَمَيْنَا.
Dari Wabra: Saya bertanya kepada Ibn Umar, "Kapan saya harus melempar Jumrah?" Dia menjawab, "Ketika pemimpinmu melakukannya." Saya bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Dia menjawab, "Kami biasa menunggu sampai matahari condong dan kemudian kami melempar Jumrah (yaitu pada tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah)."
☝️ Salin kutipan hadits diatasDonasi operasional website
Rp 10,000
Rp 30,000
Rp 50,000
Rp 100,000
Rp 1,000,000
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang terbaik.” (QS. Saba’/34: 39)
