Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ menghargai pekerjaan mulia para pelayan jamaah haji (penyedia air minum dan pengambil air Zamzam), sampai beliau memuji mereka secara langsung. Hadits ini juga mengajarkan adab memuliakan tamu dan pemimpin, serta kerendahan hati Nabi ﷺ yang ingin ikut bekerja bersama mereka. Namun beliau meninggalkan keinginan itu karena khawatir umatnya nanti saling berebut dan memberatkan diri.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan memuliakan tamu dan amal saleh:
QS. Al-Hajj [22]: 27
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
Terjemahan: "Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh."
Hadits terkait — dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, diriwayatkan Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Haji, Bab Minum untuk Jamaah Haji (no. 1635). Hadits ini juga memiliki riwayat lain yang mendukung maknanya dalam bab-bab tentang siqayah (pelayanan air minum) bagi jamaah haji.
Kaitan dengan ulama: Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan hadits ini dalam Fathul Bari pada bab terkait, bahwa di dalamnya terdapat keutamaan melayani jamaah haji dan keutamaan air Zamzam. Imam an-Nawawi juga menyebutkan dalam Syarh Shahih Muslim tentang keutamaan memberi minum kepada orang lain, terutama di tanah haram.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Ibnu Abbas رضي الله عنهما menceritakan sebuah peristiwa ketika Rasulullah ﷺ berada di dekat tempat minum (siqayah) di area Masjidil Haram. Beliau meminta air. Al-Abbas رضي الله عنه — paman Nabi ﷺ dan pemuka Bani Hasyim — segera memerintahkan anaknya, Al-Fadl, untuk mengambil air dari tempat ibunya (yakni dari rumah, air yang bersih dan terjaga). Namun Nabi ﷺ tetap meminta air yang ada di tempat itu, meskipun Al-Abbas mengingatkan bahwa orang-orang memasukkan tangan mereka ke dalam wadah air tersebut. Nabi ﷺ tetap meminumnya.
Kemudian Nabi ﷺ mendatangi sumur Zamzam, di mana para pekerja sedang sibuk menimba air dan melayani jamaah. Nabi ﷺ bersabda: "Bekerjalah, sesungguhnya kalian sedang berada di atas amal yang saleh." Lalu beliau menambahkan: "Kalau bukan karena khawatir kalian akan dikalahkan (orang lain akan berebut), sungguh aku akan turun dan meletakkan tali ini di pundakku (untuk ikut menimba air)."
Pemahaman ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa faedah:
- Keutamaan melayani jamaah haji, khususnya menyediakan air minum (siqayah), yang merupakan salah satu bentuk amal saleh yang mulia.
- Nabi ﷺ memuji pekerjaan tersebut secara langsung, yang menunjukkan bahwa pekerjaan fisik yang dilakukan untuk kemaslahatan jamaah haji memiliki nilai ibadah yang tinggi.
- Sikap Nabi ﷺ yang tetap meminum air dari wadah umum meskipun ada tangan orang lain di dalamnya menunjukkan toleransi dan tidak memberatkan umat.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan air Zamzam dan keutamaan memberi minum kepada orang lain. Beliau juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ meninggalkan keinginan untuk ikut menimba air karena beliau tidak ingin memberatkan umatnya, dan karena beliau tahu bahwa jika beliau melakukannya, orang-orang akan berebut untuk menggantikan beliau, sehingga justru menimbulkan kesulitan.
- Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menyebutkan bahwa amal-amal yang berkaitan dengan pelayanan jamaah haji, seperti siqayah dan rifadah (memberi makan), adalah amal yang disyariatkan dan memiliki keutamaan, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.
- Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa peristiwa ini menunjukkan kerendahan hati Nabi ﷺ dan keinginan beliau untuk ikut serta dalam pekerjaan yang mulia, namun beliau meninggalkannya karena pertimbangan maslahat yang lebih besar, yaitu menghindari fitnah dan persaingan yang tidak sehat di antara umat.
Perbedaan pendapat: Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama daftar mengenai makna hadits ini. Semua sepakat bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan melayani jamaah haji dan keutamaan air Zamzam.
Story Telling
Ibnu Abbas رضي الله عنهما — yang saat itu masih muda — menyaksikan sendiri bagaimana pamannya, Al-Abbas, begitu antusias ingin menyuguhkan air terbaik untuk Rasulullah ﷺ. Al-Abbas bahkan memerintahkan anaknya, Al-Fadl, untuk mengambil air dari rumah, air yang bersih dan tidak tersentuh tangan orang banyak. Namun Rasulullah ﷺ dengan lembut tetap memilih air yang ada di tempat itu, meskipun Al-Abbas mengingatkan bahwa banyak tangan telah menyentuhnya. Ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ tidak ingin memberatkan dan tidak ingin menolak kebaikan yang sudah ada.
Kemudian, ketika Nabi ﷺ melihat para pekerja di sumur Zamzam sibuk menimba air dan melayani jamaah, beliau tidak hanya diam. Beliau memuji mereka: "Bekerjalah, sesungguhnya kalian berada di atas amal yang saleh." Bayangkan betapa besar semangat para pekerja itu mendengar pujian langsung dari Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ bahkan ingin turun dan ikut menimba air, meletakkan tali di pundaknya. Namun beliau menahan diri karena khawatir umatnya nanti akan saling berebut dan memberatkan diri.
Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fathul Bari bahwa peristiwa ini terjadi pada saat haji, dan menunjukkan betapa Nabi ﷺ memperhatikan kondisi para pekerja dan memberikan motivasi kepada mereka. Ini adalah pelajaran bagi kita semua bahwa pekerjaan melayani orang lain — terutama jamaah haji — adalah amal yang sangat mulia.
Kesimpulan Praktis
- Melayani jamaah haji adalah amal saleh yang mulia. Jika kita diberi kesempatan untuk membantu, melayani, atau menyediakan kebutuhan jamaah haji, jangan anggap remeh. Itu adalah amal yang dipuji langsung oleh Nabi ﷺ.
- Tidak memberatkan diri dan orang lain. Nabi ﷺ meninggalkan keinginan baiknya (ikut menimba air) karena khawatir menimbulkan kesulitan bagi umatnya. Ini mengajarkan kita untuk mempertimbangkan maslahat yang lebih besar.
- Memuliakan tamu dan pemimpin. Al-Abbas menunjukkan adab yang tinggi dengan berusaha menyuguhkan yang terbaik untuk Nabi ﷺ. Ini contoh bagi kita dalam memuliakan tamu dan orang-orang saleh.
- Tidak berlebihan dalam beragama. Nabi ﷺ tetap meminum air dari wadah umum meskipun ada tangan orang lain di dalamnya, menunjukkan bahwa Islam tidak memberatkan dan tidak berlebihan dalam masalah kebersihan yang masih dalam batas wajar.
- Semangat bekerja dalam kebaikan. Para pekerja Zamzam mendapat pujian langsung dari Nabi ﷺ. Maka jangan malas dalam melayani kebaikan, terutama yang berkaitan dengan ibadah haji dan umrah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.